UMY Perkuat Dakwah Islam Berkemajuan Lewat Pendidikan Tinggi dan PPDS
YOGYAKARTA — Perubahan zaman yang semakin kompleks menuntut perguruan tinggi tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menghadirkan nilai-nilai keislaman yang solutif dan relevan bagi masyarakat. Dalam konteks tersebut, Muhammadiyah menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi sebagai garda terdepan dakwah Islam berkemajuan, baik di tingkat nasional maupun global.
Hal ini disampaikan oleh Dr. Muhammad Ikhwan Ahada, S.Ag., M.A., Bendahara Badan Pengurus Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Ia menilai langkah strategis UMY, khususnya dalam pengembangan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), merupakan cerminan karakter dasar atau DNA Muhammadiyah yang senantiasa berupaya menjawab tantangan zaman.
“Saya pikir memang itulah salah satu DNA Muhammadiyah. UMY telah melakukan langkah-langkah luar biasa untuk mengantisipasi kebutuhan zaman, agar Muhammadiyah dapat hadir di skala nasional, bahkan global,” ungkapnya dalam acara Pelantikan Wakil Dekan, Ketua Program Studi, dan Sekretaris Program Studi PPDS Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UMY Periode 2026–2029, Senin (26/1), di Gedung AR Fachruddin Unit A Lantai 1 UMY.
Menurut Ikhwan, peran perguruan tinggi Muhammadiyah tidak dapat dilepaskan dari keputusan Muktamar Muhammadiyah terakhir yang menegaskan prinsip bahwa agama harus hadir dan menjadi solusi atas berbagai persoalan kehidupan.
Ia juga mengutip pandangan antropolog asal Jepang, Prof. Mitsuo Nakamura, yang menggambarkan Muhammadiyah sebagai “batu konglomerat”. Istilah tersebut digunakan untuk menjelaskan keunikan Muhammadiyah sebagai organisasi besar yang tersusun dari berbagai unsur, namun menyatu dalam ikatan yang kokoh.
Berdasarkan kajian Nakamura, Muhammadiyah memiliki tiga wajah utama, yakni sebagai perkumpulan (al-jam’iyyah) , persyarikatan (asy-syirkah) , dan pergerakan (al-harakah). Ketiganya menjadi fondasi gerak Muhammadiyah sejak didirikan pada 1912.
“Sebagai perkumpulan, Muhammadiyah dibangun dengan semangat berkumpul, bermusyawarah, serta kolektif-kolegial. Bahkan saya sering mengatakan, saking kuatnya semangat itu, andai besok kiamat, Muhammadiyah hari ini masih rapat untuk mendirikan lembaga pendidikan,” ujar Ikhwan yang juga Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dari semangat kolaborasi tersebut, lanjutnya, lahirlah berbagai amal usaha Muhammadiyah yang melampaui cara berpikir zamannya, termasuk di bidang pendidikan dan kesehatan.
“Perguruan tinggi harus berada di garda terdepan dalam ijtihad dan tajdid. Seluruh potensi akal, pikir, budi, bahkan ekonomi harus dikerahkan untuk menghadirkan Islam yang memajukan, mencerahkan, dan memerdekakan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ikhwan berharap pelantikan ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial, melainkan momentum penguatan peran perguruan tinggi Muhammadiyah dalam mencetak tenaga kesehatan unggul yang berkarakter Islam berkemajuan.
“Inilah bagian dari dakwah Muhammadiyah. Perguruan tinggi tidak hanya mencetak lulusan yang kompeten secara keilmuan, tetapi juga menghadirkan nilai Islam yang hidup dan bekerja nyata di tengah masyarakat,” pungkasnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow