MPI PCM Depok Gelar Pelatihan MC dan Keprotokolan, Siapkan Kader Tampil Profesional Menata Acara
SLEMAN — Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Depok menggelar Pelatihan Pembawa Acara (MC) dan Keprotokolan di SMP Muhammadiyah 1 Depok, Sleman, Sabtu (3/10). Kegiatan ini diikuti sekitar 78 peserta yang terdiri atas kader dan warga Muhammadiyah se-Cabang Depok, jamaah pengajian, serta masyarakat umum.
Pelatihan digelar sebagai upaya meningkatkan kemampuan warga persyarikatan dalam menata acara sekaligus menjalankan tugas sebagai pembawa acara dan petugas protokol secara tertata, profesional, dan berwibawa.
Koordinator Panitia, Suyitno, M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut dilatarbelakangi kebutuhan PCM Depok yang cukup sering menerima kunjungan dari para tokoh nasional, mulai dari pejabat kementerian, Pimpinan Pusat Muhammadiyah, pemerintah provinsi, kabupaten, kapanewon (kecamatan), hingga kalurahan.
“Depok sering kedatangan tamu dari tingkat nasional maupun internasional. Karena itu, protokol dan MC perlu ditata dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Suyitno menambahkan, pelatihan tersebut juga menjadi bagian dari ikhtiar mewujudkan cita-cita almarhum H. Muhammad Ichsan, Ketua PCM Depok yang berpulang pada September 2026. Almarhum sejak beberapa tahun lalu menginginkan adanya penataan kemampuan MC dan keprotokolan di lingkungan PCM Depok.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi amal jariah bagi almarhum sekaligus berlanjut dalam bentuk pembinaan setelah pelatihan.
“Insya Allah nanti ada follow up yang akan dikelola oleh MPI,” kata Suyitno.
Antusiasme peserta dalam kegiatan tersebut juga terbilang tinggi. Panitia sebelumnya mencatat 69 peserta dalam tahap pendaftaran, tetapi jumlah peserta yang hadir pada hari pelaksanaan justru mencapai sekitar 78 orang.
Wakil Ketua PCM Depok, Ahmad Afandi, S.Ag., M.S.I., mengatakan pelatihan tersebut merupakan salah satu kegiatan yang sejak lama menjadi perhatian PCM Depok. Menurutnya, pelatihan MC dan keprotokolan pernah dilakukan pada periode sebelumnya, tetapi belum berlanjut secara berkesinambungan.
“Pak Ketua (almarhum H. Muhammad Ichsan) ingin pokoknya (pelatihan) harus diadakan. Ketika ada bantuan dari PDM, ini harus dimanfaatkan,” tuturnya.
Ia menjelaskan, bantuan dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman dimanfaatkan untuk tiga kegiatan, yakni Pengajian Ahad Pagi PCM Depok, pelatihan mubaligh dan mubalighat, serta pelatihan MC dan keprotokolan.
Menurut Afandi, kemampuan keprotokolan menjadi penting karena berbagai kegiatan Muhammadiyah di Depok kerap menghadirkan tamu kehormatan dari pemerintah maupun pimpinan persyarikatan. Penataan tamu, tempat duduk, urutan acara, hingga penghormatan kepada tamu harus dilakukan sesuai ketentuan.
“Kalau tidak punya protokoler, akhirnya awur-awuran. Padahal ada tata cara untuk mengatur protokol,” katanya.
Selain keprotokolan, ia menekankan pentingnya MC memahami karakter dan kekhasan acara Muhammadiyah. Seorang MC tidak hanya dituntut mampu membacakan susunan acara, tetapi juga harus mampu membangun suasana melalui pengantar, improvisasi, artikulasi, serta pemilihan ungkapan yang sesuai dengan konteks acara.
Ahmad juga menyoroti pentingnya penguasaan khazanah persyarikatan oleh MC Muhammadiyah, ‘Aisyiyah, maupun organisasi otonom lainnya. Menurutnya, ciri khas tersebut dapat ditampilkan, antara lain, melalui pembukaan dan penutupan acara yang sesuai dengan tradisi masing-masing organisasi.
“Kalau acaranya acara Muhammadiyah, tonjolkan ciri khasnya. Itu harus menjadi khazanah yang dimiliki oleh MC Muhammadiyah,” ujarnya.
Ia berharap peserta yang mengikuti pelatihan dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam berbagai kegiatan di tingkat ranting maupun cabang.
Materi pelatihan disampaikan oleh Sinta Maharani, S.Sos., M.I.Kom., Kepala Biro Humas dan Protokol Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Dalam materinya tentang MC, Sinta menjelaskan bahwa komunikasi tidak hanya ditentukan oleh kata-kata yang disampaikan. Ia memaparkan komposisi komunikasi yang terdiri atas 7 persen verbal, 38 persen vokal, dan 55 persen visual.
Karena itu, seorang MC perlu memperhatikan suara, ekspresi, gestur, penampilan, hingga cara membangun interaksi dengan audiens.
Sinta merumuskan tujuh hal yang perlu dimiliki seorang MC, yakni percaya diri, tenang, bahagia, ramah, mampu memimpin, profesional, serta mampu bekerja dalam tim.
Menurutnya, persiapan menjadi salah satu kunci utama keberhasilan seorang MC. Sebelum acara, MC perlu memahami karakter dan tujuan kegiatan, mempersiapkan mental, menentukan pakaian yang sesuai, serta menyiapkan cue card yang memuat salam atau ungkapan pembuka, pengantar acara, susunan kegiatan, hingga penutupan.
Saat acara berlangsung, MC juga perlu melakukan olah vokal, datang lebih awal untuk memahami suasana tempat, membaca dan mengoordinasikan kembali cue card, memastikan kerapian penampilan, mengecek mikrofon, menjaga ekspresi, mengatur gestur, serta berdoa sebelum menjalankan tugas.
“Persiapan adalah segalanya,” menjadi salah satu penekanan dalam materi tersebut.
Selain itu, peserta didorong untuk terus berlatih vokal, ekspresi, dan artikulasi agar mampu menyampaikan acara secara jelas, nyaman didengar, dan tidak kaku.
Dalam materi keprotokolan, Sinta menjelaskan bahwa keprotokolan merupakan serangkaian kegiatan yang berkaitan dengan tata aturan dalam acara kenegaraan atau acara resmi, meliputi tata tempat, tata upacara, dan tata penghormatan.
Prinsip keprotokolan, menurutnya, harus benar sesuai regulasi, baik sesuai adat istiadat, norma, dan kebiasaan, serta indah sesuai kondisi, situasi, dan selera.
Dengan demikian, inti keprotokolan bukan sekadar mengatur posisi tamu, tetapi memastikan keseluruhan acara berjalan tertata, rapi, dan indah.
Manajemen keprotokolan mencakup perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi. Dalam tahap perencanaan, panitia perlu menentukan tema kegiatan, menyusun rencana, melakukan koordinasi, menentukan kebutuhan, serta menyiapkan alternatif pemecahan masalah.
Salah satu bagian penting adalah menyusun rundown secara berurutan dan lengkap, menyiapkan perlengkapan serta kelengkapan acara, dan menyiapkan alternatif acara sebagai antisipasi apabila terjadi kendala.
Koordinasi juga perlu dilakukan terhadap petugas, acara, undangan, dan tempat. Petugas yang perlu dikoordinasikan antara lain panitia, MC, dirigen, pembaca doa, paduan suara, penerima tamu, pengatur tempat duduk, hingga pembawa baki.
Sementara itu, aspek tempat mencakup tata ruang acara, ruang tunggu tamu, toilet, meja, tempat duduk, jamuan, serta alur keluar-masuk peserta dan tamu.
Sinta juga mengingatkan bahwa petugas protokol perlu menampilkan penampilan terbaik, mulai dari pakaian, kebersihan dan kerapian, aksesori, sikap, perilaku, hingga keselarasan dengan karakter acara.
Dalam keprotokolan, peserta juga dibekali pemahaman mengenai tata tempat, tata upacara, dan tata penghormatan kepada tamu sesuai jabatan maupun kedudukannya.
Jika muncul keluhan setelah acara, petugas protokol tidak perlu panik. Keluhan perlu dihadapi melalui evaluasi menyeluruh, pencatatan penyebab, komunikasi bersama tim, serta pencarian solusi secara cepat dan tepat.
“Dalam keprotokolan kita dituntut luwes dan dinamis, serta cepat menyesuaikan diri,” jelas Sinta.
Ia menekankan bahwa keberhasilan penyelenggaraan acara ditopang oleh tata cara, tata krama, serta kepatuhan terhadap aturan atau rumus-rumus tertentu yang berlaku dalam penyelenggaraan kegiatan.
Indikator keberhasilan acara antara lain kegiatan berlangsung khidmat, tertib, aman, dan lancar; seluruh pihak yang terlibat merasa puas; serta kegiatan memberikan dampak positif bagi penyelenggara maupun masyarakat.
Setelah penyampaian materi, peserta kemudian mengikuti praktik menjadi MC. Mereka secara bergantian mempraktikkan pembawaan acara sekaligus mendapatkan masukan dan saran dari pemateri maupun peserta lainnya. Suasana praktik berlangsung antusias. Peserta tidak hanya belajar tampil di depan forum, tetapi juga saling memberikan saran dan masukan untuk pembelajaran.
Melalui pelatihan tersebut, PCM Depok berharap makin banyak kader dan warga Muhammadiyah yang memiliki kemampuan menjadi MC sekaligus memahami dasar-dasar keprotokolan. Sehingga mampu mendukung penyelenggaraan berbagai kegiatan persyarikatan secara lebih rapi, profesional, dan berwibawa.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow