Gerakan Sedekah Sampah Jadi Dakwah Lingkungan, LAZISMU Kulon Progo Gandeng MPAI UAD
KULON PROGO — LAZISMU Kulon Progo bersama Program Magister Pendidikan Agama Islam (MPAI) Universitas Ahmad Dahlan menggelar Workshop Eco Literasi Berbasis Masjid melalui Gerakan Sedekah Sampah di Aula Kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kulon Progo, Ahad (24/5). Kegiatan ini menjadi upaya membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah berbasis masjid sebagai bagian dari dakwah dan pemberdayaan umat.
Workshop tersebut merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Umat (Prodamat) yang dijalankan mahasiswa MPAI UAD. Melalui pendekatan eco literasi, kegiatan ini mendorong masjid tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga ruang edukasi sosial dan lingkungan.
Ketua pelaksana kegiatan dari mahasiswa Prodamat, Suyati, bersama Dandi Setiadi dan Syifa Rahmah Vita, terlibat aktif sebagai fasilitator program. Mereka menggagas konsep kegiatan, membangun koordinasi dengan mitra, hingga mendampingi jalannya workshop.
Dukungan penuh diberikan oleh Lazismu Kulon Progo dan PDM Kulon Progo agar gerakan sedekah sampah dapat berkembang menjadi program berkelanjutan di lingkungan Muhammadiyah. Melalui program ini, jamaah diajak membangun kebiasaan mengelola sampah secara bertanggung jawab dan bernilai kemanfaatan sosial.
Kegiatan diawali dengan pembukaan, pembacaan kalam Ilahi, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Sang Surya, kemudian dilanjutkan sambutan dari LAZISMU Kulon Progo, pembimbing Prodamat, serta PDM Kulon Progo.
Dosen pembimbing Prodamat, Dr. Azaki Khoirudin, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin antara MPAI UAD dan LAZISMU Kulon Progo dalam menghadirkan program eco literasi berbasis masjid.
“Isu lingkungan merupakan isu yang sangat penting dan strategis. Menjelang 2050, persoalan lingkungan diprediksi menjadi salah satu masalah krusial yang harus direspons bersama,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari ajaran Islam yang membawa kemaslahatan bagi kehidupan. Menurutnya, dakwah tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga tanggung jawab sosial dan ekologis.
Materi disampaikan oleh Ananto Isworo. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan teknis pengelolaan, melainkan juga cara pandang masyarakat terhadap sampah itu sendiri.
Ia mengajak peserta melihat sampah sebagai potensi gerakan sosial yang dapat memberikan nilai edukatif, ekologis, ekonomis, sekaligus bernilai sedekah. Melalui Gerakan Shadaqah Sampah, sampah anorganik seperti botol plastik, kertas, kaleng, dan aluminium dikumpulkan di masjid untuk kemudian dipilah dan dijual. Hasilnya dimanfaatkan untuk berbagai program sosial seperti santunan pendidikan, bantuan sembako, hingga layanan kesehatan masyarakat.
Menurutnya, gerakan ini membuka ruang bagi siapa saja untuk bersedekah melalui sampah yang dimiliki. Dengan pendekatan berbasis masjid, pesan kepedulian lingkungan dinilai lebih mudah diterima dan diterapkan oleh jamaah dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu peserta workshop, Harjana, mengaku kegiatan tersebut membuka wawasan baru mengenai pengelolaan sampah.
“Kegiatan ini inspiratif sekali dan mampu membuka mata bahwa ternyata sampah mempunyai nilai yang bisa digunakan untuk kehidupan umat,” ungkapnya.
Setelah sesi materi, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab mengenai peluang penerapan Gerakan Sedekah Sampah di masjid dan komunitas Muhammadiyah di Kulon Progo.
Melalui workshop ini, LAZISMU Kulon Progo dan MPAI UAD berharap gerakan eco literasi berbasis masjid dapat berkembang menjadi budaya kolektif masyarakat dalam menjaga lingkungan. Gerakan Sedekah Sampah diharapkan menjadi model pemberdayaan umat yang sederhana, dekat dengan kehidupan sehari-hari, serta mampu menghadirkan manfaat sosial dan ekologis secara berkelanjutan.
What's Your Reaction?
-
1
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow