UMY Resmi Miliki CSIRT Terdaftar BSSN, Perkuat Ketahanan Siber Kampus
YOGYAKARTA — Transformasi digital yang kian masif di sektor pendidikan membawa dua sisi mata uang: kemudahan layanan sekaligus meningkatnya risiko keamanan siber. Pemanfaatan platform pembelajaran daring hingga Learning Management System (LMS) kini menjadi tulang punggung layanan perguruan tinggi. Namun, di balik itu, kampus juga mengelola aset informasi bernilai tinggi yang rentan menjadi target serangan siber.
Menjawab tantangan tersebut, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) resmi memiliki Computer Security Incident Response Team (CSIRT) yang telah mengantongi Surat Tanda Registrasi (STR) dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Dengan registrasi ini, UMY tercatat sebagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) ketiga di Indonesia yang memiliki tim tanggap insiden siber secara resmi.
Ketua CSIRT UMY, Dr. Nur Hayati, S.T., M.T., menjelaskan bahwa pembentukan CSIRT merupakan langkah strategis untuk membangun sistem keamanan informasi yang terstruktur dan profesional. Hal tersebut disampaikannya dalam acara Penyerahan STR CSIRT UMY, Kamis (12/2), di Aula Lantai 5 Gedung AR Fachruddin unit A UMY.
“CSIRT UMY dibentuk pada akhir 2025 dan disahkan pada awal Januari 2026. Kami memiliki visi mewujudkan ketahanan siber yang andal, profesional, dan berintegritas di lingkungan UMY,” ujarnya.
Visi tersebut diterjemahkan ke dalam sejumlah langkah strategis, mulai dari penguatan sistem keamanan informasi hingga pembangunan kolaborasi lintas lembaga. Kolaborasi tidak hanya difokuskan di internal kampus, tetapi juga dengan perguruan tinggi lain serta instansi terkait.
Menurut Nur, CSIRT UMY memiliki dua layanan utama, yakni penanganan insiden siber dan pemberian peringatan keamanan siber beserta layanan turunannya. Mekanisme pelaporan pun dibuka melalui berbagai kanal, seperti email, telepon, dan WhatsApp yang terhubung langsung dengan tim CSIRT.
Ia juga mengungkapkan bahwa dari hasil pemantauan internal telah ditemukan sejumlah potensi celah keamanan serta laporan insiden yang kini dalam proses penanganan. Pihaknya memberikan apresiasi kepada para pelapor yang berkontribusi dalam mengidentifikasi potensi kerentanan sistem.
Sementara itu, Direktur Keamanan Siber dan Sandi Pembangunan Manusia BSSN, Agus Prasetyo, S.Kom., M.M., menyoroti tren peningkatan serangan siber di sektor pendidikan, termasuk kebocoran data yang terjadi di sejumlah perguruan tinggi.
“Kebocoran data ini sangat mengganggu. Insiden tersebut baru saja menyerang beberapa perguruan tinggi. Kami mencatat ada 15 perguruan tinggi yang terdampak minggu lalu, dan tim kami turut mengasistensi tindak lanjut penanganannya. Karena itu, setiap organisasi perlu mengantisipasi ancaman seperti ini,” jelasnya.
Agus menegaskan, keberadaan CSIRT sangat krusial untuk merespons insiden secara cepat, memitigasi dampak, serta meningkatkan literasi keamanan siber di lingkungan kampus. Ia menekankan bahwa keamanan siber merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
“Penyerahan tanda registrasi ini menjadi tonggak penting bagi kesiapan instansi dalam melakukan pencegahan, penanganan, dan pemulihan insiden keamanan siber secara terstruktur dan terkoordinasi. Kami berharap kolaborasi antar pemangku kepentingan semakin kuat, baik dalam pertukaran informasi maupun peningkatan kapasitas sumber daya manusia,” ujarnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow