Pagelaran Seni Sentakamudya UMY 2026: Padukan 3 Budaya Jawa
YOGYAKARTA — Kesenian tradisional dari tiga penjuru Pulau Jawa, yakni Pacitan, Banyuwangi, dan Yogyakarta, berpadu dalam satu panggung pada Pagelaran Seni Sentakamudya (PSS) 2026 yang diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sentakamudya Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Pertunjukan yang digelar di Auditorium Besar Sekolah Menengah Musik (SMM), Ahad malam (28/6), menjadi ruang apresiasi sekaligus upaya pelestarian seni tradisional di kalangan generasi muda.
Pagelaran menghadirkan empat sajian seni yang merepresentasikan kekayaan budaya Nusantara dari berbagai daerah. Pertunjukan dibuka dengan Tari Baduk Molan, tarian tradisional khas Pacitan yang biasa dipentaskan dalam prosesi ruwatan tolak balak di wilayah Tegalombo. Tarian tersebut memikat penonton melalui gerak yang jenaka dan improvisatif dengan iringan gamelan Jawa.
Penampilan kemudian berlanjut dengan Konser Medley Karawitan yang membawakan dua karya, yakni Langgang Ella Elok, narasi musikal tentang dinamika asmara dan kerinduan, serta komposisi berbentuk teka-teki berbahasa Jawa karya Kijong Romasito (1959) yang sarat kritik sosial.
Suasana panggung semakin semarak melalui Tari Jejer Jaran Dawuk, tarian tradisional khas Banyuwangi ciptaan Sumitro pada 1981 yang awalnya dibawakan oleh penari pria sebagai bagian dari perayaan musim panen. Pagelaran kemudian dilanjutkan dengan Tari Golek Ayun-Ayun, tari klasik Yogyakarta karya KRT. Sasminta Mardawa yang menggambarkan perjalanan seorang gadis Jawa menuju kedewasaan.
Puncak pertunjukan ditandai dengan pementasan sendratari kolosal SAS-PA (Sasmita Pati) yang mengangkat kisah Ki Ageng Mangir Wanabaya, pemimpin tanah perdikan Mangir yang menolak tunduk kepada Mataram hingga akhirnya dikalahkan melalui siasat Panembahan Senopati.
Ketua Umum UKM Sentakamudya UMY, Febrina Putri Humaira Latuconsina, mengatakan keberagaman repertoar yang ditampilkan merupakan wujud komitmen untuk menghadirkan seni sebagai media pemersatu sekaligus sarana pelestarian budaya.
"Kami percaya bahwa seni adalah nafas budaya, cerminan jiwa, dan kekuatan yang mampu menyatukan beragam perbedaan," ujarnya.
Febrina juga menekankan pentingnya penggunaan gamelan dalam setiap penampilan pada PSS 2026. Menurutnya, kehadiran alat musik tradisional tersebut bukan sekadar pelengkap pertunjukan, tetapi menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan seni tradisional di lingkungan kampus.
"Kehadiran gamelan bukan hanya akan menunjang proses latihan dan pembelajaran, tetapi juga menjadi bentuk dukungan nyata terhadap keberlangsungan pelestarian seni tradisional di lingkungan kampus UMY," tuturnya.
PSS 2026 sekaligus menjadi penutup rangkaian Pekan Kesenian Muda Mendunia (PAKEM) 2026, yakni kompetisi Lomba Tari Kreasi tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta yang telah berlangsung sehari sebelumnya, Sabtu (27/6), di lokasi yang sama.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow