KRAMAT Bantul: Muslim Harus Bermental Kaya

KRAMAT Bantul: Muslim Harus Bermental Kaya

Smallest Font
Largest Font

BANTUL – KRAMAT atau Kajian Rabu Malam Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Bantul pada Rabu (8/9) menghadirkan pembicara Ustadz Irfan Hidayat, M.M. Umumnya kata “MM” di belakang nama adalah gelar magister management, tapi tidak bagi Ustadz Irfan. Dalam kajian tersebut ia mengaku, dua huruf kapital itu juga gelar tapi jauh dari magister. MM, katanya, adalah singkatan dari marbot masjid.

Materi kajian hari ini memang serius tapi disampaikan secara santai, bahkan beberapa kali memberikan joke segar. “Nggak jadi pengusaha itu…bid’ah!” Kutipan ini adalah salah satunya. Pada kajian yang diikuti 50 peserta, Ustadz Irfan tidak sedang mengarahkan kata “bid’ah” seperti pemahaman pada umumnya.

Kutipan kalimat tadi, aku Irfan, “diambil” dari pernyataan Ustadz Jazir. Jika seorang muslim tidak menjadi pedagang berarti ia tidak mencontoh Nabi Muhammad SAW, karena Nabi adalah pedagang. Tapi, bid’ah dalam konteks ini tidak mengarah pada perbuatan yang mengakibatkan dosa. “Ini hanya sebagai nyentrik-nyentrikan kita aja, biar nggak ngantuk,” katanya.

KRAMAT adalah kajian yang sudah rutin diadakan sejak tahun 2017. Selama situasi pandemi Covid-19 dilaksanakan secara daring melalui zoom dan disiarkan live di YouTube selepas Isya’.

Ustadz Irfan mengawali dengan QS At-Taubah ayat 20, yang artinya, “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.”

Dari ayat tersebut, maka orang-orang yang mengaku dirinya beriman seharusnya tergerak memanfaatkan hartanya untuk berjuang di jalan Allah SWT.

Menurut owner Soto Sumringah dan CateringSoto.COM ini, seorang muslim haruslah bermental kaya, yaitu punya orientasi untuk selalu mau memberi. Dimana pun dan kapan pun selalu berpikir apa yang bisa diberikan untuk orang lain. Sebaliknya, orang bermental miskin akan selalu memikirkan keuntungan yang didapatkan.

Belajar dari rentang usia Rasulullah SAW, ia menyampaikan fase hidup manusia. Lahir hingga berusia 20 tahun, masuk dalam golongan remaja dan memiliki peran untuk belajar. Rentang usia 21-40 tahun, golongan muda dan punya peran untuk berkarya. Usia 41-60 tahun, beranjak ke golongan tua dengan peran dakwah. Usia 61 tahun ke atas orientasinya adalah menabung untuk akhirat.

Usaha-usaha bisnis yang dilakukan harusnya tidak terlepas dari peran dakwah. Menurut alumni Pondok Pesantren Budi Mulia ini, “Menjadi businessman punya peran vital dalam dakwah.” Sebagaimana pada saat Islam masuk ke bumi nusantara, awalnya agama tersebut dikenalkan oleh para pedagang asing dari India, Cina, Arab, dan sebagainya.

Ustadz Irfan menyampaikan tiga langkah untuk menentukan jenis bisnis.

Pertama, mengetahui passion. Ketika mengerjakan hal itu, akan semakin bersemangat dan tidak mudah patah semangat walaupun tidak dapat uang.

Kedua, mengasah skill sesuai kebutuhan.

Ketiga, menganalisa kebutuhan pasar. Jika seseorang ingin berbisnis, perlu mengetahui yang sedang dibutuhkan oleh orang-orang yang akan menjadi target pembelinya. Apakah mereka akan tertarik untuk membeli barang dagangannya?

“Bisnis terbaik adalah bisnis yang dimulai,” tegasnya. Bukan hanya wacana yang cuma diomong-omongkan, tapi tidak ada tindakan. (*)

Wartawan: Ahimsa
Editor: Heru Prasetya

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow