Rojolele Reborn, Ikhtiar Muhammadiyah Wujudkan Kedaulatan Pangan
KLATEN — Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menghidupkan kembali semangat pengembangan padi Rojolele melalui program Kick Off Rojolele Reborn. Program tersebut ditandai dengan tanam bersama varietas padi Rojolele-104 di Gempol, Kabupaten Klaten, Kamis (20/8).
Ketua MPM PP Muhammadiyah, M. Nurul Yamin, mengatakan program tersebut menjadi langkah awal pemberdayaan masyarakat di sektor pertanian, khususnya dalam memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan melalui komoditas padi.
Menurut Yamin, Rojolele Reborn merupakan upaya untuk kembali menguatkan pengembangan varietas padi yang selama ini menjadi salah satu identitas pertanian Kabupaten Klaten. Rojolele sebelumnya telah diresmikan oleh Pemerintah Kabupaten Klaten pada 2013, kemudian Muhammadiyah mulai mengambil peran dalam pengembangannya pada 2017.
“Momentum hari ini bukan hanya sekadar simbolik kita tanam raya padi Rojolele, tetapi juga berkenaan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Ini menjadi momentum untuk membangun kemerdekaan dan kedaulatan pangan Indonesia,” ujar Yamin.
Ia menegaskan, pemberdayaan kelompok tani merupakan bagian dari konsekuensi Muhammadiyah sebagai organisasi yang sejak awal hadir untuk memberdayakan masyarakat dan bangsa, bahkan sebelum Indonesia merdeka.
“Karena itu, pemberdayaan masyarakat melalui sektor pertanian menjadi bagian penting dari ikhtiar Muhammadiyah untuk membangun kemandirian masyarakat,” lanjutnya.
Dukungan terhadap program tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, KH. Tafsir. Ia menilai pengembangan Rojolele sangat relevan dilakukan di Klaten yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung padi Jawa Tengah.
Tafsir mengapresiasi MPM PP Muhammadiyah yang kembali mendorong penanaman padi Rojolele di wilayah tersebut. Menurutnya, Rojolele memiliki nilai dan branding yang kuat sebagai salah satu varietas beras khas Klaten.
“Kita tahu Klaten adalah bagian dari lumbung padi Jawa Tengah. Rojolele adalah sebuah branding yang luar biasa untuk beras,” ungkapnya.
Namun, Tafsir berharap Rojolele tidak hanya dikenal sebagai beras yang dikonsumsi kelompok tertentu. Ke depan, ia ingin beras Rojolele dapat semakin mudah dijangkau oleh berbagai lapisan masyarakat.
Ia juga mendorong agar Indonesia tidak hanya berorientasi memenuhi kebutuhan pangan domestik, tetapi mulai memperkuat kapasitas produksi hingga mampu menembus pasar internasional.
“Maka mungkin sudah saatnya kita berpikir tidak sekadar impor, tetapi juga ekspor. Tidak sekadar untuk memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi sudah saatnya kita ekspor ke negara lain,” katanya.
Pada tahap awal, penanaman padi Rojolele-104 dilakukan di tiga wilayah Cabang Muhammadiyah. Di Gempol, penanaman dilakukan pada lahan seluas 8.000 m², kemudian di Ceper seluas 5.500 m², dan Prambanan seluas 3.000 m².
Program Kick Off Rojolele Reborn mengusung tema “Meningkatkan Kapasitas Produksi dan Kelembagaan Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM)”.
Program tersebut merupakan hasil kerja sama MPM PP Muhammadiyah, PT Danone Indonesia, dan JATAM MPM PDM Klaten.
Melalui Rojolele Reborn, Muhammadiyah tidak hanya mendorong peningkatan produksi padi, tetapi juga memperkuat kelembagaan petani agar mampu menjadi bagian dari ekosistem pangan yang mandiri, produktif, dan berkelanjutan.
Ikhtiar tersebut sekaligus menegaskan bahwa kedaulatan pangan tidak cukup dibangun melalui peningkatan produksi semata, tetapi membutuhkan pemberdayaan petani, penguatan kelembagaan, serta keberanian mengembangkan komoditas lokal agar memiliki daya saing lebih luas.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow