Hajriyanto Bongkar Akar Konflik Timur Tengah dan Posisi Dunia Islam di Forum Muhammadiyah

Hajriyanto Bongkar Akar Konflik Timur Tengah dan Posisi Dunia Islam di Forum Muhammadiyah

Smallest Font
Largest Font

JAKARTA — Duta Besar Indonesia untuk Lebanon periode 2019–2025, Hajriyanto Y. Thohari, memaparkan akar konflik Timur Tengah dari sudut pandang sejarah, politik, dan agama dalam Pengajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jumat (24/4). Ia menilai konflik di kawasan tersebut tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan politik, tetapi juga berkaitan dengan keadilan, solidaritas kemanusiaan, dan dimensi keagamaan.

Dalam forum itu, Hajriyanto mengatakan umat Islam memiliki kedekatan emosional dengan persoalan Timur Tengah karena sejak lama diajarkan mendoakan keselamatan dan kejayaan umat Islam. Karena itu, pembahasan mengenai perang di kawasan tersebut dinilainya menyentuh aspek moral dan keberpihakan kemanusiaan.

Ia menjelaskan istilah “Timur Tengah” atau Middle East muncul sekitar satu abad lalu setelah runtuhnya Kekhalifahan Turki Utsmani pasca Perang Dunia I. Setelah kekhalifahan itu tumbang, wilayah Arab dibagi oleh negara-negara pemenang perang seperti Inggris, Prancis, dan Italia.

Menurut Hajriyanto, pembagian wilayah itu menjadi titik awal perubahan politik besar di kawasan Arab modern. Inggris menguasai Palestina, Yordania, Mesir, dan wilayah Teluk, sedangkan Prancis menguasai Lebanon, Suriah, Tunisia, dan Aljazair. Italia memperoleh Libya.

Ia juga menyoroti konflik Palestina-Israel yang disebutnya berawal dari Deklarasi Balfour tahun 1917, saat Inggris menyatakan dukungan terhadap pembentukan tanah air bagi bangsa Yahudi di Palestina. Sejak itu, migrasi Yahudi dari Eropa ke Palestina meningkat.

Pada 14 Mei 1948, Israel memproklamasikan kemerdekaan melalui David Ben-Gurion. Hajriyanto menilai momen itu menjadi titik penting perubahan geopolitik kawasan. Ia menambahkan, Amerika Serikat segera mengakui berdirinya Israel beberapa menit setelah deklarasi tersebut.

Menurutnya, hubungan Amerika Serikat dan Israel bukan hanya bersifat strategis, tetapi juga dipengaruhi faktor sejarah, budaya, dan keyakinan keagamaan sebagian masyarakat Amerika terhadap kawasan Palestina sebagai tanah suci.

Hajriyanto memandang konflik saat ini melibatkan Israel dengan tiga poros utama, yakni Palestina, sebagian negara Arab, dan kelompok perlawanan yang didukung Iran. Ia menyebut Hamas di Palestina, Hizbullah di Lebanon, dan Houthi di Yaman sebagai bagian dari poros tersebut.

Ia menilai banyak negara Arab kini cenderung menghindari perang terbuka dengan Israel setelah mengalami konflik panjang sejak 1948. Sementara itu, beberapa negara Arab telah menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, seperti Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, dan Maroko.

Hajriyanto juga memperingatkan kemungkinan terbentuknya tatanan “Timur Tengah Baru” apabila keseimbangan kekuatan kawasan berubah. Menurutnya, hal itu akan sangat dipengaruhi dinamika hubungan Israel, Amerika Serikat, Iran, dan negara-negara Arab.

Di akhir paparannya, ia mengingatkan masyarakat Indonesia agar melihat konflik Timur Tengah bukan semata persoalan minyak atau persaingan politik regional, melainkan juga isu penjajahan, keadilan, dan kemanusiaan.

“Perang tersebut bukan hanya soal geopolitik, tetapi juga menyangkut keadilan dan solidaritas kemanusiaan,” ujarnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow