Lukisan Jadi Doa: Maestro Kaligrafi Muhammadiyah Galang Dana untuk Sumatra
SLEMAN — Air mata itu jatuh bahkan sebelum ia sempat menyekanya saat menonton layar televisi yang menayangkan berita bencana nasional berupa banjir dan tanah longsor di tiga provinsi, Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Dalam ruang kerjanya yang sederhana di Gamping Kidul, Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, maestro kaligrafi Indonesia Syaiful Adnan tak sanggup menahan duka ketika melihat kampung halamannya di Saniangbaka, Solok, Sumatra Barat, luluh lantak dihantam banjir dan tanah longsor.
Rumah-rumah habis tersapu, tanah merekah, dan puluhan ribu warga kehilangan tempat kembali. Namun bagi Syaiful, ada luka yang jauh lebih personal: surau tempat ia belajar melukis ketika kecil hilang tak bersisa. Rumah Gadang tempat keluarga besarnya berkumpul pun tinggal cerita.
“Saya hanya bisa menangis… Itu kampung saya, tempat saya tumbuh. Kuasa Allah,” ujarnya lirih, mengingat tayangan di televisi dan media sosial yang membuatnya untuk pertama kali merasa benar-benar kehilangan.
Beberapa hari sebelum bencana terjadi, Syaiful baru menyelesaikan sebuah kaligrafi besar, yakni surat Ar-Rum ayat 41. Ayat yang berbicara tentang kerusakan di darat dan laut akibat ulah manusia, dan bagaimana Allah mengingatkan manusia agar kembali pada jalan yang benar.
“Seolah ayat itu bicara sendiri,” ujarnya.
Ayat tersebut, yang kini terbingkai di studionya, menjadi titik balik. Tanpa banyak bicara, ia berazzam melelang kaligrafi tersebut, bersama sejumlah karya lainnya untuk membantu korban bencana Sumatra Barat. Hasil lelang sepenuhnya akan ia donasikan melalui LAZISMU dan penggalangan dana ini dipercayakan kepada jogjaauction by Dini Mediapro.
Bagi Syaiful, kaligrafi bukan hanya seni. Ia adalah doa yang ditulis dengan tinta. Ia adalah pengingat yang menggantung di dinding rumah, kantor, atau hati siapa pun yang melihatnya.
“Kaligrafi itu, kalau dikoleksi, insya Allah membawa manfaat dunia–akhirat,” katanya. “Apalagi jika dibeli untuk membantu saudara kita yang sedang ditimpa musibah, berkahnya berlipat-lipat," lanjut Syaiful.
Perantau Minang yang datang ke Yogyakarta pada 1973 untuk belajar di ASRI (kini ISI Yogyakarta) itu percaya, kesedihan dapat berubah menjadi energi kebaikan. Ia yakin banyak seniman lain, khususnya yang berasal dari Sumatra Barat akan tergerak melakukan hal serupa.
“Saya mengajak sahabat-sahabat seniman… Kita punya cara sendiri untuk membantu. Sekecil apa pun akan memberi manfaat dan mendapatkan rida Allah,” tutur pelukis kidal yang pernah aktif di Lembaga Seni Budaya (LSB) PP Muhammadiyah ini.
Beberapa karya yang disiapkan Syaiful untuk dilelang antara lain:
- Kaligrafi Ar-Rum 41 (150 × 150 cm)
- Kaligrafi Alam Nasrah (150 × 150 cm)
- Kaligrafi Hanya Kepada-Nya (150 × 150 cm)
- Kaligrafi Yang Maha Kuasa (150 × 150 cm)
Serta sepuluh lukisan kaligrafi ukuran kecil lainnya. Setiap lukisan diberi harga dari Rp5 juta sampai Rp80 juta. Informasi lebih lanjut terkait pelelangan bisa menghubungi kontak manajemen Dini Mediapro melalui nomor WhatsApp 081904089999.
Setiap goresan tinta mengandung duka, cinta, dan harapan bahwa dari sebuah kanvas, kehidupan para penyintas di Sumatra Barat, serta Aceh dan Sumatra Utara bisa kembali berdiri.
What's Your Reaction?
-
2
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow