Dodol Terong dan Cornribs Jadi Inovasi Pangan Kreatif Pemberdayaan Perempuan Desa Temuwuh
BANTUL — Suasana Desa Temuwuh, Bantul, dipenuhi aroma khas dari dapur praktik ketika BEM Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menggelar kelas praktikum pembuatan dodol terong dan cornribs jagung pada Sabtu (13/9) . Kegiatan ini menjadi bagian dari Program Penguatan Kapasitas Ormawa (PPK Ormawa) dengan tajuk “Poetri Mardika: Sekolah Berbasis Life Well-Being untuk Mewujudkan Perempuan Bermental Tangguh, Mandiri Ekonomi, dan Cerdas Berkeluarga”.
Praktikum diikuti sekitar 40 peserta ibu-ibu dari berbagai pedukuhan di Kalurahan Temuwuh. Mereka antusias mempelajari keterampilan baru untuk mengolah hasil bumi lokal menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi. Terong dan jagung dipilih sebagai bahan utama karena ketersediaannya melimpah di Temuwuh, sekaligus membuka peluang diversifikasi pangan yang berpotensi menjadi usaha kreatif.
Kegiatan dimulai dengan pre-test untuk mengukur pengetahuan awal peserta. Hampir semua mengaku belum pernah mencoba membuat dodol terong maupun cornribs. Setelah mendapatkan penjelasan teoretis tentang diversifikasi pangan dan peluang pasarnya, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk praktik langsung. Tiga kelompok membuat dodol terong, sementara empat kelompok lainnya fokus pada cornribs. Proses berlangsung hangat dengan suasana belajar sambil berbagi pengalaman.
Usai praktik, peserta mengikuti post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman. Lebih dari hasil ujian, kegiatan ini membangkitkan rasa percaya diri dan semangat wirausaha. Beberapa peserta bahkan sudah berencana mencoba resep di rumah atau menjadikannya peluang usaha. “Wah ini nanti saya coba pas arisan,” ujar salah satu peserta sambil tersenyum puas.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Peserta menyoroti ketersediaan bahan baku yang bergantung musim serta harga gula dan minyak yang fluktuatif. Menanggapi hal itu, tim pemateri menegaskan pentingnya pendampingan lanjutan, termasuk pelatihan pengemasan, branding, pemanfaatan media sosial, hingga pemasaran digital.
Acara ditutup dengan foto bersama sekitar pukul 11.55 siang. Senyum lebar dan tangan yang masih berbalut sisa adonan menjadi bukti nyata antusiasme peserta. Lebih dari sekadar praktik kuliner, kegiatan ini menunjukkan bahwa hasil pertanian lokal yang sederhana dapat diubah menjadi produk unggulan bernilai ekonomi.
BEM Psikologi UAD berharap inovasi sederhana ini menjadi budaya berkelanjutan di Desa Temuwuh—sebagai langkah nyata pemberdayaan perempuan, penguatan ekonomi lokal, serta kreativitas desa menghadapi tantangan masa depan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow