Ikhwan Ahada Tausiyah ke Santri Lapas Wirogunan: Allah Memperjuangkan Kita Menjadi Hamba Terbaik

Ikhwan Ahada Tausiyah ke Santri Lapas Wirogunan: Allah Memperjuangkan Kita Menjadi Hamba Terbaik

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWM DIY), Dr. Muhammad Ikhwan Ahada, M.A., hadir memberikan tausiyah kepada 652 santri Lapas Kelas II.A Wirogunan, Kota Yogyakarta, Sabtu (6/12). Kegiatan yang berlangsung di Masjid Al-Fajar kompleks Lapas itu turut disaksikan oleh Kalapas Marjiyanto beserta jajaran Lapas dan pimpinan PWM DIY.

Dalam tausiyahnya, Ikhwan menyampaikan rasa syukur bisa bersilaturahmi langsung dengan para santri. Ia mengaku terharu saat mengetahui ada santri yang mampu menghafal Al-Qur’an hingga 14 juz.

“Sungguh luar biasa. Di luar pesantren pun belum tentu ada yang hafal sebanyak itu. Siapapun yang dekat dengan Al-Qur’an, Allah akan angkat derajatnya,” ujarnya.

Ikhwan menekankan bahwa siapapun yang bersinggungan dengan Al-Qur’an akan diberi kemuliaan oleh Allah. Ia mengibaratkan pembaca Al-Qur’an seperti buah yang harum dan lezat sekaligus indah luar dan dalam.

Ia juga mengapresiasi kekhusyukan para santri Lapas yang mampu menjawab pertanyaan seputar surat dan tajwid dengan tepat.

“Di luar sana, pengajian sering kalah dengan ponsel. Tapi di sini, Masya Allah, disebutkan suratnya langsung tahu dan benar bacaan tajwidnya,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Ikhwan mengajak para santri memahami bahwa setiap perjalanan hidup, termasuk musibah dan keterpurukan, merupakan bagian dari cara Allah memuliakan hamba-Nya. Ia mengisahkan bagaimana para Nabi, termasuk Nabi Ibrahim, Nabi Ayyub, dan Nabi Musa melewati ujian berat sebelum Allah mengangkat derajat mereka.

“Para nabi saja tidak tahu bagaimana cara Allah memuliakan mereka. Maka jangan berburuk sangka pada jalan hidup kita,” pesannya.

Ikhwan juga menegaskan bahwa perbedaan antara manusia dan para nabi sebenarnya sangat tipis.

“Nabi itu sedikit-sedikit sedekah, sedikit-sedikit tersenyum, sedikit-sedikit istighfar. Sementara kita sedikit-sedikit mengeluh. Padahal jalan menuju surga tidak dikelilingi hal yang mudah,” tegasnya.

Tak hanya Nabi, para sahabat juga banyak yang melewati ujian yang tidak kalah berat. Ikhwan mencontohkan Umar bin Khattab yang awalnya keras dan memusuhi Islam, namun Allah membalikkan hatinya melalui lantunan Surah Thaha hingga ia menjadi salah satu sahabat nabi yang disegani.

“Kalau Umar saja bisa berubah, apalagi kita. Tidak ada kata terlambat bagi Allah untuk membolak-balikkan hati,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa Allah tidak menghendaki keburukan bagi hamba-Nya, justru menginginkan semua menjadi hamba yang terbaik. Karena itu, para santri diajak untuk mensyukuri keadaan dan menjadikan masa pembinaan sebagai jalan kembali kepada Allah.

“Gunakan waktu sebaik-baiknya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Syukuri apa yang ada, nikmati prosesnya. Mudah-mudahan Allah menguatkan kita dan mengumpulkan kita di Surga Jannatun Naim,” tutupnya.

Tausiyah diakhiri dengan doa bersama seluruh santri Lapas dan dilanjutkan dengan makan bersama. Ini menjadi suasana kekeluargaan dan harapan baru bagi para warga binaan yang terus memperbaiki diri melalui hal-hal baik, terutama dengan Al-Qur’an.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow