Inilah Cara Takmir Masjid Jadi Berkemajuan: Ubah Paradigma, Hadirkan Masjid Ramah Umat
YOGYA – Talkshow Masjid Berkemajuan dengan tema “Masjid sebagai Pusat Kegiatan Umat” di Muhammadiyah Jogja Expo #4 pada Sabtu (13/9) menghadirkan inspirasi dari dua takmir masjid, yakni Masjid 17 Purwokerto dan Masjid Pemuda Indonesia Surabaya.
Keduanya menekankan pentingnya peran masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pemberdayaan umat, penguatan spiritual, serta pengembangan sosial dan ekonomi.
Takmir Masjid 17 Purwokerto menceritakan sejarah masjid yang berdiri sejak 1953 dan mulai digunakan pada 1956. Nama “17” diambil dari jumlah infaq pertama sebesar 17 ribu rupiah yang diprakarsai 17 orang, sekaligus melambangkan angka penting dalam Islam dan sejarah Indonesia. Keunikan ini juga tampak pada desain masjid dengan 17 jendela dan 17 anak tangga.
“Alhamdulillah, pada 2024 kami terpilih sebagai juara Masjid Unggulan CRM Expo di Palembang. Inspirasi kami adalah menjadikan masjid pusat peradaban dan solusi umat. Salah satunya melalui layanan LAZISMU di dalam masjid untuk memudahkan pengelolaan zakat, infak, dan sedekah,” ujar perwakilan takmir.
Masjid 17 juga dikenal aktif dalam program sosial dan pendidikan. Sebanyak 56 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto mendapat beasiswa dari dana masjid. Selain itu, tersedia Cafe Kemakmuran yang memberikan makanan gratis, pelayanan musafir 24 jam, hingga program kesehatan berupa ambulans gratis, semuanya dikelola oleh anak-anak muda.
“Paradigma pengelolaan masjid perlu diubah. Infak jangan hanya untuk bangunan fisik, sementara jamaah di sekitar masih kesulitan makan atau tinggal di rumah tidak layak. Masjid harus hadir sebagai pusat musyawarah, pemberdayaan, dan pelayanan umat dengan tata kelola dana yang amanah dan profesional,” tambahnya.
Sementara itu, Takmir Masjid Pemuda Indonesia Surabaya menekankan pentingnya masjid sebagai tempat yang ramah dan solutif bagi masyarakat, khususnya generasi muda. Masjid Pemuda membuka layanan 24 jam, termasuk untuk musafir yang membutuhkan tempat singgah hingga sarapan.
“Kami ingin masjid jadi tempat nyaman, bukan sekadar formalitas. Banyak mahasiswa dan pemuda yang menghadapi masalah batin dan keluarga. Kalau masjid tidak ramah, mereka bisa lari ke tempat yang salah. Karena itu, pelayanan harus baik dan penuh perhatian,” ungkap takmir.
Masjid Pemuda juga menjalankan program harian seperti MSQ (Masjid – Subuh – Quran), membina santri dengan pendekatan intensif, hingga mendampingi mereka dalam perjalanan hidup, mulai dari pendidikan, pekerjaan, taaruf, pernikahan, bahkan hingga menyiapkan tempat tinggal.
“Kami berusaha menjadikan santri sebagai PNS atau Pegawai Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, bukan sekadar jamaah. Masjid harus hadir mengawal pertumbuhan generasi muda agar siap menjadi pribadi yang mandiri dan berakhlak mulia,” jelasnya.
Talkshow ini menegaskan kembali gagasan Muhammadiyah tentang masjid berkemajuan, sejalan dengan program strategis Cabang dan Ranting serta Masjid Unggul dari LPCRPM PP Muhammadiyah. Dengan pengelolaan yang inovatif, profesional, dan inklusif, masjid diharapkan benar-benar menjadi pusat kegiatan umat sekaligus pilar peradaban Islam modern.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow