Buka Puasa Perdana IC UAD, Ketua PWA DIY Tegaskan Ramadan sebagai Sekolah Etika Kepemimpinan

Buka Puasa Perdana IC UAD, Ketua PWA DIY Tegaskan Ramadan sebagai Sekolah Etika Kepemimpinan

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Momentum buka puasa pertama Ramadan di Universitas Ahmad Dahlan dimaknai dengan kajian bertema “Ramadan dan Etika Kepemimpinan: Membangun Integritas dan Tanggung Jawab Sosial dalam Berorganisasi”. Kegiatan yang berlangsung di Masjid Islamic Center UAD ini dihadiri sivitas akademika serta masyarakat umum.

Kajian disampaikan oleh Dr. Widiastuti S.Ag., M.M., Ketua Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWA DIY) menjelang waktu berbuka puasa. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar momentum menahan lapar dan haus, melainkan bulan tarbiyah atau pendidikan karakter yang relevan dengan pembentukan etika kepemimpinan.

Menurutnya, ibadah puasa melatih keselarasan antara hati, lisan, dan perbuatan. Nilai inilah yang menjadi fondasi utama integritas seorang pemimpin.

“Kepemimpinan tidak hanya soal jabatan formal, tetapi juga bagaimana seseorang mampu memimpin dirinya sendiri, keluarga, organisasi, hingga masyarakat,” ujarnya.

Dalam kajian tersebut, jamaah diajak meneladani kepemimpinan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam kehidupan sehari-hari maupun aktivitas berorganisasi. Empat sifat utama Rasulullah dijelaskan sebagai landasan etika kepemimpinan: siddiq (jujur), amanah (bertanggung jawab), tabligh (komunikatif dan transparan), serta fathonah (cerdas dan visioner).

Widiastuti juga menekankan pentingnya tanggung jawab sosial yang terasah selama Ramadan melalui zakat, infak, dan sedekah. Ia mengingatkan bahwa sedekah tidak terbatas pada materi, melainkan juga dapat berupa perhatian, kesediaan mendengarkan, hingga memberikan solusi bagi sesama.

Aspek komunikasi turut menjadi sorotan. Ia menyampaikan bahwa sebagian besar aktivitas manusia berkaitan dengan komunikasi, sehingga kemampuan menyampaikan pesan secara bijak dan efektif menjadi kunci membangun organisasi yang sehat dan berintegritas.

Di akhir kajian, jamaah diajak menjadikan Ramadan sebagai momentum pembentukan jiwa kepemimpinan sejak dini. Latihan itu dapat dimulai dari peran sederhana, seperti memimpin kelas, organisasi mahasiswa, maupun komunitas sebagai bekal menjadi pemimpin yang amanah dan bertanggung jawab di masa depan.

Kajian ditutup dengan harapan agar nilai-nilai kepemimpinan yang dicontohkan Rasulullah terinternalisasi dalam diri setiap individu selama bulan suci Ramadan dan terus diterapkan dalam kehidupan berorganisasi serta bermasyarakat.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow