Inilah Model Baru Reformasi Kaderisasi Muhammadiyah
YOGYA – Muhammadiyah sebagai organisasi Islam mampu bertahan lebih dari satu abad, berkat amal-amal usaha dan kader-kadernya yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi umat dan bangsa. Namun, seiring berjalannya waktu Muhammadiyah saat ini tengah mengalami tantangan kaderisasi yang kompleks sebagai akibat dari perubahan zaman. Jika tidak segera berbenah, Muhammadiyah potensi ditelan perubahan.
“Tantangan dan kelemahan yang dihadapi oleh Muhammadiyah saat ini hanya dapat diurai jika dilakukan reformasi kaderisasi—yang bisa melahirkan model baru kaderisasi Muhammadiyah,” kata Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWM DIY) dalam materi Reformasi Kaderisasi Muhammadiyah dalam Pengajian Ramadhan 1446H PWM DIY, Ahad (9/3).
Untuk bisa menghadapi tantangan tersebut, diperlukan model baru dalam kaderisasi Muhammadiyah. Arif memandang, Muhammadiyah harus menerapkan model kaderisasi yang bersifat egaliter, partisipatif dan horizontal. Bukan lagi model kaderisasi yang bersifat hierarkis dan vertikal.
Tak hanya itu, kaderisasi dan pembinaan kader Muhammadiyah harus disesuaikan dengan ekosistem dan lingkungan sosial yang sudah ada. Misal, jika Muhammadiyah melakukan kaderisasi kepada peminat olahraga, maka nuansa kaderisasinya dibawa kesana.
Lalu, program kaderisasi Muhammadiyah harus berkelanjutan. Kaderisasi Muhammadiyah diproyeksikan bukan hanya untuk melahirkan organisatoris/pengurus, namun juga pemimpin. Dalam pola kaderisasi ini, harus ada keberlanjutan dan penjenjangan dalam kaderisasi Ortom.
Di samping itu, kaderisasi Muhammadiyah memerlukan penerapan pembelajaran mendalam (deep learning). Sebuah pola kaderisasi yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan
(joyful),
Bahkan, kaderisasi Muhammadiyah juga memerlukan teknologi supaya organisasi berkembang.
“Program kaderisasi Muhammadiyah sudah harus membangun sistem kaderisasi yang integral dengan dunia digital dan Kecerdasan Artifisial (KA). Data dan teknologi dibutuhkan untuk mengelola, memantau dan mengoptimalkan proses kaderisasi,” papar Staf Khusus Mendikdasmen RI bidang Pembelajaran dan Sekolah Unggul itu.
Arif Jamali juga mengangkat persoalan diaspora kader Muhammadiyah yang memiliki tiga prinsip. Pertama, diaspora SDM, Muhammadiyah perlu mempersiapkan Sumber Daya Manusia terbaik, memiliki daya saing dan keunggulan di atas rata-rata.
Kedua, diaspora program, Muhammadiyah harus memiliki program-program unggulan. Dalam hal ini Amal Usaha dapat menjadi tonggak untuk menghadirkan program-program yang berkemajuan.
Ketiga, diaspora pemikiran, para pemikir dan intelektual persyarikatan seyogyanya mampu mengartikulasikan gagasan-gagasannya di ruang publik.
Dalam mempersiapkan diaspora, kader harus memiliki tiga kompetensi utama yang menjadi ciri khas dalam berkiprah. Pertama, etikabilitas adalah kemampuan seseorang untuk bertindak dan bersikap sesuai dengan prinsip-prinsip etika dan moral. Artinya, membentuk kader yang bertindak dengan kesadaran akan implikasi etis tindakannya.
Kedua, intelektualitas, merujuk pada kecakapan dalam berpikir, memahami dan menganalisis masalah. Intelektualitas juga ditandai dengan kemampuan memecahkan masalah secara logis dan rasional.
Ketiga, elektabilitas, memiliki potensi dukungan kuat dari publik yang didukung oleh rekam jejak, kredibilitas dan integritas serta kemampuan untuk merebut opini publik.
Dengan berbagai model yang ditawarkan, maka reformasi kaderisasi menjadi sebuah keniscayaan bagi Muhammadiyah
‘Kesadaran akan reformasi kaderisasi yang mampu menyentuh lini organisasi ini penting bagi pimpinan yang melihat dan membaca perkembangan zaman. Tanpa itu, Muhammadiyah tidak akan memegang peran penting di abad ini,” tandas Arif.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow