Haedar Nashir: Muktamar Harus Menjadi Ruang Musyawarah, Bukan Ketegangan

Haedar Nashir: Muktamar Harus Menjadi Ruang Musyawarah, Bukan Ketegangan

Smallest Font
Largest Font

SURAKARTA — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengingatkan bahwa Muktamar tidak boleh dimaknai sekadar sebagai forum pergantian kepemimpinan atau agenda rutin organisasi. Lebih dari itu, Muktamar harus menjadi ruang musyawarah yang melahirkan keputusan terbaik, mempererat persaudaraan, serta merumuskan arah gerakan organisasi dalam menghadapi tantangan zaman.

Pesan penting itu disampaikannya saat membuka Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta, Jumat (7/8).

Menurut Haedar, Muktamar merupakan momentum strategis bagi Nasyiatul Aisyiyah untuk mengevaluasi perjalanan organisasi, membahas berbagai tantangan yang dihadapi, menyusun program kerja, sekaligus memproyeksikan peran organisasi di masa depan.

"Tentang masalah, tantangan, program, dan proyeksi Nasyiatul Aisyiyah ke depan. Silakan untuk bermusyawarah dengan kecerdasan dan ilmu yang mencukupi," ujarnya.

Haedar menegaskan, tradisi musyawarah merupakan ruh yang harus terus dijaga dalam setiap Muktamar Muhammadiyah maupun organisasi otonom. Musyawarah tidak hanya bertujuan menghasilkan keputusan, tetapi juga menjadi jalan untuk melahirkan kebijaksanaan bersama.

"Jadikan forum-forum Muktamar kita sungguh-sungguh untuk wasyawirhum fil amri sebagaimana semangat bermusyawarah. Itulah yang menjadi jiwa Muktamar-Muktamar kita yang berjalan baik," katanya.

Selain menjadi forum pengambilan keputusan, Haedar menilai Muktamar juga harus menjadi ajang mempererat silaturahmi antarkader. Menurutnya, ikatan persaudaraan yang dibangun atas dasar nilai-nilai Islam dan ideologi Muhammadiyah merupakan fondasi utama dalam menjaga kekuatan organisasi.

Di tengah beragam pandangan yang tumbuh di lingkungan Muhammadiyah, 'Aisyiyah, Nasyiatul Aisyiyah, maupun organisasi otonom lainnya, Haedar mengingatkan bahwa seluruh perbedaan tersebut harus dipersatukan oleh semangat kasih sayang dan kebersamaan.

"Kita disatukan. Dan itulah kekuatan kolektif kita. Keragaman dan perbedaan, insyaallah tidak akan membuat Muhammadiyah dan seluruh komponennya retak, karena ada kekuatan kasih sayang atas nama Allah untuk menjadikan organisasi kita sebagai wahana perjuangan dakwah dan tajdid," tegasnya.

Ia juga mengajak seluruh peserta Muktamar untuk terus menjaga komitmen terhadap nilai-nilai dasar Muhammadiyah yang telah diwariskan sejak berdirinya persyarikatan. Menurutnya, seluruh gerakan dan amal usaha Muhammadiyah dibangun di atas semangat ibadah sekaligus nilai-nilai organisasi yang telah teruji oleh perjalanan sejarah.

Lebih jauh, Haedar berharap Muktamar mampu menghasilkan keputusan yang tidak hanya menjawab kebutuhan organisasi saat ini, tetapi juga menjadi pijakan dalam menentukan arah gerakan Nasyiatul Aisyiyah di tengah perubahan zaman yang berlangsung semakin cepat.

"Proyeksi ke depan itu tidak linier karena di tengah-tengah kita ada perubahan zaman yang terjadi. Jadi proyeksikan ke depan Nasyiatul Aisyiyah mau seperti apa, berperan apa dalam kehidupan umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta," pesannya.

Menutup amanatnya, Haedar mengingatkan agar seluruh rangkaian Muktamar dijalani dengan semangat persaudaraan, kegembiraan, dan kebersamaan. Dinamika dalam musyawarah merupakan hal yang wajar, namun tidak boleh berubah menjadi ketegangan yang mengganggu persatuan.

"Tetap mengedepankan kegembiraan, kebahagiaan, dan kebersamaan. Tidak usah tegang-tegangan," tuturnya.

Bagi Haedar, musyawarah yang dilandasi ilmu, persaudaraan, dan kasih sayang akan menjadi modal utama bagi Nasyiatul Aisyiyah untuk melahirkan keputusan-keputusan terbaik serta memperkuat perannya dalam dakwah, pemberdayaan perempuan muda, dan pembangunan bangsa di tengah dinamika zaman.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow