‘Aisyiyah Kulon Progo Ajak Perempuan Siapkan Diri Hadapi Masa Lansia

‘Aisyiyah Kulon Progo Ajak Perempuan Siapkan Diri Hadapi Masa Lansia

Smallest Font
Largest Font

KULON PROGO — Menjadi lanjut usia (lansia) bukanlah fase kehidupan yang perlu ditakuti. Sebaliknya, masa lansia perlu dipersiapkan sejak dini agar perempuan tetap sehat, mandiri, aktif, dan memiliki kualitas hidup yang baik.

Pesan tersebut mengemuka dalam pengajian yang digelar Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kabupaten Kulon Progo di Masjid KH Ahmad Dahlan Kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kulon Progo, Jalan KH. Ahmad Dahlan No. 234, Triharjo, Wates, Jumat (21/8). Kegiatan tersebut membahas kesehatan perempuan dalam menghadapi masa menopause hingga lanjut usia dengan menghadirkan Ns. Zubaida Rohmawati, MPH, anggota Majelis Kesehatan PDA Kulon Progo sekaligus dosen keperawatan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA Yogyakarta).

Zubaida mengajak peserta memahami proses penuaan secara lebih utuh. Menurutnya, bertambahnya usia merupakan proses alami dalam kehidupan manusia. Karena itu, perempuan perlu membekali diri dengan pengetahuan dan kesiapan untuk menghadapi berbagai perubahan, terutama ketika memasuki masa menopause dan usia lanjut.

“Menua itu pasti, tetapi menjadi lansia yang sehat dan bermartabat membutuhkan persiapan. Kita perlu menjaga tubuh, menjaga pikiran, membangun hubungan sosial, dan tetap dekat secara spiritual,” ujar Zubaida.

Salah satu pembahasan utama dalam pengajian tersebut adalah menopause. Pada fase ini, perubahan hormonal dapat memengaruhi berbagai fungsi tubuh. Keluhan yang muncul tidak hanya berupa hot flashes atau rasa panas mendadak, tetapi juga gangguan tidur, kelelahan, perubahan suasana hati, masalah urogenital, hingga penurunan konsentrasi.

Zubaida menekankan bahwa perempuan tidak perlu menghadapi menopause dengan rasa takut.

“Menopause bukan penyakit. Ini adalah fase kehidupan yang harus dipahami. Dengan pengetahuan yang baik, pola hidup sehat, aktivitas fisik, makanan bergizi, dan dukungan keluarga, perempuan dapat melewati fase ini dengan lebih nyaman,” katanya.

Pembahasan kemudian berlanjut pada persoalan yang cukup banyak dialami lansia, yakni nyeri pinggang atau low back pain (LBP). Berdasarkan data penelitian yang dipaparkan, 68,2 persen lansia mengalami nyeri yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

Namun, menopause bukan satu-satunya faktor yang berkaitan dengan keluhan tersebut. Analisis yang dipaparkan menunjukkan tidak terdapat hubungan statistik yang signifikan antara status menopause dan tingkat keparahan LBP. Faktor usia, berat badan, aktivitas fisik, posisi tubuh, hingga kondisi psikologis juga turut berpengaruh.

“Nyeri pinggang pada lansia itu kompleks. Kita tidak bisa mengatakan semua keluhan terjadi karena menopause. Cara duduk, aktivitas sehari-hari, berat badan, dan kondisi psikologis juga harus diperhatikan,” jelasnya.

Selain kesehatan fisik, peserta juga diajak memberi perhatian lebih terhadap persoalan gizi lansia. Data yang dipaparkan menunjukkan 41,7 persen lansia berada dalam kondisi berisiko malnutrisi dan 15,3 persen mengalami malnutrisi.

Menurut Zubaida, persoalan gizi pada lansia sering kali tidak terlihat. Penurunan nafsu makan, kesulitan mengunyah, kehilangan gigi, hingga masalah kesehatan mulut dapat menyebabkan asupan makanan berkurang.

“Lansia tetap membutuhkan makanan yang cukup, tetapi yang lebih penting adalah kualitasnya. Makanan harus halal dan thayyib, bergizi, mudah dikonsumsi, serta sesuai dengan kondisi tubuh lansia,” paparnya.

Perhatian juga perlu diberikan pada kesehatan mental. Kesepian, kehilangan pasangan, berkurangnya interaksi sosial, kecemasan terhadap kematian, dan perubahan kemampuan kognitif dapat menjadi tantangan yang memengaruhi kesejahteraan lansia.

Dalam kesempatan tersebut, Zubaida mengenalkan pendekatan Spiritual Mindfulness Therapy, yang memadukan latihan kesadaran diri dengan nilai-nilai spiritual Islam. Dalam penelitian yang dipaparkan, pendekatan tersebut menunjukkan penurunan skor distress psikologis secara signifikan setelah intervensi.

“Kadang-kadang kita terlalu fokus pada penyakit fisik. Padahal lansia juga bisa merasa sepi, cemas, dan kehilangan makna. Mereka perlu didengar dan ditemani. Spiritualitas bisa menjadi salah satu sumber kekuatan untuk menghadapi perubahan tersebut,” kata Zubaida.

Materi yang disampaikan mendapat perhatian peserta karena dinilai dekat dengan persoalan yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Salah seorang peserta mengaku memperoleh pemahaman baru mengenai pentingnya mempersiapkan kesehatan sejak sebelum memasuki usia lansia.

“Ternyata banyak hal yang selama ini kami anggap biasa pada masa menopause ternyata perlu diperhatikan. Saya jadi lebih paham bagaimana menjaga kesehatan sejak sekarang,” ujarnya.

Peserta lainnya mendapatkan sudut pandang baru mengenai cara keluarga memperhatikan lansia.

“Selama ini kita sering berpikir lansia hanya perlu diperiksa ketika sakit. Padahal mereka juga perlu diperhatikan makanannya, kondisi emosinya, dan bagaimana keluarga memperlakukan mereka,” ungkapnya.

Ketua Majelis Tabligh dan Ketarjihan PDA Kulon Progo, Dra. Ukhti Jam’iyati, M.Ag., mengatakan edukasi mengenai kesehatan perempuan dan lansia penting untuk terus dilakukan di tengah masyarakat.

“Kami ingin kegiatan seperti ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga mendorong keluarga untuk lebih peduli terhadap kesehatan perempuan dan lansia di rumah,” ujarnya.

Menurutnya, keluarga memiliki peran besar dalam menciptakan lingkungan yang membuat lansia tetap merasa dihargai dan dibutuhkan.

“Lansia membutuhkan perhatian, tetapi bukan berarti harus kehilangan kesempatan untuk tetap beraktivitas dan mengambil bagian dalam keluarga maupun masyarakat,” tambahnya.

Zubaida menegaskan bahwa merawat lansia bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan. Keluarga, masyarakat, dan lingkungan sosial juga memiliki peran penting.

Dalam perspektif Islam, menghormati lansia merupakan bagian dari adab. Generasi yang lebih muda dianjurkan berbicara dengan lembut, menyapa lebih dahulu, mendengarkan, serta memberikan prioritas kepada lansia ketika berada di ruang publik.

“Lansia bukan beban. Mereka adalah bagian dari perjalanan keluarga kita. Di balik usia mereka ada pengalaman, perjuangan, dan kehidupan yang panjang. Tugas kita adalah memastikan mereka tetap sehat, dihormati, dan merasa berarti,” tegas Zubaida.

Ia berharap edukasi mengenai kesehatan lansia tidak berhenti di ruang pengajian, tetapi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari menjaga pola makan, melakukan aktivitas fisik, memelihara kesehatan mental, hingga membangun komunikasi yang lebih hangat dalam keluarga.

Menjaga kesehatan lansia, menurut Zubaida, pada akhirnya merupakan bagian dari upaya menjaga kehidupan secara utuh. Kesehatan fisik, mental, hubungan sosial, dan spiritualitas perlu berjalan beriringan agar perempuan dapat memasuki usia lanjut dengan lebih siap dan tetap menjalani kehidupan yang sehat, bermakna, serta bermartabat.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow