MPM PWM DIY Optimalisasi Potensi Ekspor Mocaf Gunungkidul ke Pasar Internasional
GUNUNGKIDUL — Upaya untuk mengangkat potensi ekonomi masyarakat terus digerakkan oleh Muhammadiyah. Baru – baru ini, Focus Group Discussion (FGD) diadakan oleh Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (MPM PWM DIY) bersama Direktorat Riset dan Pengabdian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dengan tema “Peluang Ekspor Mocaf Gunungkidul di Pasar Internasional” diselenggarakan oleh pada Kamis (24/7) di Balai Padukuhan Kemiri, Kalurahan Kemiri, Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kabupaten Gunungkidul di Daerah Istimewa Yogyakarta, dikenal sebagai kawasan penghasil singkong terbesar yang saat ini mulai mengoptimalkan potensi lokal lewat pengembangan produk Mocaf (Modified Cassava Flour/Tepung Singkong Termodifikasi). Inovasi pengolahan singkong menjadi mocaf telah menghadirkan peluang ekonomi baru dan mendorong daerah ini menjadi salah satu sentra penggerak ekspor pangan alternatif di Indonesia.
Pengembangan mocaf sebagai komoditas unggulan Gunungkidul membutuhkan sinergi banyak pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha, komunitas hingga akademisi. Focus Group Discussion (FGD) dan berbagai program pemberdayaan yang dilakukan sejumlah lembaga, seperti Majelis Pemberdayaan Masyarakat, aktif menghadirkan pelatihan, literasi, jejaring pemasaran hingga inovasi teknologi agar Mocaf benar-benar menjadi produk andalan daerah.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Desa Kemiri Payadi, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua MPM PWM DIY, Agus Amin Syaifudin SP MSc. Diskusi ini mengundang narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi di bidang kebijakan internasional serta pemerintahan, yaitu Ari Kusuma Paksi, S.IP., M.A., Ph.D. (Dosen Hubungan Internasional UMY), dan M. Eko Atmojo, S.IP., M.IP. (Dosen Ilmu Pemerintahan FISIPOL UMY).
Ari Kusuma menekankan perubahan dalam perdagangan global dan menilai tepung mocaf sebagai komoditas yang punya peluang strategis seiring meningkatnya permintaan masyarakat terhadap pangan sehat dan produk bebas gluten.
Eko Atmojo menggarisbawahi pentingnya pengelolaan kelembagaan yang baik serta peran aktif pemerintah desa dalam memperkokoh rantai nilai pertanian mulai dari tahap awal hingga proses ekspor.
FGD dihadiri oleh Bagian Perekonomian dan Kerja Sama Sekretariat Daerah Kabupaten Gunungkidul, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Gunungkidul, Dinas Perindustrian, Koperasi, UKM, dan Tenaga Kerja, dan Dinas Perdagangan Daerah Istimewa Yogyakarta. Peserta diskusi berasal dari beragam pemangku kpentingan seperti Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) DIY, Kelompok Tani Ngudisari, pelaku usaha setempat, dan tokoh masyarakat.
Dengan komitmen yang berkelanjutan dalam pengembangan produk, peningkatan kualitas, serta pemanfaatan teknologi dan jejaring pemasaran yang lebih luas, mocaf berpotensi menjadi simbol kemandirian ekonomi Gunungkidul. Ke depan, peran aktif seluruh pemangku kepentingan sangat dibutuhkan untuk memastikan keberlanjutan dan daya saing mocaf di pasar internasional, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas serta mampu memperkuat perekonomian daerah berbasis potensi lokal.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow