Abdul Mu’ti: Nasyiatul ‘Aisyiyah Harus Jadi Perempuan Muda Berkemajuan yang Membangun Peradaban

Abdul Mu’ti: Nasyiatul ‘Aisyiyah Harus Jadi Perempuan Muda Berkemajuan yang Membangun Peradaban

Smallest Font
Largest Font

SURAKARTA — Dinamika dakwah Nasyiatul ‘Aisyiyah di berbagai bidang kehidupan menunjukkan kiprah perempuan muda yang penuh semangat, idealisme, dan dedikasi. Para penggeraknya dinilai merupakan sosok perempuan muda yang memiliki potensi besar untuk terus menghadirkan kemajuan bagi masyarakat.

Hal itu disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah sekaligus Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, dalam ceramah umum pada penutupan Muktamar ke-15 Nasyiatul ‘Aisyiyah, Sabtu (8/8), di Puri Nalendra Ballroom Hotel Dwangsa Lor In Syariah, Surakarta, Jawa Tengah.

“Perempuan muda yang hebat, yang memiliki idealisme yang sangat tinggi, dan juga memiliki dedikasi yang luar biasa,” tegas Mu’ti.

Menurutnya, kiprah di Nasyiatul ‘Aisyiyah semestinya dijalani dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan. Hal itu, kata dia, selaras dengan akar kata nasyith yang bermakna giat, bersemangat, bersuka cita, dan bergembira dalam menjalankan aktivitas dakwah.

“Itu yang dipesankan K.H. Ahmad Dahlan kepada para anggota ‘Aisyiyah muda pada waktu itu dan juga kepada Nasyiah di kemudian hari,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, Mu’ti juga mengingatkan kepemimpinan sebagai sebuah amanah. Merujuk pada Al-Qur’an, ia menjelaskan bahwa amanah setidaknya memiliki empat pengertian.

Pertama, amanah berarti kepercayaan atau trust. Kepercayaan tersebut menjadi modal penting bagi seorang pemimpin untuk menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.

“Kedua, amanah itu berarti profesionalisme. Seseorang mendapatkan amanah karena dia mampu mengerjakan, punya keahlian di bidangnya,” jelasnya.

Ketiga, amanah berarti tanggung jawab. Setiap amanah yang diterima harus ditunaikan sekaligus dipertanggungjawabkan.

“Dan yang keempat, amanah menjadi beban. Ini saya kira cukup berat,” ucapnya.

Mu’ti mengakui, menjalankan amanah kepemimpinan tidak selalu mudah. Seorang pemimpin dapat menghadapi berbagai kesulitan dan situasi yang tidak selalu sesuai dengan apa yang telah direncanakan.

“Yang tidak selalu situasi dan realitas yang kita hadapi sama dengan yang kita pikirkan,” bebernya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa setiap amanah harus tetap ditunaikan dengan sebaik-baiknya, sebesar apa pun tantangan yang dihadapi.

“Kita akan menjadi orang-orang yang sukses, akan menjadi orang yang menang, orang-orang yang berhasil,” tegas Mu’ti.

Kepada pimpinan baru Nasyiatul ‘Aisyiyah, Mu’ti berpesan agar amanah kepemimpinan dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Kepemimpinan harus mampu memastikan gerakan dakwah di akar rumput berjalan secara berkelanjutan.

“Jadilah pemimpin yang memiliki komitmen yang tinggi dengan amanah itu,” pesannya.

Mu’ti kemudian mengenalkan tiga variabel penting dalam menjalankan amanah kepemimpinan, yakni promise, policy, dan practice.

Promise berarti menyampaikan gagasan dan pikiran yang hebat serta menjanjikan arah perjuangan yang jelas. Sementara policy berarti menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam kebijakan.

“Jangan sampai antara yang dijanjikan dan kebijakan berbeda,” ujarnya.

Adapun practice berarti memastikan seluruh gagasan dan kebijakan tersebut diwujudkan melalui praktik nyata di tengah masyarakat.

Dengan prinsip itu, Mu’ti yakin Nasyiatul ‘Aisyiyah mampu semakin kuat dalam menjalankan dakwah dan menghadirkan kontribusi nyata bagi bangsa.

“Saya yakin, empat tahun ke depan Nasyiatul ‘Aisyiyah akan tampil menjadi perempuan-perempuan muda yang berkemajuan yang membangun peradaban Indonesia dan peradaban dunia yang berkelanjutan,” tandas Mu’ti.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow