Haedar Nashir Tekankan Etos Kemajuan dan Disiplin Organisasi Muhammadiyah

Haedar Nashir Tekankan Etos Kemajuan dan Disiplin Organisasi Muhammadiyah

Smallest Font
Largest Font

BANDUNG — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan pentingnya etos kemajuan, disiplin organisasi, dan penguatan ekonomi umat dalam Pengajian Bersama Ketum PP Muhammadiyah yang digelar di Universitas Muhammadiyah Bandung, Sabtu (16/5).

Dalam pengajian tersebut, Haedar menilai Muhammadiyah harus terus berkembang menjadi organisasi yang unggul, berdaya saing, dan mampu memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Ia mengingatkan bahwa besarnya jumlah anggota organisasi tidak cukup tanpa diiringi kualitas dan dampak sosial yang kuat.

Menurut Haedar, salah satu kunci kemajuan organisasi terletak pada disiplin yang kokoh. Ia meminta warga Muhammadiyah tidak mudah tergoda oleh berbagai program baru yang belum dikaji secara matang.

“Kalau salah harus dikoreksi. Jangan karena segan lalu organisasi menjadi longgar,” ujarnya.

Haedar juga menyinggung budaya permisif yang menurutnya dapat menjadi celah munculnya persoalan dalam organisasi. Sikap sungkan terhadap pihak tertentu, kata dia, tidak boleh membuat kesalahan dibiarkan.

Selain disiplin organisasi, Haedar menekankan pentingnya membangun etos kemajuan sebagaimana semangat Fastabiqul Khairat dalam Surah Al-Baqarah ayat 148. Ia menjelaskan bahwa berlomba dalam kebaikan harus diwujudkan melalui tindakan nyata yang memberi manfaat luas bagi masyarakat.

Mengutip pandangan Ibnu Abbas, Haedar menyebut umat Islam tidak hanya dituntut memahami agama secara tekstual, tetapi juga menghadirkan solusi sosial di tengah kehidupan masyarakat.

“Menjadi Khairu Ummah itu berarti menjadi umat yang paling bermanfaat bagi manusia,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Haedar juga menyoroti pentingnya pemberdayaan ekonomi umat. Menurutnya, penguatan ekonomi harus menjadi perhatian serius Muhammadiyah karena berpengaruh besar terhadap kekuatan dan kemandirian organisasi.

Ia menilai Majelis Ekonomi memiliki posisi strategis yang sama pentingnya dengan Majelis Tabligh. Sebab, persoalan umat tidak hanya berkaitan dengan ibadah spiritual, tetapi juga menyangkut kesejahteraan ekonomi.

“Siapa yang menguasai ekonomi, pada akhirnya akan memengaruhi politik,” ujarnya.

Terkait isu pengelolaan tambang oleh Muhammadiyah yang sempat menjadi perhatian publik, Haedar memastikan keputusan tersebut diambil secara rasional dan akan dikelola secara profesional oleh pihak yang memiliki kompetensi.

Dalam pengajian itu, Haedar juga mengajak Muhammadiyah untuk terus hadir di tengah masyarakat sebagai organisasi yang memberi solusi atas berbagai persoalan sosial, mulai dari kebencanaan, pemberdayaan kelompok marginal, hingga upaya meredam konflik.

Menutup pengajiannya, Haedar menegaskan bahwa kemajuan organisasi tidak dapat diraih secara instan. Ia menyebut kerja keras, kesabaran, dan keikhlasan sebagai fondasi utama dalam membangun persyarikatan.

Haedar optimistis Muhammadiyah di Jawa Barat dapat terus berkembang dan semakin berpengaruh apabila semangat gotong royong dan kerja bersama tetap dijaga.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow