News

News

MediaMU.COM

Jun 25, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

AMM Depok Sleman Sambut Ramadan dengan Bergembira

SLEMAN – Umat Islam selalu menantikan kedatangan bulan Ramadhan. Bahkan banyak yang berharap seluruh bulan adalah Ramadhan. Karena memang Ramadhan merupakan bulan penuh keistimewaan dan keutamaan. Termasuk Angkatan Muda Muhammadiyah yang diharapkan juga ikut menyambut Ramadhan dengan gembira.

Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Depok Sleman kembali mengadakan AMM Depok Mengaji pada Senin (28/3), secara daring. Edisi Maret ini mengambil tema: “Sambut Ramadan dengan Bergembira bersama Cak Nanto dan Mbak Diyah”, dan sesuai dengan tema juga, Sunanto (Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah) dan Diyah Puspitarini (Ketua Umum PP Nasyiatul ‘Aisyiyah) hadir sebagai narasumber.

Mengawali pengajian, Sunanto atau akrab disapa Cak Nanto mengatakan bahwa bulan Ramadan mesti disambut dengan kegembiraan dan kesiapan karena tidak semua orang diberikan peluang oleh Allah untuk melakukan taqarrub ilallah dan tidak banyak orang melakukan muhasabah yang diberikan kesempatan di bulan Ramadan. Maka yang mendapatkan kesempatan ini harus dipergunakan semaksimal mungkin sebagai ikhtiar untuk mensucikan diri dari kealpaan selama 11 bulan.

Adapun, kader Pemuda Muhammadiyah sebagai aktivis yang selalu mengedepankan hubungan habluminallah dan habluminannas, perlu ingat rentetan ibadah penting untuk dikalkulasi dalam rangka menyeimbangkan antara kepentingan individu untuk mendekatkan diri, di saat bersamaan jangan sampai melupakan keluarga, tetangga, dan tanggung jawab.

“Bagi kader muda, relasi antara hubungan keduanya (habluminallah dan habluminannas) harus diseimbangkan dan diatur secara maksimal agar tidak terjebak pada kesalehan individu tapi tidak saleh secara sosial. Begitu pula dengan saleh secara sosial tapi tidak secara individu juga sia-sia,” kata Cak Nanto.

Ia juga memaparkan teladan Rasulullah SAW dalam menyambut bulan Ramadan. Mulai dari senantiasa melakukan amalan Sunnah (tarawih, salat malam, dan sebagainya), mempersiapkan fisik karena puasa merupakan ibadah fisik untuk menahan nafsu dari terbit hingga terbenamnya matahari, dan memperbanyak amalan doa.

Tak hanya itu, terdapat empat spirit Ramadan yang perlu diusung oleh para kader Pemuda Muhammadiyah, antara lain:

  • Spirit Beribadah Malam, diharapkan amalan ibadah malam menjadi kebiasaan dalam diri saat melakukan aktivitas di luar bulan Ramadan, terutama bagi para kader Pemuda
  • Spirit Bersedekah, baik dalam bentuk uang, hidangan berbuka puasa, dan sebagainya. Mengajarkan orang kebiasaan untuk bersedekah harus menjadi spirit bagi kader Pemuda Muhammadiyah, tidak harus banyak yang penting semampunya.
  • Spirit Sabar, bulan Ramadan adalah bulan yang mengajarkan kesabaran, bukan sekadar menahan nafsu. Kader Pemuda melalui spirit ini perlu memanfaatkannya untuk belajar menahan diri dari hasutan syaitan dan orang lain
  • Spirit Kepedulian, bulan Ramadan adalah bulan untuk berbagi kepada sesama atau bulan peduli. Ramadan mesti dimanfaatkan sebagai madrasah kita untuk belajar terhadap hal – hal yang kita lalai. Mungkin saja mampu, namun terkadang soal waktu atau kesempatan jarang. Maka berdoalah kepada Allah agar diberikan kelonggaran hati untuk peduli dengan menyisihkan harta kepada orang yang membutuhkan.

“Segala upaya Kader Pemuda Muhammadiyah di bulan Ramadan harus diniatkan untuk ibadah, bukan gagah – gagahan. Serta berintrospeksi apakah yang sudah dilakukan atau diperbuat sesuai dengan nilai-nilai keagamaan atau hanya nafsu belaka,” tegasnya.

Cak Nanto juga mengajak Kader Pemuda Muhammadiyah untuk menyebarkan syiar – syiar wasathiyah dan menggembirakan dengan upaya, bukan hanya sekadar kata – kata, di samping menjalani ibadah dengan gembira, introspeksi dan perencanaan untuk kebaikan.

Kemudian, Diyah Puspitarini mengutip Kuntowijoyo memaparkan tiga makna Ramadan menurut Muhammadiyah:

Transendensi, Muhammadiyah melalui Ramadan melihat bagaimana sebuah keimanan dan ketaatan umat manusia dimanifestasikan tidak hanya pada ibadah ritualitas saja, tetapi juga ibadah sosial. Terlihat dari terdapat banyaknya takjil, jaburan, takbir keliling, shalat ied di tanah lapang, seakan menegaskan bahwa Muhammadiyah ingin mensyiarkan bulan Ramadan tidak hanya sekadar ritualitas semata tetapi juga momentum yang harusnya umat Islam betul – betul memanfaatkannya dengan sebaik – baiknya.

Liberasi, bulan Ramadan berperan untuk membentuk karakter sebagai hamba, umat manusia, warga negara indonesia yang baik dan kemudian juga semangat ini bisa menjadikan tatanan lingkungan masyarakat lebih baik lagi. Jangan sampai Ramadan menjadi momentum untuk menampilkan karakter yang tidak baik, “misalnya menghamburkan uang, bersedekah hanya untuk pamer, dan masih banyak lagi,” ucap Diyah. Menurutnya, itu bukan karakter angkatan muda Muhammadiyah yang justru harus menonjolkan karakter baik dan menjadi contoh bagi anak muda lainnya.

Humanisasi, Muhammadiyah melalui AMM tidak diragukan lagi sangat humanis dan manusiawi, terutama di saat pandemi. AMM selalu hadir dan memberikan solusi untuk kemudian menolong masyarakat dengan sangat tepat dan sigap. Nilai humanisasi ini tidak sekadar tolong menolong saja, tetapi juga yang paling riil adalah bagaimana agar tidak bersenang – senang di atas penderitaan orang lain. Di pandemi ini, masih banyak yang berjuang untuk kehidupannya, oleh karena itu tidak boleh membanggakan diri dengan suatu hal sementara yang lainnya masih berjuang. Rasa simpati dan empati harus dimunculkan oleh para kader muda Muhammadiyah

Dalam prakteknya, Muhammadiyah merawat Ramadan, tidak hanya sebagai ritualitas. Hal itu terlihat dari PP Muhammadiyah menyelenggarakan Pengajian sejak lama dan selalu mengangkat tema yang universal dan kekinian. Itu dimaksudkan agar warga Muhammadiyah di bulan Ramadan juga melakukan upaya penajaman pengetahuan, keilmuan, dan wawasan, serta harus dipraktekkan di masyarakat. Sehingga, seperti yang diharapkan oleh PP Muhammadiyah, selain ada kajian dan perumusan, tetapi juga bisa ada dokumentasi.

“Mari ramaikan Ramadan dengan sebaik – baiknya dan tak lupa juga Muhammadiyah dengan segala ritualitas aktivitas di bulan Ramadan dan lingkungan sekitar tak bisa dipisahkan,” harapnya. Tentunya, ini menjadi ciri khas karakter Muhammadiyah yang selalu memberikan nilai – nilai sosial bagi masyarakat sekitar. (*)


Wartawan: Dzikril Firmansyah

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here