Ketua Umum ‘Aisyiyah: Lulusan Perguruan Tinggi Harus Adaptif dan Bermanfaat

Ketua Umum ‘Aisyiyah: Lulusan Perguruan Tinggi Harus Adaptif dan Bermanfaat

Smallest Font
Largest Font

SLEMAN — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah, menegaskan bahwa wisuda bukan akhir dari perjalanan pendidikan, melainkan awal memasuki kehidupan yang lebih mandiri dan penuh tanggung jawab. Pesan itu disampaikan dalam Sidang Terbuka Senat Wisuda Periode ke-26 Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta di Convention Hall Masjid Walidah Dahlan, Kampus Terpadu UNISA Yogyakarta, Gamping, Sleman, Kamis (16/4).

Dalam amanatnya, Salmah mengucapkan selamat kepada para lulusan yang telah menyelesaikan pendidikan sekitar empat tahun. Ia mengingatkan bahwa setelah lulus, para wisudawan akan menghadapi persaingan yang lebih luas di tengah masyarakat.

“Setelah ini, ananda semua akan memasuki kompetisi yang lebih luas. Saatnya menyebarkan manfaat dari ilmu yang telah dipelajari,” ujarnya.

Menurut Salmah, ilmu pengetahuan yang diperoleh selama kuliah harus diwujudkan dalam tindakan nyata dan memberi manfaat bagi sesama, bukan sekadar menjadi bekal pribadi. Ia menilai lulusan perguruan tinggi perlu hadir sebagai bagian dari solusi atas persoalan masyarakat dan bangsa.

Momentum wisuda yang berdekatan dengan peringatan Hari Kartini pada 21 April juga menjadi bagian dari refleksi yang disampaikan. Salmah menuturkan bahwa Kartini tidak hanya dikenal karena gagasan emansipasi perempuan, tetapi juga memiliki semangat religius yang kuat.

Ia menjelaskan, Kartini memperoleh pencerahan setelah mengikuti pengajian yang diasuh Kiai Soleh Darat, yang mengajarkan makna ayat-ayat Al-Qur’an. Pemahaman itu, menurutnya, menjadi salah satu titik penting dalam cara pandang Kartini terhadap pendidikan dan kemajuan perempuan.

Selain Kartini, Salmah juga menyinggung peran Nyai Ahmad Dahlan atau Siti Walidah sebagai tokoh perempuan yang berjuang melalui gerakan terorganisasi dan berkelanjutan. Menurutnya, perjuangan kedua tokoh tersebut saling melengkapi dalam mendorong kemajuan perempuan Indonesia.

Ia menekankan bahwa pendidikan tetap menjadi fondasi utama emansipasi perempuan. Karena itu, para lulusan diminta terus memperkuat keilmuan, keimanan, dan pengabdian di tengah masyarakat.

Dalam menghadapi perubahan zaman, Salmah menyebut tiga kompetensi penting yang perlu dimiliki lulusan. Pertama, kompetensi teknis seperti literasi digital dan kemampuan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI). Kedua, kompetensi perilaku seperti etika, berpikir kritis, kolaborasi lintas disiplin, dan kemampuan memecahkan masalah. Ketiga, kemampuan belajar berkelanjutan serta berinovasi, termasuk penguasaan analisis data dan manajemen sumber daya manusia.

Dengan bekal tersebut, ia berharap lulusan UNISA Yogyakarta mampu bersaing sekaligus memberi kontribusi nyata di berbagai bidang.

Di akhir sambutannya, Salmah juga mengapresiasi berbagai capaian yang diraih UNISA Yogyakarta, baik pada tingkat institusi maupun civitas akademika. Ia mendorong kampus tersebut terus meningkatkan mutu agar kepercayaan masyarakat semakin kuat.

“Prestasi bukan hanya menjadi kebanggaan bagi perguruan tinggi, tetapi juga merupakan kekuatan strategis yang menentukan mutu, kepercayaan masyarakat, dan masa depan institusi yang kita bangun bersama,” katanya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow