Kasus Baru PMK Muncul di Ngawi, Dosen UMY: Vaksinasi Bukan Pencegahan Rutin

Kasus Baru PMK Muncul di Ngawi, Dosen UMY: Vaksinasi Bukan Pencegahan Rutin

Smallest Font
Largest Font

NGAWI — Vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) kembali digalakkan di sejumlah daerah menyusul temuan 30 ekor sapi terjangkit virus PMK di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur pada Selasa (10/2). Meski demikian, vaksinasi PMK memiliki karakter berbeda dibanding vaksin penyakit hewan lainnya yang bersifat pencegahan rutin.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. drh. Tri Wulandari K., M.Kes., menjelaskan bahwa vaksinasi PMK direkomendasikan ketika terjadi wabah, bukan sebagai langkah rutin di wilayah yang telah dinyatakan bebas PMK.

“Vaksin PMK dapat menurunkan tingkat keparahan gejala, tetapi tidak sepenuhnya mencegah infeksi. Hewan yang sudah divaksin masih mungkin terinfeksi, hanya saja gejalanya lebih ringan atau bahkan tanpa gejala,” jelasnya.

Menurutnya, pemahaman ini penting agar peternak tidak memiliki persepsi keliru bahwa vaksin sepenuhnya membuat ternak kebal terhadap virus.

Selain itu, drh. Tri juga mengingatkan potensi risiko yang kerap luput dari perhatian, yakni peran babi dalam penyebaran virus PMK. Meski tidak menunjukkan gejala mencolok, babi dapat menjadi inang yang efektif bagi virus untuk berkembang dan dikeluarkan dalam konsentrasi tinggi. Kondisi ini meningkatkan risiko penularan ke ternak lain, khususnya sapi yang lebih rentan.

Ketika suatu wilayah telah dinyatakan bebas PMK, strategi pengendalian tidak lagi bertumpu pada vaksinasi, melainkan pada penguatan sistem biosekuriti di tingkat peternakan. Pengelolaan kesehatan hewan yang disiplin dan kebersihan kandang menjadi kunci utama mencegah kemunculan kembali wabah.

Peternak diimbau untuk menjaga kebersihan kandang dan lingkungan, memastikan ternak dalam kondisi sehat, serta menerapkan manajemen kesehatan yang baik.

“Jika hewan dalam kondisi sehat dan lingkungan terjaga, imunitas tubuh dapat melawan infeksi secara alami. Hingga saat ini belum ada obat yang dapat membunuh virus PMK, sehingga penguatan imunitas melalui manajemen kesehatan yang baik sangat penting,” tegasnya.

Lebih lanjut, peternak diminta segera melapor kepada otoritas terkait apabila menemukan gejala mencurigakan pada ternaknya. Respons cepat dinilai krusial untuk mencegah penyebaran yang lebih luas.

Keberhasilan pengendalian PMK, lanjut drh. Tri, sangat bergantung pada kesadaran dan ketepatan langkah para peternak dalam menjaga kebersihan serta kesehatan ternak mereka. Dengan kolaborasi yang kuat antara peternak dan otoritas kesehatan hewan, potensi wabah dapat ditekan secara efektif.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow