PWM DIY Apresiasi Ketangguhan Gerakan Muhammadiyah Bantul, Tekankan Penguatan Akar Rumput

PWM DIY Apresiasi Ketangguhan Gerakan Muhammadiyah Bantul, Tekankan Penguatan Akar Rumput

Smallest Font
Largest Font

BANTUL — Resepsi Milad ke-113 Muhammadiyah yang digelar Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bantul turut menghadirkan sambutan dari Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Dr. H. Nur Ahmad Ghojali, S.Ag., M.A., serta tausiyah dari Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si., Rektor Universitas Muhammadiyah Gombong. Keduanya menyoroti ketangguhan gerakan Muhammadiyah Bantul dan pentingnya karakter kader yang berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Dr. Nur Ahmad Ghojali menyampaikan apresiasi atas keberhasilan PDM Bantul menyelenggarakan rangkaian Milad yang dinilai sebagai salah satu yang paling meriah di DIY. Ia menilai, antusiasme jalan sehat yang mencapai 35.000 peserta menjadi bukti kuatnya soliditas dan kohesi sosial warga Muhammadiyah Bantul.

“Perjalanan Muhammadiyah di Bantul sangatlah istimewa. Sejak masa awal pembaruan Kiai Ahmad Dahlan, dakwah Muhammadiyah telah menyentuh berbagai wilayah seperti Jetis, Pleret, Imogiri hingga Srandakan melalui para guru, saudagar, dan pemuda yang menjadi pelopor,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa akar gerakan Muhammadiyah di Bantul telah tumbuh kuat sejak era 1960-an, ketika cabang dan ranting mulai tersebar hingga seluruh kapanewon. Kehadiran rumah sakit, sekolah, klinik, pesantren, hingga kampus modern di Bantul disebutnya sebagai capaian penting yang harus terus dijaga.

Lebih jauh, Ghojali mengingatkan pentingnya prinsip menghidupkan Muhammadiyah hingga tingkat paling dasar. Masjid-masjid, ranting, dan amal usaha harus tetap menjadi pusat dakwah yang aktif.

“Resepsi ini bukanlah akhir. Pasca milad, gerakan harus tetap menyala dan memberi manfaat seluas-luasnya, sebagaimana pesan Prof. Haedar. Muhammadiyah harus hidup di ruang-ruang terkecil sampai akar rumput,” tegasnya.

Kemudian, dalam tausiyahnya, Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si. menekankan pentingnya karakter bagi setiap kader Muhammadiyah. Ia merumuskan empat karakter utama yang harus terus dijaga. Pertama, suka membantu (lumo). Seorang Muhammadiyah harus menolong dalam keadaan lapang maupun sempit, sesuai perintah Al-Qur’an dalam Ali Imran:133.

Kedua, ikhlas dalam beramal. Keikhlasan menjadi syarat utama gerakan. “Anggota Muhammadiyah harus ikhlas hadir, belajar, dan mengabdi. Jangan menjadi kader musiman,” ujarnya.

Ketiga, seimbang antara dunia dan akhirat. Merujuk surat Al-Qashash ayat 77, ia menegaskan bahwa orientasi hidup Muhammadiyah adalah mengurus dunia sekaligus akhirat atau jalan Islam Wasathiyah yang moderat dan memberi maslahat bagi semua.

Keempat, jujur dan sederhana. Prof. Sofyan mencontohkan keteladanan para tokoh Muhammadiyah yang hidup sederhana dan menjunjung kejujuran. Bahkan, KH. AR Fakhruddin yang merupakan Ketua Umum PP Muhammadiyah 1968-1990 tidak memiliki rumah pribadi sampai beliau wafat.

“Sekali tidak jujur, maka akan terus berlanjut. Karena itu kejujuran adalah fondasi pendidikan Muhammadiyah sejak Kiai Dahlan," tegas Bendahara Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah itu.

Kedua tokoh ini sepakat bahwa capaian besar Muhammadiyah Bantul harus ditindaklanjuti dengan penguatan gerakan yang lebih menyentuh akar rumput, terutama di masjid, ranting, dan amal usaha. Ketangguhan Muhammadiyah Bantul yang pernah terbukti pada masa penanganan pascagempa 2006 menjadi modal besar untuk menguatkan peran sosial, pendidikan, ekonomi, dan dakwah di masa mendatang.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow