Menata Kembali Cinta di Awal Tahun Hijriyah 1448 H Bersama 'Aisyiyah Malaysia

Menata Kembali Cinta di Awal Tahun Hijriyah 1448 H Bersama 'Aisyiyah Malaysia

Smallest Font
Largest Font

KUALA LUMPUR — Menyambut Tahun Baru Hijriyah 1448 H, Pimpinan Cabang Istimewa ‘Aisyiyah (PCIA) Malaysia menggelar Tabligh Akbar bertema “Wanita Muslimah, Untuk Siapakah Cintamu?” di Rumah Hamka (Ruhama), Kuala Lumpur, Rabu (17/6).

Kegiatan yang menghadirkan penceramah asal Bandung, Ninih Muthmainah, ini mengajak para muslimah melakukan refleksi mendalam tentang orientasi cinta dalam kehidupan. Lebih dari 50 peserta yang terdiri atas warga ‘Aisyiyah dan jamaah dari berbagai kelompok pengajian di Kuala Lumpur dan sekitarnya mengikuti acara dengan antusias.

Ketua PCIA Malaysia, Dini Oktarina Dwi Handayani, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, narasumber, dan peserta yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.

Dini juga mengungkapkan rasa syukur atas keberadaan Rumah Hamka (Ruhama) yang selama ini menjadi pusat aktivitas dan pembinaan warga ‘Aisyiyah di Malaysia. Menurutnya, Ruhama diharapkan terus menjadi ruang yang produktif bagi para muslimah untuk belajar, berkembang, mempererat silaturahmi, serta mengoptimalkan potensi diri melalui berbagai program yang bermanfaat.

“Selamat datang di Rumah Hamka, rumah kebanggaan kita bersama. Semoga tempat ini terus menjadi pusat kegiatan, pembelajaran, dan pengembangan diri bagi ibu-ibu ‘Aisyiyah di Malaysia,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Dini juga memperkenalkan sejumlah program pelatihan yang akan segera dilaksanakan dan mengajak seluruh anggota untuk berpartisipasi aktif. Ia menegaskan bahwa ‘Aisyiyah tidak hanya menjadi wadah pengajian, tetapi juga sarana pemberdayaan perempuan agar terus belajar, berkarya, dan memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, serta umat.

Suasana semakin semarak dengan penampilan nasyid dari ibu-ibu ‘Aisyiyah yang turut menghibur peserta. Penampilan tersebut menjadi sarana dakwah yang mempererat ukhuwah Islamiyah di antara jamaah yang hadir.

Dalam tausiyahnya, Ninih Muthmainah mengajak peserta melakukan muhasabah dengan mengajukan pertanyaan mendasar, “Untuk siapakah cinta terbesar yang selama ini kita simpan dalam hati?”

Menurutnya, tidak sedikit manusia yang mencurahkan perhatian dan cintanya kepada pasangan, anak-anak, keluarga, pekerjaan, maupun harta benda. Padahal, seluruh hal tersebut bersifat sementara. Karena itu, seorang muslim perlu memastikan bahwa cinta tertinggi dalam hidupnya tetap tertuju kepada Allah SWT.

Kajian tersebut merujuk pada firman Allah SWT dalam Surah At-Taubah ayat 24 yang mengingatkan agar kecintaan kepada keluarga, harta, maupun berbagai urusan dunia tidak melebihi kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ninih menegaskan bahwa Islam tidak melarang mencintai keluarga, pasangan, anak-anak, maupun harta benda. Namun, seluruh bentuk cinta itu harus ditempatkan secara proporsional dan tidak menggeser posisi cinta kepada Allah SWT sebagai yang utama.

“Ketika terjadi pertentangan antara kepentingan dunia dan perintah Allah, maka seorang mukmin akan mendahulukan apa yang dicintai Allah SWT,” jelasnya.

Ia juga memaparkan sejumlah tanda seseorang memiliki cinta yang kuat kepada Allah SWT, di antaranya hatinya bergetar ketika nama Allah disebut, gemar membaca dan mentadabburi Al-Qur’an, menikmati waktu-waktu ibadah, berusaha menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, serta senantiasa merindukan kedekatan dengan Allah dalam setiap aspek kehidupan.

Melalui kajian ini, para peserta diajak menata kembali orientasi cinta dalam kehidupan. Cinta kepada keluarga, pasangan, anak-anak, maupun harta benda hendaknya menjadi sarana yang mengantarkan seseorang kepada cinta yang lebih besar, yakni cinta kepada Allah SWT.

Tabligh Akbar Tahun Baru Hijriyah 1448 H ini diharapkan menjadi momentum bagi para muslimah untuk memperkuat keimanan, memperbaiki kualitas diri, serta meningkatkan kecintaan kepada Allah SWT. Semangat hijrah yang terkandung dalam pergantian tahun Islam menjadi pengingat untuk terus bergerak menuju kehidupan yang lebih baik, lebih bermakna, dan lebih diridhai Allah SWT.

Sebagaimana pesan yang mengemuka dalam kajian tersebut, ketika cinta kepada Allah ditempatkan sebagai yang utama, maka seluruh bentuk cinta lainnya akan menemukan tempat yang tepat.

“Ketika cinta kepada Allah menjadi yang utama, maka cinta kepada keluarga, pasangan, anak-anak, dan sesama akan menemukan tempat yang tepat.”

Reporter: Soleh

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow