Agung Danarto: Saatnya Muhammadiyah Perkuat Pilar Ekonomi dengan Semangat Al-Ma’un
YOGYA – Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Agung Danarto, menegaskan pentingnya penguatan sektor ekonomi sebagai pilar baru gerakan Muhammadiyah, berdampingan dengan pendidikan dan kesehatan yang telah lebih dahulu berkembang. Menurutnya, penguatan ekonomi merupakan implementasi nyata dari semangat teologi Al-Ma’un yang selama ini menjadi ruh gerakan Muhammadiyah.
“Sudah saatnya Muhammadiyah mendorong umat Islam, khususnya warga persyarikatan, untuk memperkuat dimensi ekonomi. Esensi pertolongan dalam surat Al-Ma’un bukan hanya pendidikan dan kesehatan, tetapi juga kesejahteraan, yaitu ekonomi,” ujar Agung dalam Pembukaan Muhammadiyah Jogja Expo #4, Jumat (12/9).
Ia menjelaskan, persoalan ekonomi seperti kemiskinan dan pengangguran masih menjadi masalah besar bangsa Indonesia. Karena itu, Muhammadiyah sejak 2015 telah menetapkan ekonomi sebagai pilar ketiga gerakan, setelah pendidikan dan kesehatan.
Agung menekankan, ekonomi yang dikembangkan Muhammadiyah bukanlah ekonomi kapitalistik yang hanya mengejar keuntungan, melainkan ekonomi berbasis pemberdayaan masyarakat. Model yang diutamakan adalah ekonomi padat karya agar dapat menyerap banyak tenaga kerja, sekaligus menjadi solusi bagi pengangguran dan kemiskinan.
“Ekonomi yang harus kita kembangkan adalah ekonomi yang mampu mengatasi kemiskinan. Bukan sekadar padat modal atau teknologi, tetapi juga padat karya sehingga banyak tenaga kerja terserap. Dengan begitu, pengangguran berkurang, kemiskinan pun menurun,” tegasnya.
Ia pun mengapresiasi upaya Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWM DIY) yang terus mendorong pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui Muhammadiyah Jogja Expo. Menurutnya, sektor ini relevan karena menyangkut hajat hidup banyak orang dan membuka kesempatan kerja luas bagi masyarakat.
Lebih lanjut, Agung mengingatkan bahwa membangun pilar ekonomi tidak bisa instan. Sama seperti pendidikan dan kesehatan yang digarap Muhammadiyah sejak lama, penguatan ekonomi juga membutuhkan waktu panjang. Kegagalan di awal, menurutnya, harus dimaknai sebagai proses belajar.
“Para pengusaha hampir semuanya pernah gagal, bahkan berkali-kali. Kalau Muhammadiyah gagal sekali dua kali, anggap saja itu sekolah yang paling baik. Itu bagian dari pendidikan untuk melangkah lebih maju,” ungkapnya.
Agung menutup dengan ajakan agar seluruh elemen Muhammadiyah, simpatisan, dan masyarakat luas bersama-sama membangun ekonomi umat dengan semangat Al-Ma’un. “Bukan motivasi kapitalistik, bukan untuk memperkaya diri, tetapi untuk mengentaskan kemiskinan dan mengurangi pengangguran,” pungkasnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow