Kamastu AMM DIY: Kaderisasi Keluarga Muhammadiyah Berbasis Keluarga dan Masjid
YOGYA - Jumlah warga Muhammadiyah mengalami penurunan signifikan dalam dua dekade terakhir. Berdasarkan survei LSI Denny JA, angka afiliasi terhadap Muhammadiyah turun dari 9,4 persen pada 2005 menjadi hanya 5,7 persen pada 2023. Sebaliknya, afiliasi terhadap Nahdlatul Ulama (NU) melonjak tajam dari 27,5 persen menjadi 56,9 persen pada periode yang sama.
Hal ini menjadi kajian serius yang dibahas dalam Kajian Malam Sabtu (Kamastu) Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) DIY pada Jumat (4/7) di Aula Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY. Hadir dalam kajian ini sebagai narasumber utama Wakil Ketua PWM DIY, Dr. Iwan Setiawan.
Dalam pemaparannya, Iwan menilai bahwa tren penurunan ini mencerminkan adanya masalah mendasar dalam proses kaderisasi persyarikatan.
“Ini bukan lagi sekadar angka, ini adalah cerminan dari proses kaderisasi kita,” tegas Iwan di hadapan peserta kajian. Menurutnya, penurunan tersebut tidak berkaitan dengan faktor popularitas, tetapi lebih pada lemahnya regenerasi kader di tingkat akar rumput.
Revitalisasi Dua Pilar: Keluarga dan Masjid
Untuk merespons kondisi tersebut, Iwan menekankan pentingnya membenahi dua pilar utama dalam proses kaderisasi Muhammadiyah: keluarga dan masjid.
Pertama, ia menyebut keluarga sebagai fondasi awal dalam membentuk kader Muhammadiyah. Namun, ia menyayangkan masih banyak orang tua aktif di organisasi yang belum berhasil menanamkan kecintaan terhadap Muhammadiyah kepada anak-anak mereka.
“Ada refleksi penting bagi kita semua. Seorang anak tokoh pernah mengaku tidak mau jadi kader karena bapaknya terlalu sibuk pergi dan tidak pernah ada untuknya,” ungkap Iwan. Ia menekankan pentingnya keteladanan langsung dari orang tua, bukan hanya aktivitas organisatoris.
Kedua, masjid harus dikembalikan sebagai pusat aktivitas yang inklusif, terutama bagi generasi muda. Iwan mengakui bahwa gaya hidup anak muda saat ini telah berubah seiring kemajuan teknologi dan budaya digital. Oleh karena itu, pendekatan dakwah dan kaderisasi juga harus menyesuaikan.
“Anak muda sekarang punya perspektif berbeda soal masa depan. Pendekatannya tidak bisa kaku. Mereka tidak suka dinasihati, tapi akan loyal kalau sudah merasa dekat. Jangan disuarani (dimarahi), tapi kalau bisa dipakani (dirangkul dan difasilitasi),” jelasnya.
Iwan juga mengapresiasi keberhasilan NU dalam menjaga basis massanya melalui pendekatan kultural yang konsisten seperti tahlilan, yasinan, dan haul. Tradisi-tradisi tersebut, menurutnya, menjadi media perekat sosial sekaligus strategi kaderisasi yang efektif.
Menutup sesinya, Iwan memberikan peringatan sekaligus ajakan untuk seluruh elemen Muhammadiyah agar segera bertindak menyelamatkan masa depan persyarikatan.
“Jangan sampai nanti, ketika disurvei lagi, anggota kita tinggal 1 persen, dan itu pun hanya mereka yang bekerja di amal usaha Muhammadiyah. Ini harus menjadi perhatian bersama,” pungkasnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow