Akademi Sejarah Muhammadiyah 2026: Ruang Lahirkan Penulis Sejarah Persyarikatan
YOGYAKARTA — Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar Akademi Sejarah Muhammadiyah (ASM) 2026 sebagai upaya merawat sekaligus memperkuat historiografi Persyarikatan melalui tradisi penulisan sejarah. Acara yang berlangsung selama lima hari di UMY Student Dormitory mulai Jumat (10/7) ini diikuti 20 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Peserta berasal dari Universitas Muhammadiyah Palembang, Universitas Muhammadiyah Metro, Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, hingga Universitas Sanata Dharma. Mereka dibekali kemampuan menelusuri, mendokumentasikan, dan menuliskan sejarah Muhammadiyah dari berbagai perspektif.
Ketua MPI Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Muchlas, M.T., mengatakan Akademi Sejarah Muhammadiyah menjadi ruang untuk mengeksplorasi kekayaan sejarah Muhammadiyah yang selama ini belum banyak terdokumentasikan. Menurutnya, perjalanan Persyarikatan yang telah melampaui satu abad menyimpan banyak kisah yang layak diangkat sebagai sumber inspirasi bagi generasi mendatang.
"Perjalanan lebih dari satu abad, Muhammadiyah memiliki kekayaan histori yang sangat luar biasa," ujarnya.
Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) itu menjelaskan, perjalanan panjang Muhammadiyah merupakan anugerah sekaligus tantangan. Kekayaan sejarah tersebut perlu didokumentasikan dan dinarasikan secara ilmiah agar kontribusi Muhammadiyah dalam dakwah Islam berkemajuan serta pembangunan bangsa dapat terus dikenang dan dipelajari.
Karena itu, Muchlas mendorong upaya eksplorasi dan kompilasi sejarah Muhammadiyah secara lebih sistematis agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
"Banyak sekali serpihan sejarah yang perlu dikompilasi dan dieksplorasi. Melalui ASM ini kita bersama-sama melakukan eksplorasi secara besar-besaran," tegasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua MPI Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Wiwied Widyastuti, S.S., M.Hum. menilai Muhammadiyah sudah saatnya memiliki Program Studi Sejarah murni di salah satu Perguruan Tinggi Muhammadiyah-'Aisyiyah (PTMA). Menurutnya, keberadaan program studi tersebut akan menjadi fondasi penting dalam memperdalam kajian sekaligus memperluas perspektif sejarah Muhammadiyah di berbagai daerah.
Wiwied menjelaskan, terdapat sedikitnya dua pendekatan yang dapat dilakukan untuk memperkaya penulisan sejarah Muhammadiyah. Pertama, menggali memori kolektif warga Persyarikatan yang masih kuat di berbagai daerah, terutama mengenai kiprah tokoh-tokoh Muhammadiyah pada periode sejarah tertentu. Kedua, memperkuat metode sejarah lisan dengan merekam pengalaman dan kesaksian para pelaku maupun saksi sejarah.
Menurutnya, selama ini Muhammadiyah memiliki kekayaan cerita yang diwariskan secara lisan, namun belum diimbangi dengan dokumentasi tertulis yang memadai.
"Muhammadiyah itu kaya akan cerita secara lisan, tapi minim dalam segi dokumentasi tulis. Harapannya, tradisi penulisan sejarah Muhammadiyah dapat hidup kembali yang sebelumnya berhenti cukup lama," harapnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow