Dari Ruang Kelas ke Ruang Kebijakan, Arif Jamali Muis Luncurkan Buku Gagasan Reformasi Pendidikan Indonesia

Dari Ruang Kelas ke Ruang Kebijakan, Arif Jamali Muis Luncurkan Buku Gagasan Reformasi Pendidikan Indonesia

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Perjalanan dan pemikiran Arif Jamali Muis, M.Pd. dari seorang guru di sekolah kemudian terlibat langsung dalam perumusan kebijakan pendidikan nasional menjadi inti dalam bukunya yang berjudul "Dari Ruang Kelas Menuju Ruang Kebijakan: Gagasan untuk Reformasi Pendidikan Indonesia". Buku tersebut resmi diluncurkan oleh Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) di Amphitarium Lantai 7 Gedung AR Fachruddin Fakultas Kedokteran UAD Kampus IV, Sabtu (6/6).

Peluncuran buku ini dihadiri Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. Rektor Universitas Ahmad Dahlan, Prof. Dr. Muchlas, M.T. Staf Ahli Kemendikdasmen Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga Prof. Dr. Biyanto, M.Ag., Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia Dr. Diyah Puspitarini, M.Pd., jajaran Pimpinan Wilayah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah DI Yogyakarta, serta para tamu undangan dari kalangan akademisi dan pemerhati pendidikan.

Kepala PSKP UAD, Dr. Azaki Khoirudin, M.Pd. menyampaikan apresiasi kepada Arif Jamali Muis yang telah mempercayakan pusat studi yang baru berdiri pada 2025 tersebut untuk menyelenggarakan peluncuran buku.

“Selama setahun terakhir kami telah melaksanakan berbagai kegiatan, terutama riset, diskusi, dan survei kebijakan publik. Kami berterima kasih kepada Pak Arif Jamali Muis yang telah berkolaborasi dan mengamanatkan penyelenggaraan acara ini kepada kami,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor UAD, Prof. Muchlas, menilai buku tersebut menjadi refleksi perjalanan intelektual Arif Jamali Muis yang berhasil menghubungkan pengalaman praktik pendidikan dengan gagasan kebijakan yang lebih luas.

Menurutnya, berbagai pengalaman Arif sebagai guru, aktivis pendidikan, hingga keterlibatannya di Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) tercermin dalam buku tersebut. Gagasan mengenai sekolah aman bencana, sekolah darurat, hingga berbagai inovasi pendidikan menjadi bagian dari refleksi yang ditawarkan kepada pembaca.

“Sebagai kader Muhammadiyah, Pak Arif juga menghadirkan aktualisasi pemikiran KH Ahmad Dahlan dan nilai-nilai Islam Berkemajuan dalam buku ini. Ini menunjukkan kemampuan beliau memadukan pemikiran Muhammadiyah untuk kemajuan pendidikan Indonesia,” kata Muchlas.

Ia menambahkan, buku tersebut dapat menjadi jembatan gagasan bagi berbagai pihak yang bergerak di dunia pendidikan, baik guru, akademisi, pengelola sekolah, maupun pengambil kebijakan di pemerintahan.

“Buku ini menjadi gagasan penting untuk reformasi pendidikan Indonesia. Kami berharap karya ini memberikan manfaat luas dan menjadi awal lahirnya karya-karya besar berikutnya,” imbuhnya.

Dalam pengantarnya, Arif Jamali Muis yang kini menjabat sebagai Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen menjelaskan bahwa buku tersebut merupakan kumpulan tulisan yang lahir dari pemikiran dan pengalaman selama empat hingga lima tahun terakhir. Judul buku ini merepresentasikan perjalanan pemikiran dan pergulatan intelektual yang ia alami, terutama saat menjadi guru di SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta dan kemudian di SMA Negeri 5 Yogyakarta.

“Sebagian besar tulisan dalam buku ini lahir dari perjumpaan saya dengan berbagai literatur pemikiran sekaligus pengalaman keseharian di ruang kelas. Interaksi dengan murid, diskusi dengan sesama guru, dan dinamika pendidikan yang saya saksikan langsung menjadi bahan refleksi yang kemudian saya tuangkan dalam tulisan,” ungkapnya.

Arif menuturkan bahwa perjalanan intelektualnya memasuki fase baru ketika pada November 2024 ia mendapat amanah bergabung di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah atas rekomendasi Haedar Nashir sebagai Staf Khusus Menteri Bidang Pembelajaran dan Sekolah Unggul. Selanjutnya, ia dipercaya menjabat sebagai Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus.

Perubahan ruang pengabdian tersebut, menurutnya, menghadirkan perspektif yang berbeda dalam melihat persoalan pendidikan. Jika sebelumnya ia menulis dari sudut pandang seorang guru yang berhadapan langsung dengan realitas kelas, kini ia juga menulis dari ruang kebijakan, tempat berbagai keputusan pendidikan dirumuskan dan dijalankan.

“Perbedaan sudut pandang dalam tulisan-tulisan saya bukanlah kontradiksi, melainkan hasil dari perluasan pengalaman dalam melihat persoalan pendidikan dari berbagai sisi,” jelasnya.

Arif juga mengungkapkan bahwa dalam menulis dan memandang berbagai persoalan pendidikan, dirinya banyak belajar dari Haedar Nashir. Ia mengagumi ketajaman analisis yang selalu disampaikan dengan kejernihan sikap dan kekuatan substansi, tanpa harus mengedepankan emosi.

Baginya, keteladanan intelektual tersebut menjadi inspirasi penting dalam menyusun berbagai gagasan yang termuat dalam buku ini.

“Melalui tulisan-tulisan yang terkumpul di dalam buku ini, saya berusaha memberikan sumbangan pemikiran bagi dunia pendidikan Indonesia sesuai kapasitas dan pengalaman yang saya miliki. Semoga gagasan-gagasan ini dapat menjadi bagian dari ikhtiar bersama mewujudkan pendidikan Indonesia yang lebih maju, berkeadilan, dan sesuai cita-cita bangsa,” tutur Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DI Yogyakarta tersebut.

Usai peluncuran, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi buku yang menghadirkan Diyah Puspitarini dan Prof. Biyanto sebagai narasumber. Keduanya mengulas berbagai gagasan strategis yang ditawarkan dalam buku tersebut, mulai dari pengalaman pendidikan di tingkat akar rumput hingga pentingnya reformasi kebijakan untuk menjawab tantangan pendidikan Indonesia di masa depan.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow