Kader 'Aisyiyah Bawa Gagasan Pendidikan Keperawatan Berkemajuan ke Forum Global di India

Kader 'Aisyiyah Bawa Gagasan Pendidikan Keperawatan Berkemajuan ke Forum Global di India

Smallest Font
Largest Font

JAIPUR — Perempuan 'Aisyiyah terus memperluas kiprahnya di ruang akademik dan forum internasional. Zubaida Rohmawati, S.Kep., Ns., MPH, dosen Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA Yogyakarta) sekaligus anggota 'Aisyiyah, menjadi pembicara dalam Global Nursing Summit (GNS) 2026 yang berlangsung di Rajasthan International Centre, Jaipur, India, pada 5–6 September 2026.

Kehadiran Zubaida dalam forum tersebut membawa dua peran yang saling menguatkan, yakni sebagai akademisi keperawatan sekaligus perempuan yang aktif dalam gerakan 'Aisyiyah. UNISA Yogyakarta merupakan perguruan tinggi di bawah naungan Pimpinan Pusat 'Aisyiyah. Karena itu, partisipasi Zubaida turut merepresentasikan kontribusi amal usaha 'Aisyiyah dalam pengembangan pendidikan dan kesehatan di tingkat global.

Global Nursing Summit 2026 mempertemukan pendidik keperawatan, peneliti, praktisi kesehatan, mahasiswa, dan pemimpin profesi dari berbagai negara. Forum tersebut membahas transformasi pendidikan dan praktik keperawatan, termasuk pemanfaatan artificial intelligence (AI), inovasi, kepemimpinan, serta simulation-based nursing education.

Dalam forum tersebut, Zubaida menyampaikan gagasan bertajuk “Transforming Nursing Education Beyond the Classroom”. Ia menekankan bahwa pendidikan keperawatan tidak cukup berlangsung di ruang kelas dan laboratorium. Mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan masyarakat, memahami persoalan kesehatan secara nyata, berlatih memimpin, serta memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan nilai kemanusiaan.

“The classroom builds knowledge. The community builds capability. Technology expands our reach. Leadership turns knowledge into action,” ujar Zubaida dalam presentasinya.

Menurutnya, masyarakat bukan sekadar lokasi praktik, tetapi juga ruang belajar yang membentuk kepekaan, kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial calon perawat.

Gagasan tersebut beririsan dengan tradisi gerakan 'Aisyiyah yang menempatkan pendidikan, pelayanan kesehatan, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan perempuan sebagai bagian dari pengabdian. Dalam konteks tersebut, perempuan tidak hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat pembangunan, tetapi juga sebagai penggerak, pendidik, peneliti, pemimpin, dan bagian dari solusi atas berbagai persoalan masyarakat.

Zubaida turut membawa pengalaman program berbasis komunitas dari Yogyakarta. Salah satunya adalah NGAJENI (Ngajak Intergenerasi Jadi Inspirasi), program yang mempertemukan generasi muda dan lanjut usia melalui edukasi kesehatan, aktivitas bersama, serta interaksi antargenerasi.

Program tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran keperawatan dapat tumbuh dari perjumpaan langsung dengan masyarakat. Pengalaman itu sekaligus menjadi sarana bagi mahasiswa untuk memahami kebutuhan kesehatan secara lebih utuh.

Selain itu, Zubaida mengangkat pentingnya kepemimpinan remaja melalui pendekatan peer educator. Remaja tidak hanya diposisikan sebagai sasaran edukasi kesehatan, tetapi juga diberi kesempatan menjadi bagian dari solusi.

Pendekatan tersebut dinilai dapat membantu menumbuhkan kepercayaan diri, kepedulian, dan kemampuan kepemimpinan sejak usia muda.

Perkembangan artificial intelligence menjadi salah satu isu penting dalam Global Nursing Summit 2026. Zubaida menekankan bahwa teknologi perlu ditempatkan sebagai alat untuk memperkuat kemampuan tenaga kesehatan, bukan menggantikan sentuhan manusia dalam keperawatan.

Menurutnya, AI dapat membantu mengakses informasi, mengolah data, mendukung proses pembelajaran, dan mempercepat pencarian bukti ilmiah. Namun, keputusan profesional, tanggung jawab etik, empati, sensitivitas budaya, serta penghormatan terhadap martabat pasien tetap menjadi tanggung jawab manusia.

“AI can process information; nurses create meaning and protect dignity,” tegasnya.

Pesan tersebut menempatkan teknologi sebagai sarana untuk memperluas manfaat pendidikan dan pelayanan keperawatan, bukan sebagai tujuan akhir.

Keterlibatan Zubaida dalam GNS 2026 juga menunjukkan bahwa pengalaman lokal dari Yogyakarta dapat dibawa ke ruang global. Praktik pemberdayaan masyarakat, penguatan generasi muda, pendidikan kesehatan, dan pembelajaran berbasis komunitas memiliki nilai yang dapat dipertukarkan dengan pengalaman dari berbagai negara.

Sebagai dosen sekaligus pengurus 'Aisyiyah, Zubaida melihat kerja akademik dan gerakan sosial sebagai dua ruang yang saling terhubung. Pengetahuan yang dikembangkan di perguruan tinggi dapat diterapkan dan diuji di masyarakat. Sebaliknya, pengalaman masyarakat dapat menjadi sumber pembelajaran, penelitian, dan inovasi pendidikan.

Kiprah tersebut sekaligus menggambarkan semangat perempuan berkemajuan: memiliki kapasitas keilmuan, keberanian mengambil peran, kepedulian sosial, serta kesiapan membangun jejaring lintas negara tanpa kehilangan akar pengabdian kepada masyarakat.

Melalui partisipasinya dalam GNS 2026, Zubaida berharap semakin banyak perempuan muda dan mahasiswa berani mengambil kesempatan untuk belajar, meneliti, memimpin, terlibat dalam pengabdian masyarakat, dan membangun jejaring internasional.

Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari gelar atau penguasaan teknologi, tetapi juga dari sejauh mana ilmu dapat menghadirkan manfaat nyata bagi kehidupan orang lain.

Ia menutup refleksinya dengan sebuah pertanyaan:

“What if every nursing student graduated having changed at least one life?”

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow