Arif Jamali Muis Tekankan Growth Mindset dan Ta’awun Hadapi Tantangan Pendidikan Muhammadiyah
YOGYAKARTA — Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWM DIY), Arif Jamali Muis, M.Pd., menegaskan pentingnya perubahan cara pandang dan penguatan kualitas pendidikan Muhammadiyah di tengah tantangan demografi dan sosial yang kian kompleks. Hal tersebut ia sampaikan dalam sambutannya pada acara pelantikan kepala SMK Muhammadiyah Piyungan di Aula Gedung Muhammadiyah DIY, Kamis (8/1).
Arif Jamali Muis mengungkapkan bahwa dunia pendidikan saat ini menghadapi tantangan besar, khususnya di DIY. Penurunan angka kelahiran yang cukup drastis berdampak langsung pada berkurangnya jumlah peserta didik. Di sisi lain, tingkat kemiskinan di DIY yang masih tergolong tinggi turut memengaruhi partisipasi pendidikan masyarakat.
“Kondisi ini berimplikasi pada menurunnya minat bersekolah. Maka tidak ada pilihan lain selain memastikan kualitas pendidikan kita benar-benar dipandang baik oleh masyarakat,” tegasnya.
Ia menilai persoalan sistem penerimaan murid baru dan persaingan antar lembaga pendidikan merupakan keniscayaan yang harus dihadapi, sebagaimana yang juga dialami perguruan tinggi. Jika pendidikan hanya dibiarkan mengikuti “hukum rimba”, maka lembaga yang kuat akan terus bertahan, sementara yang lemah berpotensi tersingkir.
Menurutnya, jawaban atas tantangan tersebut terdapat dalam Risalah Islam Berkemajuan yang menuntut penerapan growth mindset dalam mengelola amal usaha Muhammadiyah. Paradigma ini memadukan nilai keagamaan, ilmu pengetahuan, dan kejernihan nurani dalam memandang dan mengembangkan lembaga pendidikan.
“Tidak bisa lagi lembaga kita berjalan biasa-biasa saja. Zaman berubah, generasi berubah. Amal usaha pendidikan harus adaptif, terbuka, dan bermutu,” ujarnya.
Arif juga menyoroti perubahan karakter generasi muda, termasuk dalam hal kepercayaan dan partisipasi. Menurutnya, generasi saat ini membutuhkan bukti nyata dan transparansi, baik dalam gerakan filantropi maupun dalam memilih lembaga pendidikan bagi generasi mereka.
“Anak-anak Muhammadiyah generasi sekarang tidak otomatis mau ke sekolah Muhammadiyah jika mutunya tidak baik. Ini tantangan ideologis sekaligus kualitas yang harus kita jawab bersama,” katanya.
Selain peningkatan mutu, ia menekankan pentingnya kesadaran kolektif dan semangat ta’awun atau saling menolong antar amal usaha Muhammadiyah. Paradigma fastabiqul khairat dinilai masih relevan, namun perlu dilengkapi dengan konsolidasi dan kerja sama agar tidak berjalan sendiri-sendiri.
Ia menegaskan bahwa sekolah Muhammadiyah tidak boleh merasa berjalan sendirian, termasuk dalam persoalan pembiayaan dan pengelolaan. Konsolidasi antar sekolah, Pimpinan Daerah Muhammadiyah, dan Majelis Dikdasmen & Pendidikan Nonformal menjadi kunci agar pendidikan Muhammadiyah di DIY tetap kuat dan berdaya saing.
“DIY adalah wajah Muhammadiyah. Kita harus menunjukkan bahwa pendidikan Muhammadiyah di DIY benar-benar berkualitas. Dengan kerja sama, kreativitas, dan ikhtiar yang berkelanjutan, saya yakin Allah akan menunjukkan jalan,” pungkasnya.
What's Your Reaction?
-
1
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow