Gerakan Perempuan Mengaji ‘Aisyiyah DIY Perkuat Peran Pencegahan Hubungan Sedarah dan Dampaknya

Gerakan Perempuan Mengaji ‘Aisyiyah DIY Perkuat Peran Pencegahan Hubungan Sedarah dan Dampaknya

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Majelis Tabligh dan Ketarjihan (MTK) Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) DIY kembali menggelar Gerakan Perempuan Mengaji (GPM) pada Ahad (14/6) di Aula Lantai 5 Gedung AR Fachruddin B Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Kegiatan yang diikuti unsur PWA DIY, majelis dan lembaga, Korps Muballighat ‘Aisyiyah (KMA), serta muballighat dari seluruh DIY ini mengangkat tema “Peran ‘Aisyiyah dalam Mencegah Terjadinya Hubungan Seks Sedarah dan Solusinya.”

Tema tersebut dipilih sebagai bentuk kepedulian terhadap masih adanya kasus hubungan sedarah yang menimbulkan berbagai dampak sosial, psikologis, maupun kesehatan. Melalui kegiatan ini, ‘Aisyiyah berupaya memperkuat perannya dalam membangun ketahanan keluarga dan memberikan edukasi kepada masyarakat.

Wakil Ketua PWA DIY Koordinator Bidang Tabligh, Dyah Sulistyawati, S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya menegaskan pentingnya penguatan nilai-nilai agama sebagai fondasi pencegahan berbagai penyimpangan dalam keluarga.

Menurutnya, kurangnya pemahaman agama dan lemahnya komunikasi dalam keluarga menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian. Ia juga menyoroti dampak medis yang dapat muncul akibat hubungan sedarah, termasuk meningkatnya risiko kelainan genetik pada keturunan.

“‘Aisyiyah memiliki peran penting untuk terus memberikan edukasi kepada masyarakat. Pencegahan harus dimulai dari keluarga melalui penguatan tauhid, pembiasaan akhlak mulia, dan komunikasi yang terbuka sejak dini,” ujarnya.

Dyah juga mengingatkan pentingnya pendidikan bagi anak agar berani menyampaikan penolakan terhadap segala bentuk sentuhan yang tidak pantas serta mampu melindungi dirinya sendiri.

Sementara itu, Ketua MTK PWA DIY, Dra. Hj. Hasta Dewi, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya GPM yang secara rutin digelar setiap tiga bulan sekali. Ia mengajak seluruh kader dan muballighat untuk terus menghidupkan pengajian yang menyenangkan dan mencerahkan di berbagai tingkatan organisasi.

“Mari kita semarakkan pengajian ‘Aisyiyah dari wilayah hingga ranting dengan suasana yang nyaman, menyenangkan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ajaknya.

Hasta menegaskan bahwa dakwah amar ma’ruf nahi munkar tidak hanya mengajak kepada kebaikan, tetapi juga mencegah berbagai persoalan yang dapat merusak tatanan keluarga dan masyarakat.

“Larangan hubungan sedarah dalam Islam bukan sekadar aturan, tetapi bentuk perlindungan terhadap martabat manusia, keluarga, dan generasi yang akan datang,” tegasnya.

Pada kesempatan tersebut, MTK PWA DIY menghadirkan dr. Ida Rochmawati, M.Sc., Sp.KJ., sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, dokter sekaligus pegiat edukasi kesehatan itu menjelaskan bahwa ketertarikan seksual dan hubungan emosional manusia dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara otak, hormon, serta lingkungan sosial.

Ia menjelaskan bahwa proses ketertarikan manusia umumnya melalui tiga tahapan, yakni lust (hasrat seksual), attraction (ketertarikan romantis), dan attachment (keterikatan emosional). Masing-masing dipengaruhi oleh mekanisme biologis dan hormon yang berbeda.

Menurut Ida, secara alami manusia memiliki mekanisme yang membantu mencegah munculnya ketertarikan seksual terhadap anggota keluarga dekat. Salah satunya dikenal sebagai Westermarck Effect, yakni kecenderungan individu yang tumbuh bersama sejak kecil untuk tidak mengembangkan ketertarikan seksual satu sama lain.

Selain itu, hubungan sedarah juga memiliki risiko kesehatan yang tinggi karena dapat meningkatkan kemungkinan munculnya kelainan genetik pada keturunan. Dari perspektif agama, Islam secara tegas melarang hubungan maupun pernikahan dengan mahram sebagai bentuk perlindungan terhadap kehormatan manusia dan keberlangsungan generasi.

Sebagai langkah pencegahan, dr. Ida merekomendasikan pentingnya membangun batasan peran keluarga yang sehat, memberikan pendidikan seks yang tepat sesuai usia, menghindari ketergantungan emosional yang berlebihan, serta meningkatkan kepekaan terhadap tanda-tanda pergeseran batas dalam relasi keluarga.

Melalui Gerakan Perempuan Mengaji ini, PWA DIY berharap para muballighat dan kader ‘Aisyiyah semakin aktif menyampaikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga ketahanan keluarga, melindungi generasi muda, serta membangun lingkungan yang sehat, aman, dan sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow