Sempat Alami Tantangan Konstruksi, Tol Jogja-Bawen Seksi 1 dan 6 Ditargetkan Beroperasi Tahun Ini

Sempat Alami Tantangan Konstruksi, Tol Jogja-Bawen Seksi 1 dan 6 Ditargetkan Beroperasi Tahun Ini

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Dua seksi Jalan Tol Jogja–Bawen ditargetkan mulai beroperasi pada 2026. Direktur Utama PT Jasamarga Jogja Bawen, A.J. Dwi Winarsa, menyebut progres pembangunan Seksi 1 (Jogja–Bawen Rejo) sepanjang 8,8 kilometer telah mencapai 89,80 persen, sementara Seksi 6 di kawasan Bawen telah menembus 96 persen.

“Keduanya akan beroperasi di tahun ini,” ujar Dwi Winarsa dalam Seminar Nasional Transformasi Sistem Transportasi Perkotaan yang diselenggarakan Program Studi Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta bekerja sama dengan Forum Studi Transportasi Perguruan Tinggi (FSTPT), Sabtu (11/4).

Secara keseluruhan, Jalan Tol Jogja–Bawen memiliki panjang 75,12 kilometer dan melintasi wilayah Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kota Magelang, Kabupaten Temanggung, hingga Kabupaten Semarang. Jika seluruh trase rampung pada 2028–2029, waktu tempuh Yogyakarta–Semarang diproyeksikan menyusut drastis, dari sekitar tiga jam menjadi kurang dari satu jam.

Di balik capaian tersebut, Dwi mengungkap sejumlah tantangan konstruksi di lapangan. Salah satu yang krusial adalah perubahan desain di kawasan Selokan Mataram yang berstatus cagar budaya. Desain awal saat tender belum mempertimbangkan aspek tersebut, sehingga setelah koordinasi dengan Pemerintah Provinsi DIY, struktur yang semula dirancang single tier harus diubah menjadi portal. Perubahan ini berdampak pada peningkatan biaya konstruksi.

Selain itu, tim proyek juga menghadapi kondisi tanah lunak di area Bawen, penemuan sejumlah situs yang mengharuskan penyesuaian trase, serta potensi aliran debris di kawasan lereng Gunung Merapi yang membutuhkan penanganan teknis khusus.

Dwi juga menyoroti aspek pembagian risiko dalam skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Menurutnya, berbagai kondisi tak terduga kerap muncul setelah proses tender dan akhirnya menjadi beban Badan Usaha Jalan Tol (BUJT), mulai dari selisih biaya akibat perubahan desain, kompleksitas perizinan lintas instansi, hingga ketidakpastian dalam pengadaan tanah.

“Perlu ada kajian ulang terkait pembagian risiko yang lebih adil dan proporsional antara pemerintah dan investor agar kelayakan investasi tetap terjaga,” tegasnya.

Tol Jogja–Bawen merupakan bagian dari jaringan tol Joglosemar (Jogja–Solo–Semarang) yang akan terintegrasi dengan Tol Jogja–Solo dan Tol Semarang–Solo. Selain mempercepat mobilitas, kehadiran tol ini juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya di kawasan wisata sepanjang koridor Yogyakarta, Magelang, Temanggung, hingga Ambarawa.

Seminar ini menjadi bagian dari rangkaian Rapat Tengah Tahun FSTPT yang menempatkan UMY sebagai tuan rumah, dengan menghadirkan akademisi, praktisi, serta pemangku kebijakan transportasi dari berbagai daerah.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow