PCIM Malaysia Bertransformasi Jadi Ruang Advokasi dan Perlindungan Pekerja Migran
KUALA LUMPUR — Di tengah kompleksitas isu Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Malaysia, Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia mengambil langkah progresif untuk memperkuat perannya sebagai garda depan perlindungan warga migran.
Melalui agenda penguatan kapasitas yang digagas bersama Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PP Muhammadiyah di Rumah Hamka, Gombak, Sabtu (8/8), PCIM Malaysia memosisikan diri sebagai wadah komunitas yang siap mendampingi PMI dari akar rumput.
Sebagai simpul gerakan masyarakat di luar negeri, PCIM Malaysia menekankan pentingnya pendekatan holistik yang berfokus pada tiga pilar utama: legalitas, keterampilan, dan penguatan komunitas.
Sekretaris Lembaga Hubungan dan Kerjasama Internasional (LHKI) PP Muhammadiyah, Yayah Khisbiyah, menegaskan bahwa perlindungan nyata bagi pekerja migran tidak bisa hanya mengandalkan regulasi di atas kertas. PCIM Malaysia hadir untuk mengisi ruang krusial sebagai komunitas yang responsif dan berpengetahuan.
“Perlindungan pekerja migran tidak cukup hanya melalui kebijakan. Dibutuhkan komunitas yang memiliki pengetahuan, kepedulian, dan kemampuan untuk saling mendukung ketika menghadapi persoalan,” ujar Yayah. Lewat penguatan kapasitas ini, PCIM Malaysia diproyeksikan menjadi jaringan sosial yang memfasilitasi PMI dalam mengakses informasi resmi hingga mendapatkan pendampingan saat berhadapan dengan masalah.
Aspek legalitas dan pendataan juga menjadi fokus utama dalam gerakan ini. Mengingat dari data yang tercatat di KBRI Kuala Lumpur baru sekitar 546.000 PMI yang terdaftar secara sah dari total keberadaan yang belum terhitung pasti, PCIM Malaysia turut mendorong kesadaran para pekerja untuk tertib administrasi sejak awal.
Wakil Duta Besar KBRI Kuala Lumpur, Danang Waskito, menyambut baik keterlibatan aktif PCIM Malaysia sebagai mitra strategis dalam menjangkau masyarakat. “Jangan sampai ketika sudah mengalami masalah baru melapor kepada perwakilan pemerintah. Pelaporan sejak awal penting agar keberadaan warga Indonesia dapat diketahui,” tutur Danang.
Selain aspek hukum dan pendataan, PCIM Malaysia juga mendorong peningkatan kapasitas diri para pekerja migran. Wakil LHKI PP Muhammadiyah, Wachid Ridwan, menyebutkan bahwa peningkatan keterampilan merupakan daya tawar utama pekerja migran di negara tujuan agar mendapatkan perlakuan dan hak kerja yang lebih baik.
Senada dengan hal tersebut, Agung Rachmat Hidayat menyoroti pentingnya integrasi seluruh elemen advokasi. Menurutnya, kesiapan PCIM Malaysia dalam merangkul aspek legalitas, pelatihan keterampilan, dan pendampingan berbasis komunitas adalah bentuk advokasi terpadu yang sangat dibutuhkan PMI saat ini.
Langkah PCIM Malaysia ini mempertegas komitmen Muhammadiyah dalam memperluas peran organisasi di mancanegara. Bukan sekadar wadah bersosialisasi bagi warga Indonesia di Negeri Jiran, PCIM Malaysia kini memantapkan posisinya sebagai rumah aman (safe space), pusat edukasi, dan pilar pendampingan mandiri yang melengkapi upaya perlindungan negara bagi para pahlawan devisa.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow