MPM Muhammadiyah Edukasi Nelayan Lamongan soal Pengolahan dan Penyimpanan Ikan

MPM Muhammadiyah Edukasi Nelayan Lamongan soal Pengolahan dan Penyimpanan Ikan

Smallest Font
Largest Font

LAMONGAN — Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengedukasi nelayan dan masyarakat pesisir di Kabupaten Lamongan mengenai pengolahan serta penyimpanan hasil tangkapan ikan. Kegiatan yang digelar di TK ABA Weru, Lamongan, Jumat (4/9), itu juga menyoroti keterbatasan fasilitas penyimpanan dingin yang masih menjadi kendala bagi nelayan.

Sesi literasi tersebut menghadirkan Muhammad Prima Putra dari Bidang Pemberdayaan Nelayan dan Masyarakat Pesisir MPM PP Muhammadiyah sebagai pemateri. Materi berfokus pada pengolahan ikan yang aman, lezat, murah, dan halal, termasuk cara membersihkan serta menyimpan ikan agar kualitasnya tetap terjaga.

Prima menjelaskan, ikan membutuhkan penanganan lebih cepat karena relatif mudah mengalami kerusakan dan kontaminasi. Kondisi tersebut dipengaruhi lingkungan hidup ikan serta karakteristik dagingnya yang lebih lunak.

“Ikan jauh lebih cepat busuk dibandingkan daging sapi atau kambing. Ini karena mikroba yang ada di lingkungan hidup ikan jauh lebih banyak, dan tekstur dagingnya yang lembut membuat bakteri lebih cepat tumbuh,” ujar Prima.

Karena itu, ia menyarankan ikan segera disiangi sebelum disimpan. Proses tersebut meliputi pembersihan insang, isi perut, dan sisik yang dinilai menjadi bagian penting dalam mengurangi sumber kontaminasi.

Prima juga menekankan pentingnya memperhatikan suhu penyimpanan. Menurut dia, ikan yang disimpan dalam freezer dengan suhu sekitar minus 20 derajat Celsius dapat memiliki daya simpan lebih panjang dibandingkan ikan yang hanya disimpan dalam kulkas dengan suhu sekitar 2–5 derajat Celsius.

“Kalau punya bahan baku ikan, sebaiknya jangan disimpan dalam keadaan utuh. Karena kalau disimpan utuh dan penyimpanannya tidak bagus, bakterinya bisa menyebar ke mana-mana,” katanya.

Persoalan lain yang dibahas ialah keterbatasan fasilitas cold storage di kalangan nelayan. Minimnya sarana penyimpanan membuat hasil tangkapan tidak selalu dapat segera diolah atau disimpan dalam kondisi yang memadai.

Menurut Prima, kondisi tersebut dapat menyebabkan sebagian hasil tangkapan tidak termanfaatkan dan akhirnya dibuang kembali ke laut.

“Sementara itu, penangkapan ikan tidak ada tempat menyimpannya, pengolahannya juga tidak bisa. Akhirnya banyak hasil tangkapan yang harus dibuang lagi ke laut karena tidak ada tempat yang layak,” ujarnya.

Selain memberikan literasi, MPM PP Muhammadiyah juga membentuk komunitas sebagai ruang untuk saling mendukung di antara masyarakat pesisir. Ke depan, MPM berencana melakukan pengawasan dan pelatihan secara rutin sebagai bagian dari pendampingan kepada masyarakat.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya MPM PP Muhammadiyah mendorong masyarakat pesisir memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan mereka untuk meningkatkan kesejahteraan, sekaligus mengurangi hasil tangkapan yang tidak termanfaatkan.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow