CISIC UMY Angkat Relasi Islam dan Sains dalam Peradaban Modern, Ini Penjelasan Syifa Widigdo

CISIC UMY Angkat Relasi Islam dan Sains dalam Peradaban Modern, Ini Penjelasan Syifa Widigdo

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Center for Integrative Science and Islamic Civilization (CISIC) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggelar diskusi mengenai relasi Islam dan sains melalui podcast/siniar yang tayang Jumat (17/4). Dalam forum itu, pakar studi Islam sekaligus Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Mohammad Syifa Amin Widigdo, menegaskan bahwa Islam sejak awal tidak memisahkan agama dan ilmu pengetahuan.

Menurut Syifa, Al-Qur’an justru mendorong manusia untuk membaca alam semesta sebagai bagian dari tanda-tanda kebesaran Tuhan. Ia menjelaskan, istilah “ayat” tidak hanya merujuk pada teks Al-Qur’an, tetapi juga berarti tanda yang perlu dipahami manusia.

“Perintah pertama dalam Al-Qur’an adalah iqra’, bacalah. Yang dibaca bukan hanya teks Al-Qur’an, tetapi juga seluruh tanda-tanda Tuhan yang hadir di alam semesta,” ujarnya.

Ia menerangkan, ayat qauliyah merupakan tanda-tanda Tuhan yang disampaikan melalui wahyu dalam Al-Qur’an. Sementara ayat kauniyah adalah tanda kebesaran Allah yang tampak dalam alam semesta, seperti langit, bumi, gunung, dan berbagai fenomena kehidupan.

Menurutnya, keduanya berasal dari sumber yang sama dan sama-sama penting untuk dipelajari. Karena itu, mempelajari sains tidak bisa dipandang lebih rendah dibanding kajian keagamaan.

“Kalau ayat qauliyah itu firman Tuhan, maka ayat kauniyah adalah semesta ciptaan-Nya. Dua-duanya adalah ayat, dua-duanya harus dibaca,” katanya.

Syifa juga menyoroti kecenderungan sebagian masyarakat Muslim modern yang lebih fokus pada kajian tekstual, seperti fikih, tafsir, dan hadis, sementara ilmu empiris seperti matematika, fisika, atau kedokteran kerap dianggap kurang Islami.

Padahal, lanjut dia, seluruh ilmu pada dasarnya berasal dari Allah. Yang membedakan terletak pada cara pemanfaatannya. Ia mencontohkan matematika yang secara ontologis sudah menjadi bagian dari sunnatullah atau hukum ciptaan Tuhan.

“Sering orang bertanya, bagaimana cara mengislamisasi matematika? Bukankah satu tambah satu tetap dua? Kalau dipahami bahwa angka-angka itu bagian dari ayat kauniyah Allah, maka matematika itu sendiri sudah Islami secara ontologis,” jelasnya.

Syifa menambahkan, nilai keislaman suatu ilmu juga ditentukan dari sisi aksiologis, yakni untuk apa ilmu itu digunakan. Ilmu dapat membawa kemaslahatan, tetapi juga bisa dipakai untuk kerusakan bila disalahgunakan.

Dalam diskusi tersebut, ia juga menyinggung kejayaan peradaban Islam masa lalu ketika tokoh-tokoh seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Jabir Ibn Hayyan, dan Ibnu Rusyd mampu menguasai ilmu agama sekaligus ilmu rasional dan empiris. Menurutnya, mereka lahir dari budaya membaca yang kuat dan semangat belajar yang tinggi.

Ia menilai perguruan tinggi Islam, termasuk UMY, perlu membangun model pendidikan integratif yang tidak memisahkan ilmu agama dan ilmu umum. Mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), menurutnya, dapat menjadi ruang strategis untuk membentuk cara pandang mahasiswa terhadap integrasi ilmu.

Syifa menegaskan, integrasi ilmu tidak cukup dilakukan dengan sekadar mencocokkan ayat Al-Qur’an dengan penemuan ilmiah. Yang lebih penting adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai dorongan intelektual agar manusia menggunakan akal secara maksimal.

“Dorongan Al-Qur’an itu bukan sekadar cocokologi ayat dengan sains, tetapi perintah: pakailah akalmu. Gunakan pikiranmu untuk memahami semesta, teknologi, AI, blockchain, semua yang ada di langit dan bumi,” ujarnya.

Ia berharap mahasiswa UMY tidak hanya mengejar nilai akademik, tetapi juga menyadari bahwa belajar teknik, ekonomi, kedokteran, atau statistik merupakan bagian dari membaca ayat-ayat Allah.

“Dakwah seorang engineer adalah melalui keahliannya sebagai engineer. Islamnya justru terlihat dari keunggulan keilmuannya,” pungkas Syifa.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow