Ketua LDK PWM DIY Raih Kalpataru 2026, Gerakan Sedekah Sampah Muhammadiyah Diakui Nasional

Ketua LDK PWM DIY Raih Kalpataru 2026, Gerakan Sedekah Sampah Muhammadiyah Diakui Nasional

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Prestasi membanggakan kembali diraih kader Muhammadiyah. Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta, Ananto Isworo, S.Ag., menerima Penghargaan Kalpataru 2026, penghargaan tertinggi pemerintah di bidang lingkungan hidup.

Penghargaan tersebut diberikan pada Kamis (11/6) atas dedikasi Ananto dalam mengembangkan Gerakan Sedekah Sampah berbasis Eco Masjid yang telah ia rintis dan jalankan sejak 2013. Kalpataru sendiri merupakan penghargaan yang dianugerahkan kepada individu maupun kelompok yang menunjukkan komitmen dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup secara berkelanjutan, serta diberikan setiap tahun bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Ananto menyampaikan bahwa penghargaan ini bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan pengakuan negara terhadap model pengelolaan sampah berbasis rumah ibadah dan sekolah yang selama ini dikembangkan bersama berbagai elemen masyarakat.

“Diakuinya Gerakan Sedekah Sampah oleh pemerintah menjadi penguat bagi kami untuk mengampanyekan lebih luas lagi gerakan ini di berbagai rumah ibadah dan sekolah. Ini membuktikan bahwa gerakan tersebut telah memberikan kontribusi nyata terhadap pengurangan dan pengelolaan sampah,” ujarnya dalam wawancara kepada Mediamu, Jumat (12/6).

Sejak dimulai pada 2013, Gerakan Sedekah Sampah telah berkembang pesat. Di Kabupaten Bantul saja terdapat lebih dari 532 komunitas sedekah sampah berbasis masyarakat. Secara nasional, gerakan ini telah direplikasi di sekitar 300 rumah ibadah lintas agama, 12 perguruan tinggi, ratusan sekolah, serta tersebar di 26 provinsi dengan berbagai latar belakang komunitas.

Di lingkungan Muhammadiyah, Ananto bersama PWM DIY, sekolah-sekolah Muhammadiyah, dan LAZISMU juga telah meluncurkan program Sedekah Sampah Berbasis Sekolah yang melibatkan 20 sekolah sebagai proyek percontohan. Program tersebut tidak hanya mendorong pengurangan sampah, tetapi juga membangun budaya pengelolaan sampah sejak usia dini.

Menurut Ananto, masjid dipilih sebagai pusat gerakan karena memiliki kedekatan dengan masyarakat sekitar. Jamaah umumnya tinggal dalam radius yang relatif dekat sehingga sampah dapat dikelola di lingkungan terdekat tanpa harus menempuh rantai distribusi yang panjang menuju tempat pembuangan akhir.

“Ketika sampah selesai dikelola di lingkungan masjid, maka perjalanan sampah menjadi lebih pendek, jejak karbon berkurang, dan masyarakat memiliki tanggung jawab langsung terhadap sampah yang mereka hasilkan,” jelasnya.

Ia menambahkan, jika ratusan ribu masjid di Indonesia mengelola sampah jamaahnya masing-masing, dampaknya akan sangat besar terhadap pengurangan volume sampah nasional. Konsep serupa juga dapat diterapkan di gereja, pura, vihara, sekolah, kampus, hingga komunitas masyarakat.

Mekanisme Gerakan Sedekah Sampah sendiri tergolong sederhana. Warga cukup memilah sampah dari rumah, mengumpulkan sampah yang masih bernilai ekonomi, lalu menyetorkannya ke masjid, rumah ibadah, atau komunitas pengelola sampah terdekat. Hasil penjualannya kemudian dimanfaatkan untuk kegiatan filantropi seperti beasiswa pendidikan, bantuan kesehatan, santunan dhuafa, hingga program kemanusiaan.

Ananto menilai bahwa tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah di Indonesia bukan terletak pada teknologi, melainkan perubahan pola pikir masyarakat atau mindset.

“Saya fokus pada perubahan mindset, sebab 80 persen persoalan sampah adalah soal cara pandang masyarakat, sedangkan teknologi hanya 20 persen. Jika mindset berubah, sampah akan dipandang sebagai komoditas yang memiliki nilai, bukan sekadar masalah,” tegasnya.

Ia mencontohkan negara-negara maju seperti Jepang, Jerman, dan Swedia yang berhasil mengelola sampah karena masyarakatnya telah memiliki kesadaran tinggi untuk memilah dan memanfaatkan sampah sejak dari sumbernya. Bahkan, sampah residu yang secara akademis katanya tidak bisa diolah dan tidak punya nilai jual nilai guna, justru bagi industri yang punya teknologi untuk mengolahnya bisa jadi komoditas. Inilah mindset dari negara maju.

Lebih jauh, Ananto melihat Muhammadiyah memiliki potensi besar untuk menjadi pelopor gerakan lingkungan berbasis komunitas. Dengan ribuan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, dan masjid yang dimiliki, Muhammadiyah dinilai mampu membangun sistem pengelolaan sampah mandiri sekaligus mengembangkan filantropi lingkungan.

Ia berharap gerakan sedekah sampah dapat menjadi bagian dari budaya warga Muhammadiyah, bukan sekadar program seremonial. Menurutnya, penguatan kurikulum lingkungan, pemanfaatan jejaring organisasi, serta aktivasi masjid sebagai pusat pemberdayaan masyarakat akan menjadi langkah strategis dalam mewujudkan keadilan iklim dan pengelolaan sampah berkelanjutan.

“Masjid tidak hanya menjadi pusat ibadah mahdhah, tetapi juga pusat pemberdayaan dan kepedulian lingkungan. Dari sampah yang dikelola dengan baik, lahir manfaat untuk pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, dan keberlanjutan bumi,” pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow