Gowes Kemerdekaan PRM Kauman: Menyusuri Jejak KH Ahmad Dahlan hingga Jenderal Soedirman
YOGYAKARTA — Semangat memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dirayakan oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Kauman dengan cara yang unik. Bersama Klub Sepeda Santai Kauman (Klusska), mereka mengajak warga bersepeda sekaligus menyusuri jejak sejarah Muhammadiyah dan perjuangan bangsa.
Kegiatan Gowes Kemerdekaan yang digelar Ahad (16/8) diikuti sekitar 125 peserta, dari anak-anak hingga orang dewasa. Rombongan berangkat dari halaman Masjid Gedhe Kauman, kemudian bergerak menuju Makam Karangkajen untuk berziarah ke makam KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

Di Makam Karangkajen, peserta mendoakan KH Ahmad Dahlan serta mengenang para tokoh, keluarga, dan masyarakat yang telah lebih dahulu berpulang. Doa dipimpin oleh Azman Latif, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dari Karangkajen, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusumanegara. Di tempat ini, peserta kembali melakukan ziarah dan mengenang jasa para pahlawan yang telah berjuang bagi bangsa Indonesia.
Salah satu sosok yang menjadi perhatian dalam ziarah tersebut adalah Jenderal Besar Soedirman, Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia yang punya kedekatan historis dengan Muhammadiyah dan Kauman. Peserta juga berziarah ke makam sejumlah tokoh dan syuhada, di antaranya Ahmad Jazuli, Moh. Ardani, Alip Darminto, dan Abu Bakar Ali.
Dalam kesempatan tersebut, Budi Setiawan menjelaskan hubungan historis Jenderal Soedirman dengan Muhammadiyah. Soedirman diketahui pernah menjadi guru di sekolah Muhammadiyah Cilacap dan aktif dalam kepanduan Hizbul Wathan (HW) serta Pemuda Muhammadiyah sebelum kemudian menjadi Panglima Besar TNI.
Nilai-nilai Islam modernis yang dikembangkan KH Ahmad Dahlan di Kauman turut memberi warna dalam pembentukan karakter dan prinsip perjuangan Soedirman sejak usia muda. Ketika berada di Yogyakarta, Soedirman juga dikenal aktif memperdalam ilmu agama di lingkungan Kauman, termasuk menghadiri Pengajian Malam Selasa (PMS) Muhammadiyah di Gedung Pesantren ’Aisyiyah Kauman.
Kedekatan Soedirman dengan Kauman tetap terjalin hingga akhir hayatnya. Saat wafat pada 29 Januari 1950 di Magelang, jenazah Soedirman dibawa ke Yogyakarta dan disemayamkan di Masjid Gedhe Kauman. Di masjid tersebut, dilaksanakan salat jenazah dan penghormatan terakhir yang dihadiri ribuan masyarakat serta jajaran pimpinan negara dan militer, sebelum kemudian dimakamkan di TMP Kusumanegara.

Bagi peserta gowes, perjalanan dari makam KH Ahmad Dahlan menuju TMP Kusumanegara menjadi lebih dari sekadar aktivitas bersepeda. Rute tersebut seolah menghubungkan dua ruang sejarah: tempat peristirahatan pendiri Muhammadiyah dengan tempat para pejuang bangsa dimakamkan.
Usai rangkaian ziarah, peserta kembali ke kawasan Kauman untuk mengikuti seremonial di depan Kantor Takmir Masjid Gedhe Kauman.
Ketua PRM Kauman, Bagus Achmad Wildani, mengapresiasi seluruh peserta dan pihak yang mendukung kegiatan tersebut. Baginya, rangkaian gowes, ziarah, hingga seremonial menjadi cara masyarakat Kauman mengisi kemerdekaan melalui kegiatan yang sehat, bermakna, sekaligus mempererat persaudaraan.
“Semoga kegiatan ini tidak berhenti sebagai sebuah kegiatan seremonial saja. Namun, semoga semangat yang kita bawa pulang adalah semangat hidup sehat, semangat bersilaturahmi, semangat menjaga persatuan, semangat mengabdi kepada masyarakat, dan semangat meneruskan perjuangan para pendahulu bangsa,” ujar Bagus.
Pesan tersebut menjadi penutup kegiatan Gowes Kemerdekaan PRM Kauman dan Klusska. Sebab, bagi masyarakat Kauman, kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga tentang mengisinya melalui tindakan nyata. Melalui kebersamaan, kesehatan, silaturahmi, dan penghormatan kepada mereka yang telah lebih dahulu berjuang untuk Muhammadiyah dan Indonesia.

What's Your Reaction?
-
4
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow