Muktamar XV Nasyiatul 'Aisyiyah Resmi Dibuka, 5.000 Lebih Kader Padati Edutorium UMS

Muktamar XV Nasyiatul 'Aisyiyah Resmi Dibuka, 5.000 Lebih Kader Padati Edutorium UMS

Smallest Font
Largest Font

SURAKARTA — Muktamar ke-15 Nasyiatul 'Aisyiyah resmi dibuka pada Jumat (7/8) di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Forum permusyawaratan tertinggi organisasi perempuan muda Muhammadiyah ini mengusung tema "Perempuan Muda Berkemajuan untuk Peradaban Berkelanjutan."

Pembukaan Muktamar dihadiri Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir beserta jajaran, Ketua PP 'Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini beserta jajaran, perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kota Surakarta, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah K.H. Tafsir beserta jajaran, Ketua Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah Jawa Tengah Eny Winaryati, perwakilan organisasi otonom tingkat pusat, para alumni Nasyiatul 'Aisyiyah, suami dan anak-anak kader Nasyiatul 'Aisyiyah, serta warga Muhammadiyah Solo Raya.

Ketua Umum Pimpinan Wilayah Nasyiatul 'Aisyiyah Jawa Tengah, Monica Subastia, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya karena Jawa Tengah dipercaya menjadi tuan rumah Muktamar XV.

"Kami menyambut dan membuka pintu rumah kami selebar-lebarnya untuk seluruh kader Nasyiatul 'Aisyiyah se-Indonesia," ujarnya.

Monica mengungkapkan, sebanyak 875 kader telah terdaftar sebagai peserta Muktamar, terdiri atas perwakilan pimpinan wilayah hingga pimpinan cabang Nasyiatul 'Aisyiyah. Sementara pada pembukaan, sekitar 5.000 kader dari berbagai daerah di Indonesia memadati lokasi acara.

"Sebagai tuan rumah, kami mengucapkan selamat bermuktamar. Semoga seluruh rangkaian persidangan berjalan lancar dan membawa kemajuan bagi Nasyiatul 'Aisyiyah," katanya.

Sementara itu, Ketua Umum PP Nasyiatul 'Aisyiyah, Ariati Dina Puspitasari, menyampaikan apresiasi kepada seluruh kader yang hadir dari berbagai penjuru Tanah Air. Ia menuturkan, banyak kader menempuh perjalanan panjang demi mengikuti Muktamar, mulai dari Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Maluku, hingga Papua. Bahkan, ada yang menempuh perjalanan menggunakan kapal serta membawa suami dan anak untuk turut mendampingi.

Kota Surakarta (Solo) memiliki makna historis bagi Nasyiatul 'Aisyiyah karena menjadi tempat penyelenggaraan Muktamar pertama secara otonom dan mandiri pada tahun 2000. Kembalinya Muktamar Nasyiatul 'Aisyiyah ke kota ini membawa semangat baru untuk merumuskan arah perjuangan organisasi dalam menyongsong abad kedua Nasyiatul 'Aisyiyah.

"Bagi kami, Muktamar bukan sekadar forum empat tahunan untuk menyampaikan laporan pertanggungjawaban dan memilih pimpinan baru. Muktamar adalah ruang meneguhkan niat, mengingat kembali alasan organisasi ini didirikan, serta memastikan estafet perjuangan terus berlanjut," ujarnya.

Ia mengajak seluruh kader menjadikan Muktamar sebagai momentum muhasabah untuk memastikan keberadaan Nasyiatul 'Aisyiyah benar-benar memberi manfaat bagi keluarga, bangsa, dan agama sesuai dengan visi organisasi.

Dalam pidatonya, Ariati juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi perempuan muda saat ini, mulai dari pesatnya transformasi digital, persoalan keluarga, kesehatan mental generasi muda, ketidakpastian ekonomi, hingga krisis iklim. Menurutnya, kondisi tersebut menuntut Nasyiatul 'Aisyiyah untuk terus beradaptasi, berinovasi, dan menghadirkan dakwah yang relevan dengan perkembangan zaman.

"Organisasi perempuan muda seperti Nasyiatul 'Aisyiyah tidak cukup hanya bertahan, tetapi harus mampu membaca zaman, beradaptasi, dan terus berinovasi untuk menghadirkan dakwah berkemajuan," tegasnya.

Ariati mengakui selama masa kepemimpinannya masih terdapat berbagai kekurangan dan keputusan yang mungkin belum sepenuhnya memenuhi harapan seluruh kader. Namun, ia menegaskan bahwa kepemimpinan bukan tentang menghadirkan kesempurnaan, melainkan menjaga arah perjuangan agar tetap berjalan di atas nilai-nilai yang benar.

Ia juga memaparkan berbagai program yang telah dijalankan selama empat tahun terakhir, seperti SAMARA Corps untuk penguatan keluarga muda, PASHMINA bagi remaja, layanan paralegal bagi perempuan korban kekerasan, Gerakan Mengaji Nasyiatul 'Aisyiyah, RALINA untuk penguatan literasi, Green Nasyiah di bidang lingkungan, BUANA dan APUNA untuk pemberdayaan ekonomi, hingga Program Baroroh Baried yang mendukung kader melanjutkan studi.

Bagi Ariati, kekuatan terbesar Nasyiatul 'Aisyiyah bukan terletak pada banyaknya program, melainkan pada ketulusan kader yang terus bergerak di berbagai daerah meski dengan keterbatasan.

"Kami menemukan kader yang mengajar mengaji sepulang bekerja, mendampingi perempuan korban kekerasan tanpa pernah meminta namanya disebut, menghidupkan cabang dan ranting dengan segala keterbatasannya, bahkan ibu-ibu muda yang tetap aktif bermusyawarah sambil menggendong anak. Saya yakin kekuatan Nasyiatul 'Aisyiyah terletak pada ketulusan kader yang bergerak dalam sunyi karena percaya dakwah adalah amanah dari Allah SWT," tuturnya.

Menjelang berakhirnya masa kepemimpinan periode 2022–2026, Ariati juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh kader atas segala kekurangan selama memimpin organisasi.

"Dengan segala kerendahan hati, saya mewakili seluruh Pimpinan Pusat Nasyiatul 'Aisyiyah periode 2022–2026 memohon maaf apabila ada keputusan, perkataan, maupun ikhtiar yang belum mampu memenuhi harapan seluruh kader," ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa dirinya dan jajaran pimpinan yang akan segera demisioner tidak berpamitan dari perjuangan karena seorang kader Nasyiatul 'Aisyiyah tidak pernah pensiun dari pengabdian.

Di akhir pidatonya, Ariati menitipkan pesan kepada kepemimpinan yang akan datang agar terus membesarkan organisasi dengan kasih sayang, keteladanan, serta semangat persaudaraan.

"Besarkanlah organisasi ini dengan keteladanan, satukan kader dengan kepercayaan, dan wariskan organisasi ini dalam suasana persaudaraan. Mari kita songsong Muktamar ke-15 dan abad kedua Nasyiatul 'Aisyiyah dengan keyakinan yang teguh," pungkasnya.

Pembukaan Muktamar ke-15 Nasyiatul 'Aisyiyah berlangsung meriah dengan berbagai penampilan kesenian daerah Kota Surakarta dan puncaknya penyanyi religi kondang, Sulis Cinta Rasul membawakan lagu-lagu andalannya seperti "Ya Thayyibah", "Ummi", dan lainnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow