Peringati Hari Disabilitas Internasional, MKS PDA & MPKS PDM Kota Yogya Gelar Workshop Peduli Disabilitas

Peringati Hari Disabilitas Internasional, MKS PDA & MPKS PDM Kota Yogya Gelar Workshop Peduli Disabilitas

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Majelis Kesejahteraan Sosial (MKS) Pimpinan Daerah 'Aisyiyah Kota Yogyakarta bekerjasama dengan  Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta memperingati Hari Disabilitas Internasional yang telah ditetapkan setiap tanggal 3 Desember dengan menggelar Workshop  Peduli Disabilitas. Workshop ini digelar dalam rangka memberi perhatian penuh pada persoalan disabilitas di Indonesia. Angka disabilitas di Indonesia masih relatif tinggi dan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan layak belum maksimal. Selain itu, ketimpangan penerimaan keluarga dan masyarakat terhadap keberadaan kaum disabilitas juga masih cukup rendah.

Mengusung thema Harmony in Diversity: Bersama menciptakan ruang ramah disabilitas. Workshop diadakan pada hari Sabtu (20/12), di Kampus UAD 5 dengan peserta sebagian besar dari MKS dan MPKS Pimpinan Cabang Muhammadiyah se-Kota yogyakarta, selain itu acara ini juga mengundang PDM, PDA, PLSD, HIDIMU.

Edi Sukoco, Wakil Ketua PDM Kota Yogyakarta dalam sambutan pembukaan menyampaikan harapan semoga tujuan yang diinginkan pada peringatan dengan kegiatan ini dapat tercapai dan dapat saling membantu bagi teman-teman baik secara sosial yang berbasiskan azas pada organisasi kita ini sehingga tidak hanya sekedar formalitas tetapi ada tindaklanjut diskusi, dan kegiatan lainnya dengan kerjasama, saling membantu baik antar majelis maupun ortom-ortom yang ada.

Workshop peduli disabilitas dipandu oleh moderator Andhita koordinator Divisi Advokasi MKS PDA yang juga Dosen Psikologi Unisa Yogyakarta. Adapun narasumber berasal dari unsur pemerhati yaitu Dr. Komarudin, S.Psi, M.Psi, Psikolog selaku dosen Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta, dan perwakilan Himpinan Disabilitas Muhammadiyah (HIDIMU) DI Yogyakarta sebagai pelaku disabilitas, H. Risma Wira Bharata, SE, M.Sc yang lebih akrab panggilannya abah Mimo.

Workshop diawali dari abah Mimo dengan materi Peran masyarakat dalam membersamai Difabel dengan judul yang menarik yaitu "Nguwongke Uwong". pada kesempatan ini disampaikan dulu dengan mengenalkan macam-macam difabel, disabilitas menurut UU No.19 tahun 2011 tentang Penyandang Disabilitas.

Banyak cerita-cerita fakta, nyata baik dari dirinya maupun sumber lainnya bagaimana keluarga, masyarakat, lapangan kerja  menerima keberadaan dari orang-orang yang  yang mempunyai keterbatasan dan perbedaan baik dari sisi fisik, psikis, maupun sosial. Sementara seorang difabel mempunyai cita-cita dalam hidupnya yaitu ada rasa aman dan memiliki pilihan untuk mengenyam pendidikan dan rasa aman & tersedianya lapangan kerja dan tempat tinggal.

Muhammadiyah sendiri telah mempunyai peran untuk peduli difabel, yaitu meluruskan stigma negatif tentang difabel, lalu mengubah pandangan tentang difabel sebagai obyek belas kasihan menjadi  subyek pembangunan.

Tak hanya itu, juga ada inisiasi pemberdayaan difabel melalui pendidikan inklusif, pelatihan  keterampilan inklusif, pembukaan lapangan kerja inklusif, hingga pendampingan secara  spiritual keagamaan. Terlebih difabel mempunyai motto “ora utuh, nanging ampuh”

Narasumber yang kedua Komarudin, dengan materi Pendampingan Keluarga dalam Mendampingi Disabilitas, beliau menyampaikan bahwa peran keluarga sangatlah penting dalam tumbuh kembang yang salah satu anggota keluargnya yang mengalami  disabilitas. Ada keluarga yang dari awal menolak keberadaan anggota yang disabilitas dan ada keluarga yang langsung menerima kondisi anggota keluarga yang disabilitas namun itu dengan proses, sehingga Komar penyampaikan bagaimana sebaiknya dan seharusnya sikap  keluarga, yaitu menerima apapun kondisi ananda (QS. Asy-Syura [42]: 49-50) dan memahami kelebihan dan kekurangan ananda (QS.At-Tin [95]: 4)

Dengan demikian keluarga perlu mengistimewakan setiap anak-anaknya karena jika anak lemah dalam satu sisi pasti dia punya keistimewaan disisi yang lain. Maka akan sangat bermanfaat apabila orangtua bisa sesegera mungkin menentukan keunikan dan kelebihan pada diri putra-putri mereka.

Sebelum diakhiri workshop ini , moderator memberi kesempatan kepada peserta untuk bertanya dan antusias peserta cukup banyak baik pertanyaan yang ditujukan kepada narasumber satu atau yang kedua. Namun karena keterbatasan waktu sehingga moderator membatasi pertanyaan, tetapi memberi kesempatan kepada peserta apabila masih ingin bertanya untuk berkomunikasi dengan narasumber.

“Manusia itu unik, meski ora utuh, nanging ampuh, perlu nguwongke uwong dan mengistimewakan setiap anak”

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow