10 dari 13 Ruang Kelas Rusak, LAZISMU Bantu Siswa SDK Dampek Kembali Belajar

10 dari 13 Ruang Kelas Rusak, LAZISMU Bantu Siswa SDK Dampek Kembali Belajar

Smallest Font
Largest Font

MANGGARAI TIMUR — Gempa bumi yang mengguncang pesisir Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak hanya merusak bangunan sekolah, tetapi juga mengganggu keberlangsungan pendidikan ratusan siswa. Di Sekolah Dasar Katolik (SDK) Dampek, 10 dari 13 ruang kelas mengalami kerusakan berat.

Tiga ruang yang masih dapat digunakan kini harus menampung 11 rombongan belajar. Dalam kondisi tersebut, kegiatan belajar mengajar belum dapat kembali berjalan secara normal hingga masa tanggap darurat yang berlangsung sampai 12 September 2026.

Di tengah kondisi itu, kebutuhan perlengkapan belajar menjadi salah satu perhatian penting. Sebagian siswa kehilangan buku, seragam, dan peralatan sekolah setelah rumah mereka terdampak gempa, runtuhan bangunan, hingga luapan air laut.

Kondisi tersebut mendorong LAZISMU menyalurkan 235 paket perlengkapan sekolah kepada siswa SDK Dampek, Ahad (6/9).

Setiap paket berisi tas sekolah, tas jinjing, buku tulis, buku gambar, pulpen, pensil, dan krayon. Bantuan ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar siswa sekaligus mendukung proses pemulihan pendidikan setelah bencana.

Kepala SDK Dampek Bernadeta Hadia mengatakan, sebagian perlengkapan belajar siswa tidak dapat diselamatkan akibat bencana.

“Banyak rumah warga yang roboh total maupun sebagian. Bahkan, rumah-rumah di pesisir sempat kemasukan air laut sehingga seluruh perlengkapan anak-anak, termasuk buku dan seragam, tidak ada yang tersisa. Anak-anak sangat gembira menerima perlengkapan baru ini,” ujarnya.

Penyaluran bantuan berlangsung bersamaan dengan kunjungan Bendahara Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Hilman Latief ke lokasi pengungsian di Dampek. Dalam kunjungan tersebut, Hilman menyapa para penyintas, termasuk anak-anak yang masih menjalani masa pemulihan pascabencana.

Hilman juga memberikan motivasi kepada para siswa agar tetap memiliki semangat belajar dan menuntut ilmu meskipun harus menghadapi situasi sulit akibat bencana.

Kerusakan fasilitas pendidikan bukan satu-satunya dampak yang dirasakan siswa SDK Dampek. Sejumlah siswa juga menjadi korban saat gempa terjadi pada 15 Agustus 2026. Beberapa di antaranya mengalami patah tulang dan luka pada bagian kepala akibat tertimpa reruntuhan. Mereka telah mendapatkan penanganan medis.

Karena kondisi sekolah belum memungkinkan untuk kembali menyelenggarakan pembelajaran secara penuh, pihak sekolah mulai melakukan berbagai bentuk pendampingan kepada siswa. Salah satunya melalui aktivitas psikososial berupa kegiatan menggambar dan menuliskan pengalaman selama berada di posko pengungsian.

Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk mengekspresikan pengalaman mereka sekaligus membantu membangun kembali kesiapan psikologis untuk kembali belajar.

Menurut Bernadeta, pemulihan pendidikan di SDK Dampek membutuhkan waktu dan dukungan dari berbagai pihak. Selain perbaikan fasilitas sekolah, siswa juga membutuhkan dukungan agar dapat kembali menjalani aktivitas belajar secara bertahap.

Di tengah situasi pascabencana, SDK Dampek tetap memiliki catatan prestasi. Sekolah tersebut pernah meraih juara tingkat kabupaten dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA) Bahasa Indonesia serta Juara 3 Stan Pameran pada Expo Pendidikan melalui inovasi pengolahan sampah plastik menjadi paving block.

Penyaluran 235 paket school kit menjadi salah satu bagian dari dukungan bagi siswa SDK Dampek untuk melewati masa pemulihan. Lebih dari sekadar mengganti perlengkapan yang hilang, bantuan tersebut diharapkan menjadi penguat agar anak-anak tetap memiliki kesempatan untuk belajar di tengah upaya sekolah dan masyarakat memulihkan kondisi pascagempa.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow