Hasto Wardoyo: Lingkungan yang Sehat Kunci Kesehatan Masyarakat dan Masa Depan Generasi
YOGYAKARTA — Persoalan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan sampah dan pencemaran, tetapi juga menyangkut kesehatan fisik, sosial, hingga psikologis masyarakat. Karena itu, upaya menjaga lingkungan harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Walikota Yogyakarta, Dr. (H.C.) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) dalam keynote speech-nya lewat tayangan video pada Diskusi dan Bedah Buku Ekologi Berkemajuan: Gerakan Lingkungan Berkelanjutan Muhammadiyah yang diselenggarakan Majelis Lingkungan Hidup (MLH) dan Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY di Museum Muhammadiyah, Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Sabtu (6/6).
Mewakili Pemerintah Kota Yogyakarta, Hasto menyampaikan apresiasi atas terbitnya buku tersebut. Menurutnya, Ekologi Berkemajuan menjadi kontribusi penting dalam memperkuat literasi lingkungan sekaligus menghadirkan referensi yang komprehensif untuk membangun kesadaran ekologis masyarakat.
“Buku ini mengangkat lingkungan secara utuh, tidak hanya lingkungan fisik dan biologis, tetapi juga lingkungan sosial dan psikologis yang sangat memengaruhi kualitas kehidupan manusia,” ujarnya.
Salah satu bagian yang menarik perhatian Hasto adalah tulisan mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungan. Menurutnya, kualitas lingkungan memiliki hubungan langsung dengan kualitas kesehatan masyarakat.
Hasto menilai selama ini masyarakat cenderung memaknai lingkungan sebatas persoalan sampah atau pencemaran. Padahal, lingkungan psikologis juga memiliki dampak besar terhadap kesehatan.
Ia mencontohkan tingginya angka perceraian yang terjadi di Kota Yogyakarta maupun secara nasional. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa lingkungan sosial dan keluarga merupakan faktor penting yang turut memengaruhi kesehatan masyarakat.
“Lingkungan psikologis keluarga harus menjadi perhatian bersama karena berpengaruh terhadap kesehatan mental dan kualitas hidup masyarakat,” katanya.
Selain aspek psikologis, Pemerintah Kota Yogyakarta juga terus mendorong perbaikan lingkungan fisik melalui Gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (Masjos). Program tersebut menekankan pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya, yakni rumah tangga.
Hasto mengapresiasi keterlibatan Muhammadiyah dalam berbagai gerakan lingkungan, termasuk aksi bersih sungai dan edukasi pengelolaan sampah kepada masyarakat.
Menurutnya, prinsip utama yang terus didorong melalui Masjos adalah memilah sampah dari rumah, mengolah sampah organik, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menggunakan wadah yang dapat dipakai berulang kali, serta menghindari pemborosan makanan.
Salah satu persoalan yang mendapat perhatian serius adalah tingginya jumlah sampah makanan. Hasto mengungkapkan bahwa Kota Yogyakarta menghasilkan sekitar 30 ton sisa makanan setiap hari. “Ini menunjukkan masih tingginya pemborosan pangan yang berdampak pada lingkungan maupun kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Karena itu, edukasi pengelolaan sampah dari tingkat hulu, terutama di sekolah-sekolah, dinilai sangat penting. Hasto berharap sekolah-sekolah Muhammadiyah dapat menjadi pelopor pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Menurutnya, sekolah Muhammadiyah tidak hanya perlu menjadi sekolah Adiwiyata, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran dan rujukan praktik terbaik dalam pengelolaan lingkungan.
Ia juga menjelaskan bahwa saat ini Pemerintah Kota Yogyakarta menjalankan program pengumpulan sampah organik basah secara door to door. Setiap hari, sedikitnya 1.300 ember berkapasitas 25 kilogram berhasil dikumpulkan dari masyarakat.
“Angka ini menunjukkan betapa besarnya volume sampah organik yang dihasilkan masyarakat dan pentingnya pemilahan sampah sejak dari rumah,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Hasto turut mengapresiasi artikel dalam buku Ekologi Berkemajuan yang mengangkat tema pelestarian Sungai Code melalui tulisan berjudul Merawat Kali Code adalah Merawat Peradaban.
Menurutnya, sungai memiliki peran penting sebagai ruang hidup masyarakat yang harus dijaga bersama. Karena itu, Pemerintah Kota Yogyakarta telah memasang sembilan trash barrier di sejumlah titik sungai dan berencana menambah jumlahnya menjadi 15 unit pada tahun ini.
Langkah tersebut tidak hanya bertujuan menahan sampah yang mengalir ke sungai, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat agar tidak lagi menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah.
“Sungai harus menjadi ruang hidup yang kita cintai dan kita jaga bersama,” tegasnya.
Hasto juga menyoroti hubungan erat antara kualitas lingkungan dan masalah kesehatan masyarakat, termasuk stunting. Menurutnya, banyak orang menganggap stunting hanya disebabkan oleh kekurangan gizi, padahal faktor lingkungan memiliki pengaruh yang sangat besar.
Ia menjelaskan bahwa sekitar 70 persen faktor yang memengaruhi tumbuh kembang anak pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan berkaitan dengan kondisi lingkungan.
Lingkungan yang tidak sehat meningkatkan risiko penyakit seperti diare, tuberkulosis (TBC), dan berbagai penyakit infeksi lainnya yang dapat menghambat perkembangan otak dan pertumbuhan anak.
“Karena itu, perbaikan lingkungan harus menjadi bagian penting dalam strategi pencegahan stunting,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia masih menjadi negara dengan jumlah kasus TBC tertinggi kedua di dunia setelah India. Kondisi lingkungan yang buruk dan rumah yang tidak sehat menjadi faktor yang perlu mendapat perhatian serius.
Pengalaman saat menjadi Bupati Kulon Progo, bagi Hasto, menunjukkan bahwa gotong royong dan perbaikan rumah tidak layak huni merupakan bagian penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
Semangat tersebut kini diterapkan di Kota Yogyakarta melalui berbagai program penataan kawasan, termasuk program Mundur, Munggah, Madhep Kali di bantaran Sungai Code.
Melalui program itu, rumah-rumah yang berada di sepanjang sungai ditata ulang agar lebih aman, sehat, dan ramah lingkungan. Ke depan, kawasan Sungai Code, Winongo, dan Gajah Wong diharapkan dapat berkembang menjadi ruang publik yang bersih, nyaman, sekaligus destinasi wisata berbasis sungai.
“Alhamdulillah, berbagai upaya yang dilakukan mulai menunjukkan hasil. Kondisi sungai semakin bersih, kualitas lingkungan meningkat, dan masyarakat mulai merasakan manfaatnya,” ungkapnya.
Menutup sambutannya, Hasto mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat kolaborasi melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, organisasi masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha, media, dan komunitas.
ia memandang persoalan lingkungan tidak mungkin diselesaikan oleh pemerintah semata. Dibutuhkan kerja sama seluruh pihak agar gerakan lingkungan berkelanjutan benar-benar menjadi budaya di tengah masyarakat.
“Semoga buku Ekologi Berkemajuan tidak hanya menjadi sumber inspirasi, tetapi juga panduan bagi lahirnya gerakan-gerakan nyata dalam menjaga bumi, merawat lingkungan, dan membangun peradaban yang berkelanjutan,” pungkasnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow