Hadir di Pengukuhan DPD IMM DIY, DPP IMM Tekankan Transformasi Sistem hingga Perilaku untuk Kader

Hadir di Pengukuhan DPD IMM DIY, DPP IMM Tekankan Transformasi Sistem hingga Perilaku untuk Kader

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) menekankan bahwa agenda transformasi organisasi adalah hal penting yang harus dilaksanakan oleh segenap pimpinan IMM di seluruh tingkatan. 

Dalam Pengukuhan Dewan Pimpinan Daerah IMM DI Yogyakarta periode 2025–2027 di Amphiteater Gedung AR Fachrudin Fakultas Kedokteran Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Sabtu (31/1), Ketua DPP IMM Bidang Riset dan Teknologi, Muhammad Akmal Ahsan, M.Pd., menyampaikan bahwa substansi pelantikan bukan sekadar seremoni.

“Substansi pelantikan adalah jadi momentum awal agar satu periode kepemimpinan IMM dapat tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan. Organisasi ini tidak hanya bicara program dan struktur, tetapi juga bagaimana nilai agama dan nilai sosial itu menyatu dalam gerak kader dan kepemimpinan,” ujarnya.

Menurut keyakinan Akmal, agenda transformasi IMM setidaknya harus dijalankan melalui tiga aspek utama, yakni sistem, budaya, dan perilaku. Pertama, transformasi sistem dinilai menjadi fondasi penting agar organisasi tidak bergantung pada improvisasi semata dari ketua umum, yang kerap membuat arah gerak organisasi tidak terukur.

“Kalau mau berubah, sistemnya harus berubah. Rapat kerja di awal periode harus benar-benar menjadi pijakan, agar tidak ada program di akhir periode yang tidak nyambung dengan rencana awal,” tegasnya. Ia juga menilai bahwa IMM DIY memiliki keunggulan karena tidak memiliki sejarah penokohan berlebihan pada satu individu.

Aspek kedua adalah transformasi budaya organisasi. Akmal menyoroti kecenderungan budaya “sibuk” yang belum tentu produktif di tubuh IMM. Misalnya, ada rapat digelar sampai 4 jam yang malah sebagian besar dihabiskan cuma untuk bergosip, dan budaya seperti itu harus dihilangkan di IMM.

Menurut keyakinan Akmal, rapat yang berlarut-larut tanpa orientasi hasil justru menghambat efektivitas gerakan. “Memang organisasi harus tetap menghargai proses, tetapi juga harus jelas orientasi hasilnya,” ungkap Ketua Umum DPD IMM DIY periode 2020-2022 itu.

Sementara itu, transformasi ketiga menyangkut perubahan perilaku kader. Akmal mengingatkan bahwa mimpi besar dan gagasan revolusioner harus dimulai dari kedisiplinan dan konsistensi dalam hal-hal kecil dan sederhana, termasuk dalam ibadah dan etos pribadi.

“Kita sering memimpikan transformasi dan revolusi serta hal-hal besar, tetapi bagaimana itu bisa terwujud jika sekadar bangun untuk salat Subuh saja sulit?” tanya Akmal.

Ia mencontohkan teladan para pimpinan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang mampu menyatukan etos keagamaan dan keilmuan dalam kehidupan sehari-hari, seperti kebiasaan membaca, menulis, salat tepat waktu, serta keberpihakan pada umat melalui aksi nyata di lapangan.

Dalam sambutannya, Akmal juga berpesan kepada para demisioner IMM agar segera mengambil keputusan strategis dalam kehidupan pasca lengser. Ia menegaskan bahwa jejaring tidak akan bermakna tanpa kompetensi, maka ia mengingatkan kader IMM untuk tidak bergantung pada akses personal atau “orang dalam”.

“Kita harus membangun kompetensi diri. Jaringan itu hanya akan bekerja jika ditopang kemampuan,” katanya.

Menutup sambutannya, Akmal menyampaikan ucapan selamat kepada DPD IMM DIY yang baru dikukuhkan. Ia menyebut momentum ini sebagai waktu yang tepat bagi IMM DIY untuk melangkah lebih jauh di tingkat nasional.

“Sudah waktunya IMM DIY tidak hanya menjadi muazin, tetapi menjadi imam. Ingat juga, bahwa seluruh tapak perjuangan ini harus diniatkan semata-mata karena Allah SWT,” pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow