Pelatihan PFA IMM Jateng-DIY Tekankan Pentingnya Safeguarding dalam Aksi Kemanusiaan
MAGELANG — Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Jawa Tengah bersama Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah DI Yogyakarta menggelar pelatihan bertajuk Holistic IMM Care di Magelang, Jumat (23/5). Dalam pelatihan paralel Psychological First Aid (PFA) tersebut, peserta dibekali materi mengenai safeguarding dan etika relawan kebencanaan sebagai bagian penting dalam aksi kemanusiaan.
Materi bertema “Safeguarding dan Etika Relawan Kebencanaan” disampaikan oleh Misran Lubis dari Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PP Muhammadiyah. Materi ini bertujuan memberikan pemahaman kepada peserta mengenai konsep safeguarding serta prinsip perlindungan dalam aksi kemanusiaan agar relawan mampu menjalankan tugas secara aman, profesional, dan beretika.
Dalam pemaparannya, Misran menegaskan bahwa safeguarding tidak hanya berkaitan dengan kebencanaan, tetapi juga menyangkut upaya melindungi kelompok rentan dengan meminimalisasi risiko serta mencegah terjadinya kekerasan maupun perilaku tidak etis.
“Jika peristiwa sudah terjadi maka korban tetap menjadi korban, sebesar apa pun upaya yang dilakukan,” ujarnya.
Karena itu, relawan dituntut mampu mengidentifikasi potensi risiko sejak awal, mulai dari kondisi pengungsian, alat transportasi, hingga relasi kuasa yang dapat memengaruhi keselamatan dan martabat penyintas.
Ia juga mengingatkan bahwa bantuan kemanusiaan tidak boleh melukai martabat penyintas. Relawan harus menjaga prinsip netralitas, tidak diskriminatif, serta tidak menambah beban psikologis maupun sosial korban.
Menurutnya, masyarakat penyintas umumnya berada dalam kondisi rentan sehingga keputusan kecil dari relawan dapat berdampak besar terhadap keselamatan dan kenyamanan mereka.
Dalam sesi interaktif, peserta diajak memberikan pendapat terhadap sejumlah persoalan etika relawan. Salah satunya terkait dokumentasi bantuan yang tidak boleh sembarangan dipublikasikan di media sosial tanpa mempertimbangkan privasi penyintas.
Peserta juga diajak memahami bahwa pelecehan seksual tidak hanya berbentuk sentuhan fisik, tetapi juga dapat terjadi secara verbal maupun digital.
Selain itu, Misran menegaskan bahwa relawan tidak boleh memaksa korban untuk diwawancarai demi kebutuhan laporan.
“Tidak memberikan informasi adalah informasi, tidak mau diwawancarai adalah sebuah informasi,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa prinsip utama safeguarding adalah memastikan kehadiran relawan tidak menambah risiko ataupun penderitaan bagi korban.
Materi turut membahas komponen utama safeguarding, meliputi pencegahan, pelaporan, respons, dan standar etika. Peserta dikenalkan dengan pentingnya jalur pelaporan yang jelas, respons cepat terhadap pelanggaran, serta penerapan kode etik dalam organisasi kemanusiaan, termasuk di lingkungan Muhammadiyah melalui Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PP Muhammadiyah, Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) PP Muhammadiyah, dan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).
Pelatihan berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari peserta yang aktif menyampaikan pendapat dan refleksi terkait etika relawan. Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan mampu memahami pentingnya budaya perlindungan dalam aksi kemanusiaan serta menjunjung tinggi keselamatan, martabat, dan hak penyintas dalam setiap kegiatan kerelawanan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow