Mudzakarah KBIHU ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta Konsolidasikan Pembimbing Haji 2027

Mudzakarah KBIHU ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta Konsolidasikan Pembimbing Haji 2027

Smallest Font
Largest Font

SLEMAN — Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta memperkuat kesiapan para pembimbing untuk mendampingi calon jemaah haji 2027. Penguatan dilakukan melalui Mudzakarah KBIHU ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta sebagai forum penyamaan persepsi, berbagi pengalaman, sekaligus evaluasi pembimbingan.

Mudzakarah digelar KBIHU ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta bersinergi dengan Lembaga Pembinaan Haji dan Umrah (LPHU) PDM Kota Yogyakarta pada Ahad (27/9) di Griya Limasan Resto, Klampok, Sleman. Kegiatan dihadiri jajaran PDM dan PDA Kota Yogyakarta, pengurus, serta seluruh pembimbing KBIHU.

Forum tersebut menjadi bagian dari persiapan pelaksanaan manasik haji beregu yang akan dimulai pada Ahad (18/10/2026). Selain menjadi ruang penguatan kompetensi pembimbing, mudzakarah juga digunakan untuk melakukan pemetaan jemaah sebagai dasar pembentukan regu.

KBIHU ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta sendiri telah memulai rangkaian manasik bagi jemaah haji 2027 sejak 31 Mei 2026. Pembinaan dilakukan melalui sejumlah metode, mulai dari manasik klasikal pada Ahad pertama setiap bulan, manasik beregu setiap pekan, praktik manasik, penguatan regu, rombongan, dan kafilah, hingga pemantapan menjelang keberangkatan ke Tanah Suci.

Manasik klasikal terakhir bagi jemaah haji 2027 dijadwalkan pada Ahad (18/10/2026). Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan pembukaan manasik beregu. KBIHU ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta juga menyediakan layanan manasik haji intensif bagi jemaah yang membutuhkan pendampingan khusus.

Mudzakarah diawali dengan materi “Penguatan Pembimbingan Manasik Haji Beregu” yang disampaikan Dewan Pakar LPHU PP Muhammadiyah, Drs. H. Yusuf Abdul Hasan, M.Ag.

Yusuf membahas konsep dasar dan urgensi pembimbingan manasik haji beregu, sekaligus menelaah dokumen pokok serta buku panduan yang digunakan dalam pendampingan jemaah.

Ia menekankan pentingnya kesamaan visi dalam pembimbingan. Menurutnya, pembimbingan manasik tidak sekadar bertujuan agar jemaah mengetahui tata cara ibadah, tetapi juga membentuk jemaah yang mampu melaksanakan ibadah haji secara mandiri sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.

“Visi pembimbingan manasik haji beregu adalah terwujudnya jemaah haji yang mandiri dan mampu melaksanakan ibadah haji secara mandiri sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ,” tegasnya.

Visi tersebut, lanjut Yusuf yang akrab disapa Uyah, harus dapat terlihat dalam profil dan kompetensi jemaah setelah mengikuti pembimbingan. Setidaknya terdapat tiga aspek kompetensi yang perlu dicapai, yaitu kompetensi pengetahuan (KP), kompetensi sikap (KS), dan kompetensi kecakapan (KK).

Di dalam ketiga aspek tersebut juga terdapat nilai keadaban sebagai salah satu unsur penentu kesuksesan haji. Hal tersebut sejalan dengan konsep Tri Sukses Haji, yakni sukses manasik, sukses ekosistem, dan sukses berkeadaban.

“Buku panduan manasik haji beregu tahun ini disusun dengan menyesuaikan beberapa perubahan yang mendukung tercapainya visi agar kompetensi bisa tercapai,” jelasnya.

Menurut Yusuf, pencapaian kompetensi jemaah sangat bergantung pada kemampuan pembimbing dalam menciptakan proses pembelajaran yang kondusif. Karena itu, rekonstruksi pembelajaran, penyempurnaan buku panduan, dan penguatan berbagai elemen pendukung akan terus dilakukan.

“Semua membutuhkan kemampuan para pembimbing dalam menciptakan pembelajaran yang kondusif untuk jemaah. Rekonstruksi pembelajaran dan buku panduan serta semua elemen pendukung lainnya akan terus kita lakukan untuk konsep pembimbingan yang lebih baik bagi calon tamu Allah,” tandasnya.

Ketua PDM Kota Yogyakarta, H. Aris Madani, S.Pd.I., M.S.I., dalam pengarahan mudzakarah menekankan bahwa forum tersebut bukan sekadar rapat atau kegiatan rutin.

Menurut Aris, istilah mudzakarah berasal dari kata dzakara yang berarti mengingat. Karena itu, mudzakarah mengandung makna saling mengingatkan dan menjadi ruang pertukaran ilmu serta pemikiran untuk meningkatkan pemahaman agama dan menyelesaikan persoalan umat.

“Menjadi majelis ilmu, fikir, dzikir, sekaligus amal,” ujarnya.

Aris yang juga merupakan pembimbing KBIHU ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta mengingatkan besarnya amanah yang berada di pundak para pembimbing. Para jemaah telah mempersiapkan diri dalam waktu panjang untuk menunaikan ibadah haji dan membawa harapan agar ibadah mereka berjalan dengan baik sesuai tuntunan.

Ia meminta para pembimbing menjaga kepercayaan masyarakat terhadap KBIHU ‘Aisyiyah.

“Allah menitipkan KBIHU ‘Aisyiyah yang paling dipercaya oleh masyarakat. KBIHU ‘Aisyiyah adalah wajah Muhammadiyah di mata jemaah, sesuai dengan tagline kita, ‘Melayani Jemaah Haji dengan Sepenuh Hati Sesuai dengan Tuntunan Rasulullah ﷺ,’” ujarnya.

Aris juga mengingatkan agar para pembimbing menjaga kemurnian tuntunan Nabi ﷺ sesuai pandangan Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah.

“Jaga kepercayaan umat. Satu-satunya KBIHU milik kita jangan sampai mengecewakan masyarakat. Jaga kemurnian tuntunan Nabi ﷺ sesuai pandangan Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah. Jangan tergiur ibadah yang tidak dicontohkan oleh Nabi ﷺ,” pesannya.

Ketua KBIHU ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta, Ir. H. Rowi Sutaryo, menegaskan pentingnya meningkatkan kebermanfaatan pembimbingan agar para calon tamu Allah memiliki kesiapan yang matang dalam meraih kemabruran.

“Mudzakarah ini adalah untuk menyamakan persepsi, persiapan haji 2027, dengan meyakinkan para jemaah agar mantap persiapannya sejak dari Tanah Air, selama di Tanah Suci, dan ketika kembali ke Tanah Air,” jelasnya.

Rowi juga menyampaikan sejumlah informasi terkini mengenai penyelenggaraan haji. Salah satunya terkait pengkloteran yang masih dinamis dan belum tentu sama dengan tahun sebelumnya.

Dalam pembimbingan terkait fikih, lanjutnya, para pembimbing telah memiliki tuntunan dari Majelis Tarjih. Sementara persoalan teknis sangat kondisional sehingga membutuhkan pemahaman serta respons yang cepat dan tepat.

Ia mencontohkan persoalan teknis pelaksanaan dam haji yang masih berkembang. Menurutnya, fatwa tarjih telah memperbolehkan pelaksanaan dam di Tanah Air karena memiliki sejumlah manfaat.

Rowi juga meminta para pembimbing memastikan setiap informasi yang disampaikan kepada jemaah memiliki validitas yang jelas.

“Mohon informasi ke jemaah kita jaga validitasnya. Selalu mengingatkan kepada jemaah dalam setiap pertemuan untuk menjaga kondisi. Seminggu atau dua minggu ke depan akan ada pelunasan. Bila jemaah ada riwayat penyakit risti (risiko tinggi), selalu diingatkan untuk rajin menjaga dan memantau kesehatannya,” imbuhnya.

Penanggung jawab Mudzakarah, Joko Wisono, S.Pd.I., menggarisbawahi sejumlah hasil forum dan kebijakan pengurus KBIHU ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta.

Pertama, para pembimbing diminta terus meningkatkan kompetensi, terutama penguasaan materi serta kreativitas dalam mengelola pembelajaran manasik beregu. Hal tersebut dinilai berkorelasi langsung dengan kualitas keluaran pembimbingan bagi jemaah.

Para pembimbing juga diminta siap hadir dalam pelaksanaan manasik beregu yang dimulai Ahad (18/10) di Masjid Islamic Centre Universitas Ahmad Dahlan.

Kedua, bersamaan dengan pelaksanaan manasik haji beregu bagi jemaah 2027, KBIHU ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta akan mulai mendampingi calon jemaah haji 2028 melalui manasik klasikal yang dilaksanakan secara berkelanjutan.

Ketiga, KBIHU ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta akan mengikuti Expo yang digelar Kementerian Haji dan Umrah pada 23-25 Oktober 2026 di Hotel Rohan. KBIHU akan membuka stan dengan mengusung semangat Tri Sukses Haji dan mengajak para pembimbing berpartisipasi aktif sebagai relawan.

Kegiatan mudzakarah ditutup dengan pembagian regu dan pembimbing berdasarkan wilayah/kemantren. Pembentukan regu tersebut mempertimbangkan efektivitas proses pembelajaran manasik.

Pengurus menegaskan bahwa pembagian regu dalam proses pembimbingan tidak otomatis menjadi pembagian regu ketika pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci. Dinamika kelompok selama proses pembimbingan tetap menjadi bagian dari ikhtiar KBIHU ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta untuk membantu jemaah meraih ketakwaan sebagai bekal terbaik dalam berhaji.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow