Pengajian BKS SD Muhammadiyah Kota Yogya Refleksi Keteladanan Rasulullah dan Harmoni Keluarga
YOGYAKARTA — Badan Kerja Sama (BKS) SD Muhammadiyah Kota Yogyakarta menggelar Pengajian Guru dan Karyawan SD Muhammadiyah se-Kota Yogyakarta dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad ﷺ. Pengajian berlangsung di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, Kamis (3/9), pukul 12.30–15.00 WIB.
Pengajian diawali dengan tartil Al-Qur’an yang dibawakan oleh murid SD Muhammadiyah Karangwaru. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua BKS SD Muhammadiyah Kota Yogyakarta, H. Saijan, S.Ag.
Dalam sambutannya, Saijan menyampaikan apresiasi atas perkembangan pendidikan di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Ia menyoroti berbagai capaian sekolah dasar Muhammadiyah yang mampu menunjukkan prestasi di tingkat nasional.
Ia menyebut, dari 10 SD terbaik di Indonesia yang disampaikan dalam kesempatan tersebut, enam di antaranya merupakan sekolah Muhammadiyah. Dua di antaranya bahkan berasal dari Kota Yogyakarta.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta, H. Aris Madani, mengingatkan agar pengajian tidak sekadar dipandang sebagai agenda rutin. Menurutnya, pengajian harus menjadi wasilah untuk memperoleh hidayah sekaligus memperkuat keislaman dan keimanan.
“Ketika kita mengikuti pengajian-pengajian yang kita ikuti, semoga menjadi wasilah masuknya hidayah dan menguatnya keislaman serta keimanan kita,” tuturnya.
Memasuki acara inti, tausiah disampaikan oleh Dr. H. Khoiruddin Bashori, M.Si., dosen Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Dalam tausiah bertema keteladanan Rasulullah ﷺ, yang akrab disapa Pak Irud, ia mengajak para guru dan karyawan menjadikan Rasulullah sebagai teladan dalam menjalani kehidupan secara utuh.
Menurutnya, terdapat tiga pendekatan penting dalam memahami Islam, yakni bayani, irfani, dan burhani. Ketiganya perlu dipadukan agar pemahaman terhadap ajaran Islam menjadi lebih menyeluruh.
Ia kemudian mengingatkan bahwa Al-Qur’an menyebut Rasulullah ﷺ sebagai Uswatun Hasanah, yakni teladan yang baik. Keteladanan tersebut tidak hanya terlihat dalam aspek ibadah, tetapi juga dalam kehidupan sosial, pekerjaan, dan keluarga.
“Rasulullah itu paket lengkap,” ungkapnya.
Dalam perspektif psikologi, Khoiruddin menjelaskan bahwa keseimbangan kehidupan atau work-life balance tidak hanya ditandai oleh keberhasilan seseorang dalam pekerjaan, tetapi juga kemampuannya membangun kehidupan pribadi dan keluarga yang sehat.
Menurutnya, tidak sedikit orang yang memiliki karier dan pekerjaan yang baik, tetapi justru menghadapi persoalan dalam kehidupan keluarganya. Karena itu, keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga perlu dibangun dengan meneladani kehidupan Rasulullah ﷺ.
Salah satu bagian yang menarik perhatian peserta adalah pembahasan mengenai keharmonisan keluarga. Khoiruddin menekankan pentingnya membangun hubungan suami istri berdasarkan sikap saling menghargai dan menghormati atau mutual respect.
Ia menjelaskan, komunikasi dalam keluarga tidak cukup hanya bersifat informatif dan formal. Komunikasi juga perlu mengandung unsur afektif melalui ekspresi perasaan, seperti kasih sayang, perhatian, dan kerinduan.
Keteladanan Rasulullah ﷺ dalam kehidupan bersama para istrinya, menurutnya, menunjukkan bahwa kasih sayang dapat diekspresikan melalui berbagai hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
“Jangan selalu menggunakan bahasa yang formal saat berkomunikasi dengan pasangan. Gunakan juga bahasa yang romantis,” pesannya.
Ia menambahkan, keluarga yang kokoh membutuhkan kepuasan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari finansial, psikologis, hingga hubungan antarpasangan.
Dalam kesempatan tersebut, Khoiruddin juga menguraikan makna sakinah, mawaddah, dan rahmah sebagai fondasi kehidupan keluarga.
Sakinah, jelasnya, bukan sekadar kondisi tanpa masalah, melainkan ketenangan yang bersifat dinamis. Ketika persoalan atau konflik muncul, keluarga yang memiliki sakinah mampu mencari solusi dan kembali membangun ketenangan.
Adapun mawaddah dimaknai sebagai cinta yang memiliki syarat atau conditional love, sedangkan rahmah merupakan welas asih dan cinta sejati atau unconditional love.
Ia mengingatkan bahwa dalam kehidupan berkeluarga, seseorang terkadang justru kesulitan mensyukuri pasangan yang telah dimilikinya. Karena itu, rasa syukur dan kesetiaan perlu terus dirawat.
“Setia itu lebih berharga,” tegasnya.
Lebih lanjut, Khoiruddin mengingatkan pentingnya menutup setiap peluang yang berpotensi mengganggu keharmonisan keluarga. Ketika muncul kesempatan atau situasi yang dapat membawa seseorang pada hal-hal yang tidak baik, menurutnya, peluang tersebut harus segera ditutup.
Prinsip itu sejalan dengan pesan “Qul amantu billah tsumma istaqim”, yakni beriman kepada Allah kemudian beristiqamah.
Ia juga menekankan pentingnya membangun komitmen keagamaan dalam keluarga. Aktivitas ibadah dapat dilakukan bersama, seperti salat malam, puasa, dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya.
Selain itu, keluarga perlu memiliki skala prioritas dan jadwal rutin agar berbagai aspek kehidupan, mulai dari pekerjaan, keluarga, ibadah, hingga aktivitas lainnya, dapat berjalan secara seimbang.
Pengajian BKS SD Muhammadiyah se-Kota Yogyakarta menjadi momentum bagi para guru dan karyawan untuk kembali merefleksikan keteladanan Rasulullah ﷺ, khususnya dalam membangun kehidupan yang seimbang.
Keteladanan Rasulullah tidak hanya relevan dalam aspek ibadah, tetapi juga dalam membangun komunikasi yang hangat, menjaga keharmonisan keluarga, menghargai pasangan, mengatur waktu, serta menjaga komitmen terhadap nilai-nilai agama.
Melalui kegiatan tersebut, BKS SD Muhammadiyah Kota Yogyakarta berharap semangat Maulid Nabi Muhammad ﷺ dapat diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam menjalankan amanah sebagai pendidik maupun dalam membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow