Budi Setiawan: Kepemimpinan AR Fachrudin Sukses karena Sistem Kolektif Kolegial

Budi Setiawan: Kepemimpinan AR Fachrudin Sukses karena Sistem Kolektif Kolegial

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Kesuksesan kepemimpinan Muhammadiyah pada masa Abdul Rozak (AR) Fachrudin dinilai tidak lepas dari kuatnya sistem kolektif kolegial di tubuh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Model kepemimpinan itu disebut menjadi salah satu faktor penting yang menjaga soliditas organisasi sepanjang periode 1968 hingga 1990.

Hal tersebut disampaikan Ketua Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah sekaligus sesepuh Kampung Kauman, Kota Yogyakarta, Budi Setiawan, dalam Pengajian Malam Selasa (PMS), Senin (20/4).

Menurut Budi, AR Fachrudin tidak memimpin seorang diri. Saat itu, jajaran PP Muhammadiyah berisi tokoh-tokoh dengan latar belakang dan kemampuan yang beragam, sehingga mampu saling melengkapi dalam mengambil keputusan.

“Pak AR mampu memimpin itu memang tidak sendirian, karena anggota PP yang semula sembilan lalu menjadi 13 orang betul-betul variatif,” ujar Budi.

Ia menjelaskan, anggota PP Muhammadiyah pada masa itu berasal dari beragam latar belakang, mulai dari kalangan ideolog, politisi, hingga organisatoris. Meski memiliki pandangan berbeda, seluruh unsur pimpinan tetap bersatu ketika menyangkut kepentingan Muhammadiyah.

“Perbedaan pendapat antaranggota PP itu biasa, tetapi semuanya satu kata kalau sudah untuk Muhammadiyah,” katanya.

Budi mencontohkan peran Darso Josopranoto atau Pak Daris Tamim sebagai salah satu figur penting yang mendampingi AR Fachrudin. Menurutnya, Pak Daris dikenal kuat dalam bidang administrasi dan tata organisasi, sehingga berfungsi menjaga ketertiban jalannya persyarikatan.

Saat AR Fachrudin dikenal sebagai sosok luwes dan bijaksana, Pak Daris disebut berperan memastikan organisasi tetap berjalan sesuai garis kebijakan yang telah disepakati.

“Pak AR punya kebijakan luar biasa, tetapi dikawani orang-orang seperti Pak Daris ini menjadi bagus,” ujarnya.

Budi menilai pola kepemimpinan kolektif kolegial yang diterapkan saat itu masih relevan hingga sekarang. Sistem tersebut, kata dia, membuat organisasi tidak bergantung pada satu figur, melainkan bertumpu pada kekuatan bersama.

Selain menjaga soliditas internal, model kepemimpinan tersebut juga dinilai berhasil menjaga arah dakwah Muhammadiyah. Budi menyinggung masa ketika Muhammadiyah pernah diarahkan menjadi partai politik saat mengusulkan pengaktifan kembali Masyumi kepada Presiden Soeharto.

Namun, Muhammadiyah tetap memilih jalur gerakan dakwah. Sementara untuk memberi ruang kepada kader yang ingin terjun ke politik praktis, sejumlah tokoh Muhammadiyah kemudian mendirikan Partai Muslimin Indonesia (Parmusi).

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow