Kisah Muhamad Patullah, Mahasiswa UAD yang Fokus Studi Berkat Beasiswa Tahfidz 30 Juz

Kisah Muhamad Patullah, Mahasiswa UAD yang Fokus Studi Berkat Beasiswa Tahfidz 30 Juz

Smallest Font
Largest Font

YOGYA - Menyeimbangkan tuntutan akademik di perguruan tinggi dengan komitmen menjaga hafalan Al-Qur’an bukanlah perkara mudah. Namun bagi Muhamad Patullah Darmawansyah, mahasiswa Program Studi Sistem Informasi Fakultas Sains dan Teknologi Terapan Universitas Ahmad Dahlan (UAD), tantangan tersebut kini terasa lebih ringan berkat dukungan penuh dari Beasiswa Program Misi Hafidz Qur’an (BPM HQ) UAD. Sejak resmi menjadi penerima BPM HQ pada semester pertama tahun 2025, Patullah, sapaan akrabnya, mendapatkan beasiswa yang mencakup pembebasan seluruh biaya pendidikan, mulai dari Iuran Pengembangan Institusi (IPI), SPP, hingga biaya yudisium dan wisuda.

"Beasiswa ini membebaskan saya dari biaya pendidikan. Selain itu, saya juga mendapatkan bantuan biaya asrama, sehingga bisa lebih fokus belajar tanpa harus terlalu memikirkan biaya hidup dan pendidikan," ujar Patullah saat diwawancarai via Whatsapp pada Kamis (16/10).

Patullah bukanlah penghafal Al-Qur’an yang instan. Perjalanannya dimulai sejak usia TK dengan menghafal surat-surat pendek. Pada usia 9 tahun, ia mulai berguru secara serius di Serang, Banten, dan berhasil memiliki hafalan tiga juz: Juz 28, 29, dan 30 saat lulus SD. Hafalan 30 juz berhasil ia tuntaskan saat kelas 11 SMA, setelah melanjutkan pendidikan di pondok pesantren milik keluarganya. Total waktu yang ia tempuh untuk mengkhatamkan hafalan adalah kurang lebih 12 tahun. Motivasinya mendaftar BPM HQ sangat jelas, ingin terus menjaga dan meningkatkan hafalan Al-Qur’an. 

"Di UAD, penerima beasiswa tidak hanya diterima begitu saja, tetapi juga dibina agar tetap istiqamah dalam menjaga hafalan, akhlak, akademik, serta prestasi," jelas mahasiswa asal Kota Serang ini.

Program BPM HQ UAD memiliki proses seleksi yang ketat. Dari 176 pendaftar, hanya 27 peserta yang lolos seleksi berkas. Tahapan selanjutnya meliputi:

  1. Ujian Al-Islam Kemuhammadiyahan dan Kemampuan Akademik Dasar.

  2. Wawancara program studi.

  3. Tes hafalan Al-Qur’an (melanjutkan ayat secara acak untuk menguji kelancaran).

Sebagai penerima beasiswa, Patullah wajib memenuhi sejumlah target:

  1. Hafalan: Wajib lulus Ujian Bersama Tahsin dan Tahfidz LPSI UAD.

  2. Akademik: Mempertahankan IPK dan IPS minimal 3,00.

  3. Organisasi: Aktif di organisasi otonom (Ortom) Muhammadiyah (IMM, HW, atau Tapak Suci).

  4. Asrama: Diwajibkan tinggal di asrama PERSADA selama satu tahun pertama.

Selain itu, ia juga mendapatkan pembinaan rutin Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, serta difasilitasi dalam pengembangan akademik dan non-akademik.

Untuk menyeimbangkan antara kuliah, tugas, organisasi, dan hafalan, Patullah mengandalkan manajemen waktu yang disiplin. "Waktu pagi setelah shalat Subuh saya gunakan untuk murajaah (mengulang hafalan) karena suasananya tenang dan pikiran masih segar," ungkapnya.

Sementara waktu siang hingga sore difokuskan untuk kuliah, dan malam hari kembali mengulang hafalan agar tetap melekat kuat. Patullah juga menyebutkan bahwa tantangan terberat adalah rasa ingin menyerah dan kecewa ketika ayat yang sudah diulang berkali-kali masih sulit dihafal atau tiba-tiba terlupa. Ia mengatasinya dengan beristirahat sejenak, berbicara dengan orang tua atau guru, dan memperbanyak do’a.

Bagi Patullah, Beasiswa Program Misi Hafidz Qur’an (BPM HQ) memiliki makna mendalam. Ia melihatnya sebagai pengingat dan tanggung jawab agar senantiasa menjaga dan mengamalkan hafalan Al-Qur’an, serta terus memperbaiki kualitas bacaannya. Ia juga meyakini bahwa penghafal Al-Qur’an akan selalu dimudahkan dan diberi petunjuk hidupnya. 

Ke depannya, ia berharap dapat terus menjaga hafalan Al-Qur’an agar tetap kuat dan mutqin (kokoh). Dalam bidang studi, ia berharap ilmu yang dipelajari di perkuliahan dapat selaras dengan nilai-nilai Al-Qur’an, sehingga ia dapat menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak, serta bermanfaat bagi masyarakat.

Kepada mahasiswa lain yang ingin menghafal Al-Qur’an ia berpesan, "Tetaplah istiqamah dan jangan mudah menyerah. Fokuslah pada proses, bukan hanya hasil. Perbanyak doa agar Allah memudahkan hafalan, jaga niat agar tetap lurus karena Allah, dan cari lingkungan seperti guru dan teman yang mendukungmu dalam berproses".

Oleh: Rindan Nur Aini, Mahasiswa Magang Prodi PBSI UAD

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    3
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow