Mengasah Kompetensi Muballighat ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta untuk Tabligh yang Menggerakkan

Mengasah Kompetensi Muballighat ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta untuk Tabligh yang Menggerakkan

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Di tengah derasnya arus informasi dan beragamnya pilihan kajian di era digital, muballighat ‘Aisyiyah dituntut tidak hanya menguasai materi dakwah, tetapi juga mampu menyampaikannya secara menarik, mudah dipahami, membekas, dan menggerakkan jamaah untuk mengamalkannya dalam kehidupan nyata.

Semangat fastabiqul khairat menjadi salah satu pemicu bagi para muballighat ‘Aisyiyah untuk terus berbenah dan meningkatkan kualitas dakwah. Namun, upaya tersebut tetap berpijak pada nilai-nilai pencerahan Islam Berkemajuan.

Hal itu menjadi perhatian Majelis Tabligh dan Ketarjihan (MTK) Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kota Yogyakarta. Untuk meningkatkan kompetensi metodologis para muballighat, MTK PDA Kota Yogyakarta menggelar kajian bertajuk “Teknik Berbicara dan Mengolah Kata yang Menarik, Membekas, dan Menggerakkan.”

Pelatihan tersebut berlangsung dalam agenda PCAK (Pertemuan Cabang ‘Aisyiyah se-Kota Yogyakarta) Majelis Tabligh dan Ketarjihan pada Sabtu (12/9/2026) di Aula Gedung Muhammadiyah Kota Yogyakarta, Jalan Sultan Agung Nomor 14, Yogyakarta. Diikuti Pimpinan dan Anggota MTK PDA Kota Yogyakarta, Pimpinan MTK Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA), serta para muballighat ‘Aisyiyah se-Kota Yogyakarta.

Ketua MTK PDA Kota Yogyakarta, Dra. Hj. Mulyani Munir, dalam sambutan dan pengarahannya menegaskan pentingnya menjaga semangat keilmuan sekaligus amal dalam gerakan dakwah.

“Kita semua adalah para Muballighat ‘Aisyiyah, harus terus merawat semangat berilmu dan beramal dalam gerakan dakwah pencerahan, bahagia menebar kegembiraan, tanpa lelah dan keluh kesah apalagi kebencian, terus bergerak dan berdampak,” tegas Mulyani.

Menurutnya, gerakan dakwah ‘Aisyiyah merupakan gerakan masa depan yang ia sebut sebagai “Gerakan Menuju Surga.” Karena itu, kualitas dan keberanian muballighat dalam menyampaikan pesan dakwah perlu terus diperkuat, terutama ketika berhadapan langsung dengan umat di akar rumput.

Ia menilai kemampuan public speaking menjadi salah satu kompetensi penting yang harus terus diasah. Dengan kemampuan berbicara yang baik, muballighat diharapkan semakin percaya diri dan mampu menghadirkan dakwah yang dekat dengan kebutuhan jamaah.

Materi “Teknik Berbicara dan Mengolah Kata yang Menarik, Membekas, dan Menggerakkan” disampaikan Dr. Adib Sofia, S.S., M.Hum., Wakil Ketua MTK PP ‘Aisyiyah.

Adib yang juga Ketua Yayasan Suara ‘Aisyiyah menjelaskan bahwa dunia dakwah saat ini diwarnai semakin banyaknya pemateri pengajian dengan beragam sebutan, mulai dari ustaz/ustazah, dai/daiyah, hingga muballigh/muballighat.

Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, lanjutnya, memilih istilah muballigh dan muballighat karena tabligh memiliki karakter khusus. Tabligh bukan sekadar menyampaikan informasi, ilmu, atau materi dakwah, tetapi harus menghasilkan atsar atau kesan yang membekas, sekaligus mampu menggerakkan jamaah dan masyarakat.

“Materi itu harus membekas, memiliki atsar dan menggerakkan, berdampak, sekaligus bisa menjadi penggerak dan teladan bagi jamaah dan masyarakat luas,” jelas Adib.

Ketua Asosiasi Sosiologi Agama Indonesia (ASAI) tersebut juga menekankan pentingnya membangun kesan pertama ketika bertabligh. Menurutnya, pembukaan pengajian perlu dirancang sedemikian rupa agar mampu menarik perhatian sekaligus memusatkan fokus audiens.

“Kesan pertama dalam bertabligh perlu diramu dan dipersiapkan dengan baik, dengan teknik memusatkan audiens seperti dengan game, lagu, atau yang lainnya. Selain menjadi daya tarik, juga membuat jamaah menjadi lebih fokus,” ujarnya.

Adib menambahkan, sebelum masuk pada inti materi dengan rujukan-rujukan yang autentik sebagaimana semangat ketarjihan, muballighat perlu mengaitkan materi dengan persoalan dan problematika yang tengah dihadapi masyarakat.

Pendekatan tersebut, menurutnya, dapat membuat jamaah merasa dilibatkan sekaligus menjadi jembatan untuk mengantarkan mereka memahami materi dakwah secara lebih tepat.

“Hal-hal semacam ini perlu kita ramu agar kemasan dakwah semakin menarik dan kualitas pencerahan tetap tersampaikan,” katanya.

Ia menyebut strategi tersebut sekaligus menjadi jawaban atas kritik bahwa pengajian Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah terlalu serius. Menurutnya, keseriusan dalam menyampaikan pesan keislaman tidak harus menghilangkan kreativitas dalam mengemas dakwah.

“Untuk menjawab kritikan bahwa pengajian kita terlalu serius, perlu strategi yang menarik, termasuk kebesaran hati untuk terus mengevaluasi diri, tidak baperan apalagi mutungan,” pesannya.

Dengan penguatan kompetensi tersebut, para muballighat ‘Aisyiyah diharapkan mampu menghadirkan tabligh yang tidak hanya kaya secara keilmuan, tetapi juga komunikatif, menggembirakan, membekas, dan pada akhirnya mampu menggerakkan jamaah dalam kehidupan sehari-hari.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow