KAMASTU AMM DIY Spesial Bahas Palestina: Solusi Militer atau Diplomasi?

KAMASTU AMM DIY Spesial Bahas Palestina: Solusi Militer atau Diplomasi?

Smallest Font
Largest Font

YOGYA – Krisis kemanusiaan yang berkepanjangan di Palestina menjadi sorotan utama dalam Kajian Malam Sabtu (KAMASTU) bertajuk Pekan Spesial Palestina yang digelar Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY pada Jumat malam, 20 Juni 2025, di Aula PWM DIY. Acara ini digelar sebagai bentuk solidaritas dan komitmen intelektual terhadap perjuangan rakyat Palestina yang telah berlangsung lebih dari tujuh dekade.

Mengusung tema "Antara Penyelesaian Secara Militer dan Diplomasi Perdamaian Palestina," kajian ini menghadirkan pembicara utama Hasbi Aswar, Ph.D., dosen Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia (UII), yang dikenal sebagai peneliti isu politik global dan Timur Tengah.

Kajian dimoderatori oleh Hizba Muhammad A., S.Pd., M.Pd., akademisi sekaligus aktivis diskusi kebangsaan. Ia membuka ruang dialog yang kritis dan terbuka antara narasumber dan peserta.


Konflik Kompleks, Bukan Sekadar Isu Agama

Dalam pemaparannya, Hasbi Aswar menyebut konflik Palestina sebagai persoalan multidimensi yang tidak bisa dilihat hanya dari kacamata agama. Ia menjelaskan bahwa akar persoalan dimulai sejak runtuhnya Kekhalifahan Utsmaniyah, deklarasi Balfour tahun 1917, hingga pendirian negara Israel tahun 1948 yang disusul dengan pengusiran dan penjajahan terhadap warga Palestina.

“Konflik Palestina bukan semata konflik agama, tapi soal penindasan, pelanggaran HAM, dan ketimpangan kekuasaan global,” tegas Hasbi.

Ia memetakan dua pendekatan utama yang selama ini digunakan: militer dan diplomasi. Menurutnya, pendekatan militer yang dilakukan oleh kelompok perlawanan seperti Hamas dan Brigade Al-Qassam merupakan bentuk respons terhadap agresi Israel, meski sering memicu eskalasi kekerasan yang menelan banyak korban jiwa, termasuk warga sipil.

Di sisi lain, pendekatan diplomatik melalui resolusi PBB, perundingan damai, atau inisiatif negara-negara Arab dinilai belum efektif. Salah satu hambatan utamanya adalah keberpihakan negara adidaya, seperti Amerika Serikat, yang kerap menggunakan hak veto untuk melindungi kepentingan Israel.

“Diplomasi tidak akan berhasil jika tidak ada konsensus moral global yang kuat,” ujar Hasbi.

Hasbi juga menyoroti ketimpangan besar antara Israel yang memiliki kekuatan militer dan teknologi tinggi, serta dukungan internasional, dengan Palestina yang terisolasi, miskin, dan bergantung pada simpati dunia. Kebijakan Israel yang terus memperluas pemukiman ilegal dan memblokade Gaza menjadi bukti bahwa penjajahan masih berlangsung secara sistematis.

Ia mengajak peserta untuk tidak terjebak dalam propaganda yang bias dan mulai melihat konflik ini sebagai isu kemanusiaan yang menuntut solidaritas lintas agama dan bangsa.


Peran Generasi Muda dan Gerakan Informasi

Dalam penutupnya, Hasbi menegaskan bahwa umat Islam—terutama generasi muda—harus terus bersuara dan mengedukasi publik. Bentuk solidaritas tidak hanya melalui aksi turun ke jalan, tapi juga melalui penyebaran informasi yang benar, advokasi digital, hingga partisipasi dalam gerakan kemanusiaan.

“Solidaritas kita bisa dimulai dari hal sederhana: membagikan informasi yang objektif, menolak propaganda, dan memberi tekanan moral terhadap pemerintah dan lembaga internasional,” katanya.


Dialog Hangat, Seruan Moral untuk Perubahan

Diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung hangat. Peserta mempertanyakan efektivitas diplomasi internasional, peran negara-negara Arab, dan strategi jangka panjang yang bisa ditempuh untuk menghentikan penjajahan Israel.

Moderator menutup dengan merangkum poin-poin utama bahwa penyelesaian konflik Palestina memerlukan lebih dari sekadar kekuatan senjata atau meja negosiasi. Diperlukan tekanan kolektif global yang konsisten dan kesadaran moral dari umat manusia.

Kajian ini dihadiri lebih dari 25 peserta, mulai dari mahasiswa, aktivis, akademisi, hingga masyarakat umum. Kegiatan ini menjadi ruang reflektif sekaligus edukatif dalam memperkuat posisi umat Islam Indonesia terhadap perjuangan rakyat Palestina.

Panitia mengucapkan terima kasih atas partisipasi seluruh peserta dan berharap kajian ini menjadi pemicu semangat untuk terus mendukung perjuangan kemanusiaan di Palestina—melalui ilmu, dakwah, dan aksi nyata.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow