News

News

MediaMU.COM

Jul 17, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang
Breaking
PCM Kalasan Jadikan Tahun Baru Hijriah Sebagai Momen Refleksi dan Penguatan Dakwah Muhammadiyah Agus Taufiqurrahman: Jika Otak Pintar dan Akhlak Baik Disatukan, Indonesia akan Maju Arif Jamali Muis: Center of Excellent Muhammadiyah Dimulai dari Gunungkidul Prihatin Kondisi Pengelolaan Sampah Ternate, Pemuda Lintas Iman Susun Rekomendasi untuk Pemerintah Ternate Guru Besar UAD Bicarakan Tantangan Kosmetik Halal di International Pharmacy Summer School UMY Ketua PPNI Bireuen Apresiasi Atas Berhasilnya Ummah Raih Akreditasi Baik Sekali  Dorong Peningkatan Ekonomi Umat, Lazismu Pusat Dan PWM Aceh Kerjasama Dengan Bank Danamon Syariah  Selamat Jalan Bu Ahang, Kami Semua Ikhlas PWA DIY Gelar EMKAES TOP, Upayakan Bersama Kebahagian Lansia Ibu Nahar Miladi Dimakamkan, Satu Lokasi dengan Mantan Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir Sampaikan Duka Cita atas Wafatnya Nahar Miladi Mahasiswa UMY Kembangkan Ekstrak Kulit Pohon Bangkal untuk Obati Kanker Payudara Anak Muda Mengaji: Inovasi AMM Depok dalam Kegiatan Mengaji untuk Gen-Z KABAR DUKA: Istri Sekretaris PWM DIY Meninggal Dunia  Gelar Pelatihan Jurnalistik, MPI DIY Siapkan Aktivis Media Muhammadiyah di Daerah dan Cabang Rayakan Milad ke-22 Tahun, Lazismu Siap Berkontribusi Pada Pembangunan Berkelanjutan Penuhi Undangan Dialog Yayasan Kristen, Haedar Nashir Bicara Gagasan Moderasi Beragama Agung Danarto: Muhammadiyah Butuh Kader Berkualitas Untuk Umat, Bangsa, dan Manusia Dalam Apel Akbar Nasional Kokam, Haedar Nashir Tegaskan Kiprah Muhammadiyah untuk Bangsa Upayakan Penanganan Bullying di Kalangan Pelajar, PP IPM Gelar Sekolah Adil Gender

Royal Jewellery Museum

MESIR — Royal Jewellery Museum atau museum perhiasan di kota Alexandria adalah sebuah museum yang menempati bangunan istana peristirahatan milik Raja Mohammad Ali Pasha, yang menyimpan perhiasan milik keluarga kerajaan.

Bangunan dari museum ini dibangun oleh Zaenab pada tahun 1919. Namun baru bisa diselesaikan dan ditempati oleh putrinya, Fatma.

Pengunjung bila akan masuk museum ini tiketnya lumayan mahal, yaitu 100 Pounds Egypt untuk orang asing dan 50 Pounds Egypt untuk orang Mesir. Dan tentunya, tarif separoh untuk yang berstatus pelajar.

 

Namun dengan membayar itu, akhirnya kita akan serius menikmati koleksi museum yang berada di sini.

“Eman-eman wong wis mbayar larang je,” batin saya.

Menikmati museum itu, kita selalu dengan penjagaan ketat petugas. Karena tampaknya, bangunan dan isinya merupakan aset penting negara.

Bangunan ini seluruhnya — baik eksterior maupun interior — dipenuhi dengan gaya Eropa. Dekorasi di dalam bangunan sangat luar biasa karena menggambarkan kehidupan bangsawan Eropa lengkap dengan pestanya.

Interior bangunannya pun masih sangat terjaga dengan baik. Dan hal itu diperlihatkan sebagai bagian dari koleksi museum, seperti kamar mandi dan sebagainya. Namun di atas semuanya, koleksi perhiasan emas keluarga kerajaan Mesir itu memang sangat luar biasa. Bahkan, di sini juga disimpan undangan pernikahan Fatma yang terbuat dari emas. Makanya, pengamanan bangunan ini juga sangat maksimal. Yaitu, dengan ditempatkannya edukator dan pemadam kebakaran di setiap ruangan.

O iya, selain itu, bangunan ini masih memasang karpet aslinya. Sehingga untuk masuk di dalamnya kita akan diberi alas sepatu dari plastik atau kain.

Meski begitu, penataan ruangan cukup baik dan rapi sehingga membuat kita nyaman melihat koleksinya.

Satu hal yang menjadi catatan bahwa kekayaan Kerajaan Mesir dalam hal perhiasan memang sudah ada sejak zaman Fir’aun. Hal itu nanti akan terlihat di National Museum di Kairo.

Seolah, emas itu hanya mengambil dengan sangat mudah.

Inilah keelokan bumi ambiya Mesir yang kisahnya ada di dalam Al Qur’an. O ya, museum ini juga diminati oleh rombongan pelajar. Karena kami datang bersamaan dengan mereka. Artinya, koleksi di sini sangat menarik juga untuk dinikmati anak-anak.

Di museum ini bukan hanya koleksinya yang luar biasa, namun bangunannya juga merupakan koleksi yang utama.

Catatan untuk MuseumMu, kerapihan penataan koleksi penting untuk diperhatikan. Jangan sampai terkesan untek-untekan karena akan membuat tidak nyaman.

Sekali lagi, edukator penting sekali. Di sini bukan sebagai guide, tapi edukator pengunjung. (Hj Widiyastuti, SS, M.Hum)

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here